hero

EDITOR : YAYAN SUPRIYANTO

14 Desember 2018, 11:40 WIB

JEPANG

Masyarakat Negeri Sakura dikenal sebagai orang-orang yang tertib disiplin. Hal ini juga tercermin dalam perilaku mereka saat menggunakan kendaraan umum. Setiap harinya di stasiun atau terminal meski mereka bergerak cepat, namun warga menghormati hak orang lain dengan tidak nyerobot saat mengantre.

Meski warganya sudah menunjukkan sikap positif, para pengelola transportasi publik selalu mengupayakan agar ketertiban ini tetap terjaga. Apalagi bagi mereka kenyamanan dan keselamatan adalah yang utama. Karena itu sejumlah sosialisasi dilakukan dari dalam stasiun. 

(NET/Aulia Kurnia)

Ada tanda-tanda yang menempel pada lantai dan dinding stasiun, baik berupa tanda panah hingga marka. Misalnya pada tanda panah turun dan naik pada tangga. Jarang ada warga yang melanggar aturan tersebut. 

Umumnya yang sering tidak sabaran adalah pendatang atau wisatawan yang belum mengetahui aturan. Hampir di setiap stasiun, pusat informasi selalu mengumumkan banyak hal. 

Mulai dari kedatangan, keberangkatan hingga mengingatkan pengguna untuk antre. Tak cuma lewat pengeras suara, informasi juga dipampang dalam bentuk poster-poster kampanye berperilaku positif yang tersebar di penjuru stasiun hingga di dalam badan gerbong kereta.

(NET/Aulia Kurnia)

Pesan-pesan yang disampaikan pun beragam, bahkan ada yang unik. Seperti kampanye Gerakan Bantuan dan Dukungan. Gerakan yang dimulai sejak tahun 2016 ini bertujuan membantu dan mendukung orang-orang yang membutuhkan pertolongan. 

Mulai dari orang tua, ibu hamil, penyandang disabilitas hingga orang-orang asing yang tidak bisa berbahasa Jepang. Ada pula kampanye anti kekerasan terhadap petugas kererta. Faktanya, petugas stasiun dan kereta sering menerima perlakuan kurang menyenangkan dari pengguna, bahkan angkanya semakin tahun semakin meningkat.

Melihat pentingnya pesan yang disampaikan, operator di Jepang pun merasa perlu mengkampanyekan pesan ini lebih luas. Mereka tak segan untuk turun ke Sekolah Dasar untuk menyosialisasikan perilaku di kereta hingga hal-hal lain yang perlu siswa tahu. 

(NET/Aulia Kurnia)

Informasi yang disampaikan pun dikemas menarik agar anak-anak tertarik. Lebih jauh lagi, mereka juga melibatkan siswa-siswi SD untuk berkreasi dan membuat poster-poster kampanye. Seperti yang dilakukan operator subway di Yokohama. Mereka bahkan menggelar kompetisi membuat poster se-Yokohama untuk siswa-siswi SD. Hasilnya bikin gema!

Perilaku positif ini menarik perhatian perwakilan MRT Jakarta yang menggelar studi banding ke negeri sakura di akhir bulan November 2018 lalu. Corporate Secretary Tubagus Hikmatullah sebut ia terinspirasi untuk melibatkan partisipasi publik khususnya anak-anak.

(NET/Aulia Kurnia)

“Banyak yang bisa kita tiru, khsusunya yang melibatkan anak kecil. Seperti di Stasiun Yokohama, bagaimana keterlibatan anak-anak dalam sosialisasi," ujarnya.

Melalui sosialisasi partisipatif ini diharapkan bisa mengedukasi sejak dini tentang pentingnya peduli terhadap sesama, memiliki jiwa sosial yang tinggi dan tentu saja, teratur dalam menggunakan transportasi publik.

AULIA KURNIA

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments