Amerika Serikat menuding Rusia memiliki drone bawah laut yang bisa membawa hulu ledak nuklir berskala besar. Kecurigaan ini telah dipendam lama sejak tahun 2016. Melalui laporan tahunan bertajuk Pentagon's Nuclear Posture Review, Negeri Paman Sam terang-terangan mengajukan keberatan atas pencapaian musuh bebuyutannya itu.

Dilansir Daily Mail, laporan ini adalah peringatan bagi Rusia yang terus mengembangkan cadangan senjata nuklirnya. Di saat bersamaan Amerika Serikat terus mengurangi intensitas pengembangan nuklirnya.

Dikutip dari Newsweek, drone bawah laut Rusia sanggup membawa hulu ledak berbobot 100 megaton. Kapasitas tersebut adalah yang paling besar di antara senjata-senjat nuklir populer di dunia.

Laporan yang dibuat oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat itu pertama kali dipublikasikan oleh Huffington Post. Laporan itu dilengkapi dengan info grafis yang membandingkan kekuatan nuklir antara empat negara produsen senjata nuklir yakni: Amerika Serikat, Cina, Rusia, dan Korea Utara.

Di dalam laporan tertera 5 senjata nuklir berbasis laut terbaru milik Rusia. Salah satunya merupakan drone nuklir raksasa bernam Status-6 AUV. 

Keberadaan senjata mematikan ini pertama kali diketahui 27 November 2016. Saat itu, salah satu angkatan perang AS mendeteksi peluncuran nuklir dari sebuah kapal selam kelas Sarov milik Rusia. (THE SUN)

Senjata itu dikatakan sanggup menjangkau wilayah Pantai Timur Amerika Serikat. Ia memiliki daya jangkau 9900 kilometer dengan kecepatan bermanuver hingga 56 knot. 

Keberadaan senjata mematikan ini pertama kali diketahui 27 November 2016. Saat itu, salah satu angkatan perang AS mendeteksi peluncuran nuklir dari sebuah kapal selam kelas Sarov milik Rusia.

Selain menyoal drone bawah laut, laporan AS juga mempertanyakan komitmen Rusia dalam mengurangi kapasitas nuklirnya. Menurutnya, upaya Rusia mengurangi nuklir hanya tertulis dalam strategi. Diluar itu mereka terus menyimpan dan memodernkan senjata-senjatanya.

Selain memodernkan sistem nuklir peninggalan Uni Soviet. Pemerintahan Putin juga dituding terus mengembangkan hulu ledak dan wahana peluncur.

Usaha tersebut tertuang dalam Rusian Nuclear Triad yang terdiri atas pembom strategis, rudal berbais laut, dan rudal berbasis darat. Turut pula dikembangkan sistem persenjataan antarbenua, seperti peluncur hipersonik antarbenua dan torpedo bawah laut bertenaga nuklir.

Sebelum AS, pada bulan lalu NATO telah melayangkan protes atas gaya slonong boy yang diperlihatkan Rusia. Mereka mengaku prihatin dengan keberadaan rudal jelajah yang dikhawatirkan bisa digunakan sewaktu-waktu untuk menghantam daratan Eropa. 

NATO berpendapat, temuan AS terhadap senjata-senjata nuklir Rusia adalah bukti nyata: Rusia telah mengingkari perjanjian nuklir kelas menengah yang disepakatinya pada tahun 1987 silam.

NEWSWEEK | DAILY MAIL

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments