hero
Ilustrasi korban perundungan. (PIXABAY)

EDITOR : ALFIAN SYAFRIL

21 Agustus 2017, 15:35 WIB

TANGERANG, INDONESIA

Video singkat dugaan aksi bullying (perundungan) para murid perempuan di SMA Nusantara Plus, Tangerang Selatan, Banten, sempat beredar di media sosial.

Video yang diunggah akun Instagram @thenewbikingregetan itu, memperlihatkan sekelompok murid menghukum adik kelasnya. Korban perundungan terdiri dari lima orang siswi kelas 11. Sedangkan pelaku adalah delapan orang kakak kelas mereka.

Aksi perundungan siswi SMA Nusantara Plus yang diunggah di media sosial. (INSTAGRAM/@thenewbikingregetan)

RN, salah seorang korban mengaku, perundungan terjadi di Situ Gintung pada Jumat, 11 Agustus 2017 lalu. RN mengatakan, kakak kelas menyuruh mereka meminum air dari campuran bahan-bahan tertentu.

"Disuruh minum air dari Nutrisari dicampur roti kacang hijau serta Nabati coklat dan keju," kata RN di sekolahnya, Senin, 21 Agustus 2017. "Tidak ada tindakan kekerasan (fisik), ya cuma disuruh minum, itu dihabiskan," tambah dia.

RN mengatakan, mereka dikumpulkan di Situ Gintung karena dianggap tidak menghormati kakak kelas. "Jadi mereka tidak suka kalau kami tidak menghormati mereka," kata dia.

Air campuran dari bahan-bahan tertentu untuk diminum korban perundungan. (INSTAGRAM/@thenewbikingregetan)

Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMA Nusantara Plus Mugiarto membenarkan siswi-siswinya melakukan aksi perundungan. "Baik pelaku maupun korban itu siswi kami," kata dia.

Mugiarto menjelaskan peristiwa terjadi setelah kegiatan belajar mengajar di sekolah selesai. Pihak sekolah mengetahui hal tersebut satu hari setelah kejadian. Menurut dia, sekolah langsung dengan memanggil semua siswi yang terlibat untuk menyelesaikan masalah tersebut secara musyawarah.

"Sekolah langsung menangani dengan mempertemukan korban dan pelaku untuk diadakan rekonsiliasi," kata Mugiarto.

Wakepsek Bidang Kesiswaan SMA Nusantara Plus Mugiarto. (NET/Dimas Arif Setiawan)

Menurut dia, persoalan telah selesai karena korban sudah memaafkan tindakan pelaku. Sementara pelaku telah diberikan hukuman. Pelaku menjalani skorsing selama sepekan dengan catatan tetap datang ke sekolah untuk bimbingan konseling.

Dari pengakuan korban dan pelaku, lanjut Mugiarto, dipastikan tidak ada kekerasan fisik selama aksi itu berlangsung. Motifnya juga bukan karena balas dendam. "Sikap yang berlebihan terhadap adik kelas, itu saja," kata dia.

DIMAS ARIF SETIAWAN

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments