hero
(YouTube/Incipeng WeTrust)

EDITOR : YAYAN SUPRIYANTO

17 Desember 2019, 14:05 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Ratusan orang yang didominasi anak muda berkumpul di sekitara Mall Grand Indonesia sedari pagi pada Jumat 13 Desember 2019. Pemandangan itu mirip dengan suasana hari bebas kendaraan bermotor atau CFD. Ternyata mereka mengantre demi membeli sepatu. Bukan sembarang sepatu, sepatu yang akan mereka beli merupakan sepatu buatan dalam negeri bernama Compass.

Compass mengeluarkan koleksi terbaru Compass untuk Darahku Biru yang yang merupakan hasil dari desain Pot Meets Pop dan sepatu Compass 98 Vintage yang didesain oleh Old Blue Co. Lalu apa yang membuat sepatu merk Compass ini diburu oleh anak muda? Berikut ulasannya:

1. CLASSIC LOCAL FLAVOUR

Tua-tua keladi, makin jadul makin jadi. Merek Compass adalah sepatu lokal asal Bandung. Sepatu lahir dari tangan Gunawan Kahar di tahun 1998. Materialnya menggunakan kain twiil yang tidak setebal kanvas pada body sepatu menjadikan sepatu lebih lentur dan diklaim berkualitas internasional.

Sepatu Compass pernah buntu dalam pengembangannya. Tren itu pun dialami banyak juga produk lokal di tengah gempuran merek luar negeri yang masuk Indonesia sejak awal tahun 2000-an.

Compass kemudian memanfaatkan media sosial untuk melakukan rebranding. Tenaga baru Compass moncer setelah digawangi oleh Aji Handoko. Aji menjadi creative director di perusahaan sepatu asal Bandung ini.

Tak laama setelah Aji bergabung, sneakers Gazelle dikeluarkan. Kemunculan Gazelle bahkan diklaim sanggup menjajarkan sneakers Compass setara dengan Vans. Sepatu ini pun di-review oleh para influencer fashion salah satunya Tirta Mandira Hudhi alias dr.Tirta.

Puncaknya, pada momen Asian Games 2018 muncul tren penggunaan produk lokal. Bagaikan bola salju, popularitas Compass semakin menjadi bagi para pecinta sepatu. Februari 2019, Compass merilis seri kolaborasi dengan seorang influencer, Bryant Notodihardjo.

Kolaborasi ini menghasilkan sepatu Compass dengan seri Bravo 001 yang dirilis saat Jakarta Sneaker Day 2019. Compass X Bryant dengan military style yang hanya di produksi 100 pasang dengan harga Rp398 ribu ludes terjual dalam 90 menit saja.

Tren larisnya brand local ini juga terlihat di Urban Sneaker Society (USS) 2019 di District 8, SCBD, Jakarta pada 8-10 November 2019. Booth Compass yang kala itu di set sedemikian rupa mirip tempat pangkas rambut, ramai!

Di USS Sneakers seri Gazelle model hi-top menjadi salah satu produk Compass yang paling diincar pembeli. Compass kala itu juga melansir seri baru bernama Vintage 98. Harga sneakers ini kala itu mulai dari Rp300 ribuan. Jumlahnya stock yang ready pun terbatas hanya 1.500 pasang.

2. SEPATU GAIB

Istilah ini lahir di Twitter, karena Compass disandingkan dengan ponsel merek Xiaomi yang sering sold out setelah rilis. Well, sepatu Compass ini berproduksi maksimal dalam kisaran 3000 pasang sepatu per bulan.

Pembatasan jumlah produksi ini dilakukan agar pengerjaannya tidak diburu-buru meskipun produksi dalam jumlah banyak. Disokong popularitas, rasa lokal, yang dibalut dengan jumlah terbatas, menjadikan Compass sebagai barang langka di toko ataupun forum penjualan daring.

Tidak hanya seri terbatasnya saja, bahkan seri generalnya pun laris. Karenanya, sepatu yang awalnya dirilis resmi Compass dengan harga Rp200 ribu sampai Rp300 ribuan, bisa berharga mahal saat dijual lagi.

3. BUKAN SEKEDAR SEPATU

Compass itu bukan cuma sepatu, tapi jadi ikon identitas. Satu dari banyak brand yang jadi ikon identitas kelas sosial ekonomi ataupun bagian kelompok sneakerhead eksklusif. Tren menjadikan sebuah barang bisa berubah, dari sebuah objek menjadi sebuah simbol.

Dalam teori klasik sosiolog Marx Webber berpendapat jika keberhasilan penggunaan barang simbolik ini akan meningkatkan prestis dan solidaritas kelompok. Selain itu sosiolog Georg Simmel, melihat jika fashion adalah ruang untuk individu masuk ke dalam bagian kelompok tertentu.

Berangkat dari situ, popularitas dan mahalnya sepatu Compass ini merupakan mencirikan tren fashion yang memberikan simbol eksklusifitas bagi pemiliknya. Dalam perjalannya mode sepatu Compass tadinya sekedar usable menjadi fashionable.

Kesan #IndoPride dan simbol eksklusif yang disebar oleh influencer pun ternyata mujarab. Apalagi bagi para pemuda pemudi kelas menengah yang doyan menunjukkan dimana mereka berada di masyarakat.

Ditambah lagi, gaya Presiden RI Joko Widodo yang doyan outfit brand lokal yang mendorong brand lokal seperti Compass disadari kehadirannya. Rasa bangga tentu saja muncul. Apalagi saat komunitas dan media social memberikan pengakuan terhadap pemilik. Secara tidak langsung Compass sebuah sepatu yang menjadi ikon identitas.

ARIS SATYA

16

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments