hero
(ANTARA)

EDITOR : FEBRY ARIFMAWAN

8 November 2018, 15:50 WIB

INDONESIA

Lion Air terus-menerus menjadi sorotan lebih dari sepekan terakhir. Belum selesai dengan evakuasi pesawatnya yang jatuh di perairan Tanjung Pakis Karawang, publik kembali dikejutkan dengan insiden lain. Kini giliran pesawat Lion Air JT-633 rute Bengkulu-Jakarta yang bikin heboh. Pesawat ini menyenggol tiang koordinat di Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu, Rabu malam. 

Pesawat yang sedianya akan membawa 143 penumpang dari Bengkulu ke Jakarta ini pun gagal terbang karena sayap kirinya rusak. Kementerian Perhubungan menyatakan bahwa pilot dan pesawat Lion Air JT 633 kini telah di-grounded untuk kepentingan investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). 

Pendiri Lion Air Group, Rusdi Kirana. (INSTAGRAM @rusdi.kirana)

Berangkat dari beberapa insiden dan musibah yang melibatkan maskapai berlambang singa merah, kini nama pendiri Lion Air Group Rusdi Kirana, mulai banyak disorot masyarakat. Tak tanggung-tanggung, nama Rusdi bahkan disebut berulang kali oleh keluarga korban pesawat Lion Air JT-610 yang jatuh di perairan Tanjung Pakis Karawang. Rusdi kebetulan ikut menghadiri konferensi pers tentang evakuasi Lion Air, di Ibis Hotel Cawang, Jakarta Timur, Senin 5 November 2018. 

Dalam konferensi pers ini hadir pula Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kepala Basarnas Marsekal Madya M Syaugi, dan Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono, serta perwakilan dari TNI, DVI Polri, dan Jasa Raharja. Mereka memaparkan perkembangan terakhir proses evakuasi pesawat Lion Air kepada keluarga korban dan sejumlah awak media termasuk Anjana Demira dan Jordie Yonathan dari NET.

Pendiri Lion Air Rusdi Kirana (kanan) didampingi Presiden Direktur Lion Air Edward Sirait (tengah) dan Managing Director Lion Air Daniel Putut Kuncoro Adi (kiri) berdiri menghadap keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 saat berlangsungnya sesi konferensi pers di Jakarta, Senin (5/11/2018). (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Rusdi Kirana hadir ditemani Dirut Lion Air Edward Sirait dan jajaran direksi maskapai penerbangan berlambang singa tersebut. Mereka duduk di barisan paling depan membelakangi ratusan keluarga penumpang. Setelah seluruh instansi selesai menjelaskan proses evakuasi, tiba giliran keluarga korban untuk menyampaikan pendapat. 

Luapan kekecewaan pun menyeruak dari beberapa orang keluarga korban. "Saya ucapkan terimakasih dan apresiasi untuk semua jajaran yang telah mengevakuasi dan bekerja penuh, tapi tidak untuk Lion Air. Pak Rusdi Kirana saya anggap gagal," kata Ayahanda Johan Ramadan, salah seorang penumpang Lion Air yang jatuh di Tanjung Pakis, Karawang.

BACA JUGA:
Roda dan Turbin Pesawat Lion Air JT610 Ditemukan
Tim Marinir TNI AL dan Penyelam NET Temukan Puing Badan Pesawat Lion Air di Dasar Laut
Kisah Pencarian ke Dasar Perairan

Keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 menangis saat berlangsungnya sesi konferensi pers di Jakarta, Senin (5/11/2018). Dalam kesempatan itu sejumlah pihak terkait memaparkan perkembangan proses evakuasi korban dan pesawat Lion Air JT 610. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

"Dengan rasa hormat, pak. Saya mohon Pak Rusdi Kirana berdiri. Saya baru lihat pertama kali ini Pak Rusdi," imbuhnya. Rusdi Kirana menuruti permintaan ini dengan beranjak dari kursinya sembari menghadap ke arah ratusan keluarga korban. Duta Besar RI untuk Malaysia itu pun kemudian membungkukkan badan sebagai tanda permintaan maaf.

Di tengah isak tangis kekecewaan keluarga korban, Rusdi tak mengeluarkan sepatah kata pun. Selama sesi curah pendapat dari keluarga penumpang, Rusdi terlihat lebih banyak duduk dan menghindari sorotan awak media. 

Keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 memberikan pertanyaan saat berlangsungnya sesi konferensi pers di Jakarta, Senin (5/11/2018). (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Rusdi Kirana merupakan sosok sentral di Lion Air Group. Rusdi dikenal sebagai sosok yang ulet. Sebelum mendirikan Lion Air Group, Rusdi memulai karirnya sebagai penjual mesin tik dan sempat menjadi penjual bahan kue. Rusdi kemudian menjalankan sebuah perusahaan yang membantu para pelancong mengurus paspor dan visa. Usaha yang mengantarnya mendirikan agen perjalanan bernama Lion Tour. Di masa awal bisnisnya, Rusdi bahkan ikut menyambut para penumpang di gerbang kedatangan bandara.

Menyadari munculnya tiket online akan membuat mereka terdepak dari bisnis itu, dua bersaudara tersebut memutuskan untuk mengumpulkan tabungan dan membeli pesawat pertama mereka. Rusdi dan Kusnan kemudian membeli pesawat Boeing 737-300. Sejak 1999 itulah, Rusdi dan Kusnan mulai membangun Lion Air Group dengan modal US$ 1,2 juta (sekitar Rp 12 miliar). Untuk menghemat uang, Rusdi sampai merancang sendiri logo maskapai dan seragam pramugari. 

Pesawat terbang jenis Boeing 737 milik maskapai penerbangan Lion Air sebelum terbang di Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (31/10/2018). (ANTARA FOTO/Aji Styawan)

Dalam website perusahaannya, Lion Air disebut mulai beroperasi pertama kali pada tanggal 30 Juni 2000, dengan melayani rute penerbangan dari Jakarta menuju Pontianak menggunakan pesawat dengan tipe Boeing 737-200 yang pada saat itu berjumlah 2 unit. Keuletan Rusdi membawa Lion Air terus berkembang. Lion Air pun mendeklarasikan diri sebagai maskapai penerbangan berbiaya rendah (Low Cost Carrier) dengan mengusung slogan “We Make People Fly”. Melalui tagline ini, Lion Air mencoba mewujudkan dan merubah stigma masyarakat bahwa siapapun bisa terbang bersama Lion Air. 

Di website perusahaannya pula, Lion Air mengklaim telah terbang ke-183 rute penerbangan yang terbagi dalam rute domestik yang tersebar ke seluruh penjuru Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dan rute Internasional menuju sejumlah negara seperti, Singapore, Malaysia, Saudi Arabia dan China. Lion Air juga mengaku telah memiliki 112 armada pesawat yang terbagi dalam beberapa tipe seperti Boeing 747-400, Boeing 737-800, Boeing 737-900 ER, dan Airbus A330-300. 

Rusdi Kirana (keempat dari kiri) bersama kru Lion Air. (INSTAGRAM @rusdi.kirana)

Pada tahun 2014, Rusdi merambah dunia politik dengan menjadi wakil ketua Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Rusdi sempat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Ia kemudian diangkat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia pada tahun 2017. Sementara itu, di balik kesuksesan ekspansi bisnisnya, Lion Air juga mencatatkan sejumlah insiden yang membahayakan keselamatan penumpangnya. Dari tahun 2002 hingga 2013, setidaknya ada 19 insiden yang melibatkan Lion Air di Indonesia. 

Pada 14 Januari 2002, Lion Air Flight 386 jatuh setelah mencoba lepas landas, untungnya semua penumpangnya selamat. Pada 30 November 2004, Lion Air Flight 538 mengalami crash di Surakarta dan menewaskan 25 penumpang. Pada 4 Maret 2006, Lion Air Flight 8987 tergelincir dari landasan pacu, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Sementara, pada 13 April 2013, Lion Air Flight 907 melampaui pendaratan dan jatuh ke pantai di dekat Bandara Ngurah Rai Bali. Semua penumpang dan kru berhasil dievakuasi.

Personel Basarnas mengamankan serpihan-serpihan pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkalpinang yang jatuh di laut utara Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2018). (ANTARA FOTO/Basarnas)

Akibat banyaknya kecelakaan tersebut, Lion Air sempat dilarang terbang ke Amerika Serikat dan Uni Eropa pada 2007, tetapi kedua larangan itu kemudian dicabut. Di tengah semua kontroversi mengenai sepak terjang bisnisnya, Lion Air Group terus melenggang. Lion Air Group bahkan memiliki beberapa maskapai dengan membidik berbagai segmen pasar. 

Mulai dari Wings Air yang dikhususkan sebagai maskapai penerbangan domestik murah. Batik Air yang diposisikan sebagai maskapai penerbangan untuk penumpang kelas menengah. Ada pula Lion Bizjet yang menyediakan charter jet pribadi 24 jam. Selain itu, Lion Air Group juga mempunyai Malindo Air yang berbasis di Malaysia. Lalu, Thai Lion Air yang berbasis di Thailand. Lion Air Group juga mengelola bisnis pengiriman barang yang disebut Lion Parcel, dan bisnis perhotelan Lion Hotel and Plaza. 

Rusdi Kirana menghadiri salah satu acara Lion Air Group. (INSTAGRAM @rusdi.kirana)

Sayang, pencapaian spektakuler Lion Air Group ini tak diimbangi dengan standar keselamatan yang baik. Hal ini dikatakan oleh mantan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal (Purn) Chappy Hakim. “Buruknya manajemen maskapai ujungnya adalah accident (kecelakaan),” kata Chappy kepada NET, Rabu 31 Oktober 2018. “Kecelakaan terjadinya karena ada sesuatu yang terabaikan,” lanjutnya. 

Chappy pun memberikan contoh yang mengindikasikan ketidakberesan dalam manajemen Lion Air. “Ada yang salah dengan manajemen Lion Air, salah satu indikasinya sering delay,” kata mantan Ketua Tim Nasional Evaluasi Keselamatan dan Keamanan Transportasi ini. 

Rusdi Kirana saat menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Malaysia. (INSTAGRAM @rusdi.kirana)

Rusdi Kirana sendiri menyatakan maskapainya siap mendapatkan sanksi jika terbukti lalai dalam menjaga standar keselamatan penerbangannya. Rusdi juga menyatakan bela sungkawa dan kesedihan yang mendalam terhadap musibah jatuhnya pesawat Lion Air JT-610. “Saya merasakan duka yang mendalam sama seperti apa yang juga dirasakan oleh para keluarga Korban. Komitmen kami adalah untuk memfasilitasi segala kebutuhan para keluarga korban. hingga penyelidikan insiden ini telah selesai. Hasil penyelidikan insiden oleh pihak yang berwenang akan menjadi evaluasi kedepannya,” tulis Rusdi di akun instagramnya @rusdi.kirana. 

Di luar semua kontroversinya, Majalah Forbes telah menempatkan Rusdi Kirana dan Kusnan di peringkat ke-33 dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia tahun 2017 lalu. Total kekayaannya diperkirakan mencapai US$ 970 juta. Seperti laju pesawat, bisnis Rusdi melesat, terbang tinggi. Tapi sayang, pesawatnya kini jatuh lagi.  

TIM LIPUTAN | ABC.NET.AU | FORBES.COM

3

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments