hero

EDITOR : YAYAN SUPRIYANTO

22 September 2017, 06:05 WIB

JAKARTA, INDONESIA

Ada banyak cara untuk menunjukkan kepedulian kita pada lingkungan. Seperti yang dilakukan oleh Sam Benceghib dan Gary Bencheghib, dua bersaudara yang tumbuh dan besar di Bali. Meski bukan orang asli Indonesia, mereka ingin mengajak orang-orang untuk mengetahui dampak limbah plastik bagi kehidupan kita.

Melalui ekspedisi #PlasticBottleCitarum, mereka menelusuri Sungai Citarum, Jawa Barat, dengan  menggunakan kayak dari botol plastik. Pemilihan Sungai Citarum karena merupakan sungai terbesar dan terpanjang di Jawa Barat. Aliran airnya banyak dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kebutuhan seperti mencuci, mandi dan masak.

"Kami akan memperlihatkan sesuatu mengejutkan dari sungai yang sangat tercemar. Namun tantangan sebenarnya bagaimana agar kita tidak jatuh ke dalam air beracun," ujar Sam dan Gary seperti dikutip dari Make A Change World pada 20 September 2017.

Di sisi lain, sungai ini jadi sasaran pembuangan limbah, baik limbah industri maupun rumah tangga. Setidaknya ada 800 pabrik yang membuang limbah sisa produksinya ke Sungai Citarum. Sementara limbah rumah tangga yang kebanyakan berupa plastik, botol dan sampah tidak terurai lainnya, berasal dari masyarakat yang tinggal di bantaran sungai.

Nah, untuk mengingatkan masyarakat akan bahaya plastik, dua bersaudara ini membuat dua perahu kayak dari 300 botol plastik. Botol-botol ini dikumpulkan dari bank sampah dan sekolah-sekolah, lewat gerakan Eco-Bali. Selain botol, perahu ini juga memanfaatkan bambu, tali dan jaring bekas.

 

Anything is possible if you dream big enough! #PlasticBottleCitarum

A post shared by Gary Bencheghib (@garybencheghib) on

Tujuannya untuk memanfaatkan barang-barang yang ada sekaligus menerapkan prinsip reuse dan recycle. Penggunaan benda-benda ini diharapkan bisa mengingatkan masyarakat kalau barang-barang bekas juga bisa bernilai lebih. Selama ‘berlayar’ di Sungai Citarum, Sam dan Gary menemui banyak hal, seperti ampah, bangkai.

Mereka juga harus tahan dengan aroma enggak sedap yang muncul dari sampah di dalam sungai. Tapi menurut kedua remaja ini, tantangan terbesar mereka adalah untuk tidak jatuh ke aliran sungai yang penuh limbah beracun. Dalam ekspedisinya, Sam dan Garry juga bertemu banyak masyarakat di bantaran sungai.

Mereka mengaku kaget karena orang-orang ini sanggup tinggal di dekat aliran sungai yang mendapat predikat sungai paling tercemar sedunia ini. Lewat ekspedisi yang digerakkan melalui ‘Make a Change World’ ini, Sam dan Gary berharap orang-orang dapat lebih peduli dengan lingkungan serta bahaya limbah plastik.

Dengan tidak membuang sampah ke sungai, berarti kita ikut menghindari terbawanya sampah ke laut. Dan ini berarti, kita ikut menjaga kelestarian lingkungan. Apalagi sungai dan laut memiliki banyak potensi yang bernilai penting bagi kehidupan manusia.

Setelah dua minggu menyusuri Citarum, Gary berhasil sampai di pesisir Laut Jawa. Selain membersihkan limbah plastik di aliran sungai yang dilewati, cowok ini juga mendokumentasikan perjalanannya.

Hasil ekspedisi ini kemudian disampaikan ke Kementerian Lingkungan Hidup serta Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk menentukan tindakan lebih lanjut demi kelestarian Sungai Citarum.

YOUTUBE: MAKE A CHANGE WORLD

3

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments