hero
(NET/Nasruddin Zaelany)

EDITOR : FEBRY ARIFMAWAN

20 April 2018, 06:00 WIB

SULAWESI SELATAN, INDONESIA

Kontroversi rencana pernikahan dua bocah Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Bantaeng, Sulawesi Selatan, sebenarnya puncak dari fenomena gunung es tingginya angka pernikahan dini di Indonesia. Menurut Pusat Kajian Gender dan Seksualitas Universitas Indonesia tahun 2015, angka perkawinan dini di Indonesia berada di peringkat kedua teratas di Asia Tenggara. Sekitar 2 juta dari 7,3 perempuan Indonesia berusia di bawah 15 tahun sudah menikah dan putus sekolah. Jumlah itu diperkirakan naik menjadi 3 juta orang pada 2030.

Fitra (14 tahun) dan Syamsuddin (15 tahun), pasangan belia dari Bantaeng akan menikah. (NET/Nasruddin Zaelany)

Fenomena ini mencemaskan berbagai kalangan, termasuk dari dunia kedokteran. Salah satunya Dr. Fransisca Handy, Sp.A dari Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (UPH). Dokter Sisca, demikian ia biasa disapa, pernah ikut mengajukan uji materi (judicial review) Undang-Undang (UU) Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan ke Mahkamah Konstitusi 2014 lalu. Dalam UU itu disebut batasan minimal usia pernikahan. Pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan menyebut bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita mencapai usia 16 tahun.

Dokter Sisca ikut mengusulkan dalam uji materi tersebut agar batas usia perkawinan untuk perempuan dinaikkan dari 16 tahun ke 18 tahun. Alasannya untuk menekan tingginya angka pernikahan dini khususnya perempuan. Namun Mahkamah Konstitusi menolak uji materi ini.

BACA JUGA:
Nikah Muda, Fun or Not?
Kontroversi Anak SMP Bantaeng Kebelet Nikah, Begini Kronologinya
Pemerintah Kabupaten Bantaeng Menyikapi Bocah SMP Kebelet Nikah

Pernikahan dini mempunyai dampak besar secara biologis dan psikologis. Berikut ini lima dampak pernikahan dini yang diuraikan oleh Dr. Fransisca Handy, Sp.A kepada NET.Z, Kamis 19 April 2018. 

1Kesehatan Mental

Pernikahan dini berpotensi meningkatkan angka depresi pada sang anak yang menikah. Umumnya sang anak belum siap secara psikologis terhadap segala macam konsekuensi dari sebuah perkawinan. Apalagi dalam kasus Syamsuddin dan Fitra, keduanya sama-sama belum dewasa, maka kemungkinan konflik dalam rumah tangga bisa lebih besar. 

Fitra (kiri) remaja yang tinggal di Kelurahan Letta, Kecamatan Bantaeng. (NET/Nasruddin Zaelany)

 

2Infeksi Menular Seksual

Organ reproduksi anak-anak sesungguhnya belum siap untuk aktifitas seksual, mengingat mukosa (lapisan terluar) organnya belum sempurna. Akibatnya infeksi lebih mudah terjadi karena kuman lebih gampang masuk. Paling tinggi kemungkinannya adalah Human Papiloma Virus (HPV) yang merupakan penyebab kanker leher rahim. 

"Semakin muda semakin rentan tertular," ujar Dokter Sisca. "Hepatitis B dan HIV faktor resikonya dipicu oleh aktifitas seksual yang dilakukan di bawah usia 20 tahun," lanjutnya.

Syamsuddin (15 tahun) dari Desa Bonto Tiro, Kecamatan Sinoa, Bantaeng. (NET/Nasruddin Zaelany)

 

3Kehamilan Beresiko

Hamil di usia belia memunculkan resiko anemia dalam kehamilan. Belum lagi tekanan darah tinggi pada ibu hamil (preeklamsi).  "Hamil di usia anak lebih mudah terjangkit TBC, malaria, dan HIV. Jika hal ini terjadi bisa mempengaruhi kualitas janin," kata Dokter Sisca.

Syamsuddin dan Fitra saat berada di Kantor Kementerian Agama Bantaeng. (NET/Nasruddin Zaelany)

 

4Persalinan Beresiko

Menjadi ibu di usia dini pun menghadirkan berbagai konsekuensi mengingat masa anak dan remaja merupakan masa pertumbuhan. Dikhawatirkan kondisi fisik ibu yang sedang tumbuh dan berkembang ini menjadikannya terpaksa “berebut” nutrisi dengan janin. Tak heran, berat badan bayi yang dilahirkan bisa di bawah normal. 

Belum lagi rawannya perdarahan saat persalinan. "Obstruksi atau bayi enggak bisa lewat ke jalan lahir, atau tertahan itu kemungkinannya besar dan itu bisa mengancam jiwa ibu," ujar Dokter Sisca.

Syamsuddin telah menggelar pesta pernikahan 1 Maret 2018. (NET/Nasruddin Zaelany)

 

5Pengasuhan Anak yang Kurang Baik

Perkawinan anak menghalangi tumbuh kembang sang bocah yang menikah. Menikah membuat sang anak mengalami keterbatasan saat ia harus bersosialisasi. Sang anak pun bisa kehilangan banyak waktu bermain.

Padahal massa otak manusia berkembang pada rentang umur 10 sampai 24 tahun. Periode tersebut merupakan masa emas untuk meningkatkan efisiensi kerja otak. Jika sang anak hobinya terasah, cita-citanya terkejar maka akan membentuk perilaku positif. Beda halnya jika sang anak sudah disibukkan dengan urusan rumah tangga maka kesempatannya mengembangkan diri jadi berkurang. 

Fitra (14 tahun) anak ke-2 dari 3 bersaudara. (NET/Nasruddin Zaelany)

Perhatian sudah seharusnya tak hanya menyorot Syamsuddin dan Fitra di Bantaeng, tapi juga kepedulian terhadap tingginya angka pernikahan dini di Indonesia yang harus dipecahkan oleh pemerintah dan masyarakat.

TIM LIPUTAN

4

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments