hero
(Pixabay)

EDITOR : YAYAN SUPRIYANTO

15 Januari 2020, 10:42 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Terbayang enggak sih kalau kita punya mantan yang berkesan. Sangking membekasnya, move on susah dan sering balikan sama mantan. Nah, analogi ini sepertinya mirip seperti manusia dan plastik. Di satu sisi ingin berhenti memakai, tapi mau move on juga susah karena dia masih hadir di banyak lini kehidupan kita manusia. Bercerita soal plastik memang sudah menjadi kisah klasik. 

Gembar gembor pengurangan penggunaannya pun sudah ramai di sejak 1970-an. Sementara di Jakarta, baru saja mengefektifkan peraturan untuk mengurangin pengguaan plastik. Tapi sebenarnya apa sih plastik ini?

 

1. OBAT YANG JADI CANDU

(Pixabay)

Sebelum plastik menjadi barang yang umum digunakan sebagai bahan baku pembungkus aneka barang, orang-orang menggunakan kertas atau paper bag. Era kantong kertas kala itu adalah opsi paling praktis. Namun dilain sisi proses produksi kantong kertas ini menuntut bahan baku yang banyak.

Akibatnya, permintaan kantong kertas terus meningkat. Pohon di hutan-hutan diekstrak kayunya. Pengambilan masif bahan utama kertas ini memunculkan kekhawatiran.

Pasca era Perang Dunia II, alam-alam di Eropa banyak yang hancur. Biaya untuk memproduksi kertas sebagai bahan baku kantong kertas menjadi mahal karena langkanya kayu.

Di era ini, Sten Gustaf Thulin asal Swedia menemukan kantong plastik pada 1959. Perusahaan Thulin yang mematenkan plastik pertama kali ini, berhasil menggeser 80 persen kantong kertas di Benua Eropa pada 1970.

Tidak butuh waktu lama di akhir tahun 80-an kantong plastik sudah mengganti kantong kertas di seluruh dunia. Penemuan Thulin ini secara teoritis lebih kuat dari kertas.

Plastik memiliki molekul yang tidak tembus air dan berpotensi untuk digunakan berkali-kali. Tapi, sayangnya manusia malas. Kantong plastik awalnya hadir sebagai obat, karena berhasil menekan jumlah pembabatan pohon.

Mudahnya memproduksi kantong plastik, dan malasnya manusia mengakibatkan kantong plastik mendominasi tumpukan sampah dunia. Plastik yang seharusnya dipakai secara berulang, beralih jadi barang sekali pakai yang langsung dibuang.

2. INDONESIA PENYUMBANG PLASTIK TERBESAR KEDUA DI DUNIA

(Pixabay)

Pada masa jayanya, optimisme kehadiran plastik sangat berlebihan. Terlebih masa pascaperang, plastik menjadi barang yang dicintai pasar. Tapi akhirnya manusia mulai sadar. 

Mayoritas limbah plastik yang berhasil dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hanya menumpuk dan butuh waktu seribu tahun agar bisa terurai sempurna. Selain itu, limbah yang lolos ke laut pun memenuhi permukaan serta bawah air, bahkan sampai membunuh biota laut.

Pada tahun 1960-an limbah plastik mendapatkan perhatian ekstra, setelah Rachel Carson dalam bukunya yang membahas tentang isu pencemaran lingkungan. Dari sini kesadaran tentang limbah plastik semakin meningkat. 

Dari kesadaran ini beragam pergerakan dalam bentuk hukum dan bukan muncul. Mulai dari plastic waste management, lalu reduce reuse recycle, puasa kantong plastik, dan bahkan plastic ban dilakukan.

Berdasarkan studi Ocean Conservancy dan McKinsey Center for Business and Environment yang dirilis pada Oktober 2015, Indonesia menjadi penyumbang limbah plastik kedua terbesar ke laut di dunia.

3. KEMAGERAN YANG HAKIKI

Beracam-macam riset sudah dilakukan lembaga-lembaga, mulai dari NGO sampai Pemerintah negara-negara membahas soal bahayanya penggunaan plastik yang tidak terkontrol. Korban hewan-hewan laut yang videonya viral, sampai pulau sampah yang mengapung di tengah laut pun sudah disadari kehadirannya. Akan tetapi, kenapa ya kita tau ada konsekuensi tapi plastik masih laris?

Kalau coba dilihat dari teori psikologi sosial , Teori Disonansi Kognitif oleh Leon Festinger (West & Turner, 2008: 137) bisa menjadi kaca mata yang cukup pas. Pada dasarnya, manusia sadar tentang konsekuensi dari plastik. Namun berbagai alasan, hambatan, dan konteks sosial mengakibatkan individu ini tidak mampu bertindak yang seharusnya. Nah berbahayanya, apabila kemalasan untuk bergerak terus dipupuk.

Lama kelamaan ini akan mendorong masyarakat mulai mencari pembenaran dan menganggapnya ini sudah jadi kebiasaan yang mendarah daging. Dengan adanya beragam alasan atau pembenaran yang bisa jadi disepakati masyarakat, sebuah perubahan perilaku penggunaan plastik justru akan terhalang karena adanya pembelaan terhadap perubahan.

Namun sebenarnya sumber masalah dari limbah plastik hari ini bukan dari plastiknya. Profesor Anthony Ryan, seorang profesor kimia fisik di Universitas Sheffield, Inggris mengatakan bukan plastik yang menjadi masalah, tetapi bagaimana orang memilih mengatasi plastik.

Jadi di sini bisa dipahami, pola perilaku kita terhadap penggunaan plastik yang membuat plastik awet ada di tanah kita sampai 1000 tahun ke depan. Nah jadi bisa dibilang, plastik itu sebenarnya berkah untuk manusia, tapi kita yang zalim dalam penggunaannya. Ibarat kalau plastik itu mantan terindah, jangan di benci tapi berdamailah dengan diri, kemudian bijaklah dalam berinteraksi dengannya.

ARIS SATYA | BERBAGAI SUMBER

2

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments