hero
Pengungsi Rohingya melewati medan berat. (REUTERS)

EDITOR : TITO SIANIPAR

4 September 2017, 18:15 WIB

MYANMAR

Pemerintah Myanmar memblokir semua bantuan dari Perserikatan Bangsa-bangsa yang akan didistribusikan untuk warga Rohingya di Rakhine Utara. Ribuan orang di negara bagian itu kini hidup tanpa pasokan makanan dan air. 

"Dampak kekerasan terus berlanjut, kami sangat prihatin dengan nasib ribuan orang," kata juru bicara kantor PBB untuk Urusan Kemanusian di Myanmar, Pierre Peron, seperti dilansir The Guardian, Minggu, 3 September 2017.

Pemblokiran bantuan dari badan PBB seperti UNHCR, UNFPA, dan UNICEF itu telah berlangsung selama sepekan sejak tentara menyerang desa-desa Rohingya dan membunuh ratusan orang pada 25 Agustus 2017. Selain badan PBB, 16 organisasi non-pemerintah juga dilarang beraktivitas. 

Peta Rakhine di Myanmar. (THE GUARDIAN)

Pemblokiran itu karena pemerintah sipil Daw Aung San Suu Kyi menuduh organisasi bantuan Internasional membantu militan Rohingya. Diperkirakan lebih dari 100 ribu Rohingya yang tinggal di kamp pengungsian di Rakhine sejak 2012 tak mendapatkan bantuan makanan dalam sepekan ini.

Sementara sekitar 76 ribu minoritas Muslim Rohingya lainnya telah meninggalkan desa-desa mereka yang dibakar oleh militer. Mereka mengungsi ke negara tetangga Bangladesh, ke kamp-kamp yang penuh sesak, tanpa makanan yang cukup dan medis.

"Tidak ada lagi desa yang tersisa, tidak sama sekali," kata Rashed Ahmed, seorang petani dari Dusun Kotapraja Maungdaw. Dia sudah menempuh perjalanan selama empat hari menuju kamp pengungsian. "Tidak ada lagi orang yang tersisa."

Warga Rohingya mengungsi. (THE NEW YORK TIMES)

Sebelum eksodus besar-besaran ini, sudah ribuan warga Rohingya meninggalkan desa mereka sejak konflik meletus. Di Bangladesh sendiri sebelumnya ada 400 ribu orang yang mengungsi.

Sebanyak 1,1 juta muslim minoritas Rohingya tinggal di Rakhine, kewarganegaraan mereka dilucuti oleh junta militer. Mereka mengalami penindasan, pembunuhan dan pemerkosaan massal selama puluhan tahun di bawah mayoritas umat Buddha di negara itu.

Perlawanan bersenjata dari militan Rohingya yang disebut Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) menjadi alasan militer menindas seluruh penduduk sipil Rohingya. 

Tempat pengungsian Rohingya di Bangladesh. (THE NEW YORK TIMES)

Sejumlah peraih Nobel Perdamaian mengirimkan surat kepada Aung San Suu Kyi memperingatkan bahwa tragedi ini mengarah pada genosida, pembersihan etnis dan kejahatan terhadap kemanusian. Bahkan ada yang mengusulkan Nobelnya dicabut.

THE GUARDIAN | NEW YORK TIMES

1

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments