hero
(Pixabay)

EDITOR : YAYAN SUPRIYANTO

9 Desember 2019, 15:05 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Sadar atau enggak seiring dengan perkembangan teknologi sekarang, ada dorongan untuk sharing apapun di media sosial. Mulai dari sekedar kata-kata, gambar, atau video soal apa yang kita alami. Pernah terpikir enggak sih kenapa kita merasakan dorongan itu? Ini beberapa ulasannya:

1. LIKES

(Pixabay)

Kamu dapat kabar baik, saking senangnya kamu lalu langsung ambil handphone dan update “Thank God, I’m happy” di Instastory. Tidak lama, DM (direct message) memenuhi kotak pesan dari teman-teman yang bertanya ada apa? Kamu menjawab dengan antusias dan semua merespon dengan jawaban “Congrats ya”. Well, di saat itu ada sebuah dopamine rush yang terjadi di otak kamu loh.

Dopamine sendiri adalah senyawa kimiawi di otak yang berperan untuk menyampaikan rangsangan ke seluruh tubuh. Hormon ini memengaruhi berbagai aktivitas manusia, mulai dari kemampuan mengingat hingga menggerakkan anggota tubuh. Hormon dopamin juga disebut sebagai hormon pengendali emosi.

Dalam publikasi riset psycchologicalscience.org, ketika orang mendapatkan hadiah ataupun makanan kesukaan, reaksi kimia di otaknya mirip ketika dia mendapatkan respon postif di medsos. Reaksi ini nagih ternyata!  Saking enaknya, banyak juga yang candu dengan rasa ini.

Likes ini pun berpengaruh meningkatkan atau menjatuhkan mood seseorang. Beberapa kasus ketika likes kurang dari yang di harapkan, ada orang yang sampai mengalami gangguan kepercayaan diri.

2. PENGAKUAN

(Pixabay)

Secara sosiologis rasa pengakuan dari orang lain di media sosial memenuhi keinginan dasar kita. Pengakuan yang disederhanakan dengan bentuk likes ataupun komentar “Cantik banget”, menyebabkan banyak orang yang berlomba-lomba mengejarnya. Terutama dunia nyata sering penuh dengan orang cuek dan tidak terlalu peduli dengan hidupmu.

Well, pengakuan yang dihidangkan media sosial Instagram misalnya berhasil memenuhi keinginan para individu. Banyak selebgram dan influencer yang mendapatkan dan jadi magnet. Banyak pengikutnya juga ingin merasakan karena tahu itu enak!

3. DEMI KONTEN

(Pixabay)

Salah satu langkah awal cara menjaring likes adalah menambah followers. Well, beragam cara ditempuh untuk menjaring followers. Mulai dari spam “Kak folback dong” ke artis atau influencer atau membuat konten yang laku di jagat maya.

Canggihnya kamera smartphone, ditambah banyaknya aplikasi edit foto semakin memudahkan orang untuk melakukan aktualisasi diri di media sosial. Sayangnya, banyak yang memalsukan citra dirinya, demi menggaet likes dan followers.

Karena fokus pada medsos, banyak yang memilih mengorbankan dunia nyata. Mulai dari berpura-pura bahagia dalam sebuah foto atau video, bahkan berhutang demi posting di feed Instagram dengan liburan ala jetset.

Dalam Riset Davis K. di tahun 2012 dengan judul “Tensions of identity in a networked era: Young people’s perspectives on the risks and rewards of online self-expression” yang dipublikasikan New Media & Society, representasi orang-orang yang ditampilkan didunia maya berbeda dengan berperilakunya di dunia nyata.

Hal ini mendorong terbentuknya citra diri yang negatif karena orang orang tidak menerima dirinya yang sebenarnya. Dampaknya sering ada orang yang frustasi dengan dirinya sendiri penyebabnya jumlah likes, follower, hingga subscriber yang dirasa kurang! Padahal hidup bukan hanya sekedar hitung-hitungan algoritma!

ARIS SATYA

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments