hero
(ANTARA)

EDITOR : FEBRY ARIFMAWAN

22 Januari 2019, 19:35 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Rencana Presiden Joko Widodo membebaskan terpidana kasus terorisme Abu Bakar Baasyir terus menuai polemik. Ditemui di Istana Negara, Presiden Jokowi kembali menegaskan, meski dengan alasan kemanusiaan pembebasan Baasyir mesti melalui mekanisme hukum yang berlaku yakni pembebasan bersyarat. 

“Tetapi kita juga ada sistem hukum. Ada mekanisme hukum, ini namanya pembebasan bersyarat bukan murni. Ya syaratnya harus dipenuhi, saya enggak mungkin nabrak. Contoh setia pada Pancasila NKRI itu basic. Sangat prinsip. Jadi jelas,” lanjut mantan Wali Kota Solo ini.

Presiden Joko Widodo menjawab pertanyaan terkait Abu Bakar Ba'asyir di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (22/1/2019). Presiden menegaskan rencana pembebasan Abu Bakar Ba'asyir dilakukan melalui opsi bebas bersyarat, yang berarti Abu Bakar Baasyir harus menyatakan bersedia setia pada NKRI dan mengakui ideologi Pancasila. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Jokowi kini menunggu hasil kajian yang saat ini dilakukan oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) dan dikoordinasikan dengan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan HAM Wiranto. "Semua masih kajian di Kemenkumham dan kami serahkan juga kepada keluarga besar Ustaz Abu Bakar Ba'asyir," lanjutnya. 

Lebih lanjut Jokowi kembali menegaskan tidak ada motif atau latar belakang lain selain kemanusiaan di balik rencana pembebasan Ba'asyir. “Kan sudah saya sampaikan bahwa karena kemanusiaan dan Ustaz Baasyir sudah sepuh, kesehatannya sering terganggu. Bayangkan kalau sebagai anak melihat orang tua kita sakit-sakitan. Itu yang saya sampaikan secara kemanusiaan,” kata Jokowi.

Kuasa hukum capres Joko Widodo dan Ma'ruf Amin, Yusril Ihza Mahendra (kanan) mengunjungi narapidana kasus terorisme Abu Bakar Baasyir (kiri) di Lapas Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat , Jumat (18/1/2019). (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)

Ba’asyir merupakan narapidana kasus terorisme yang divonis hukuman 15 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada tahun 2011 lalu. Ia terbukti terlibat dalam pelatihan dan pendanaan tindak pidana terorisme. Sejak 2016, kondisi kesehatannya terus memburuk. Ia bahkan sempat dipindahkan dari LP Nusakambangan ke Lapas Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat.

WILI AZHARI | REZA LANGITAN 

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments