hero

EDITOR : AULIA RAHMAT

21 April 2017, 10:30 WIB

AMERIKA SERIKAT

Bagi sebagian orang, media sosial menjadi tempat yang asyik untuk mencurahkan perasaan. Tidak terkecuali menyatakan pandangan politik.

Medsos dianggap membawa pengaruh buruk, saat pengguna saling serang terkait pilihan politiknya masing-masing. Kemudian, ramai-ramai orang menyalahkan media sosial. 

Muncul pertanyaan sederhana: benarkah media sosial seperti Facebook dan Twitter turut memperuncing perbedaan politik? Mempolarisasi masyarakat menjadi beragam sisi bersebrangan? 

Levi Boxell, peneliti dari Universitas Stanford, Inggris mencoba menjawabnya. 

Dilansir jurnal milik The National Bureau of Economic Research, media sosial seperti Facebook dan Twitter dipercaya bisa membuat gelembung di antara masyarakat. Gelembung itu memperkuat pandangan politik seseorang bukan mempolarisasinya.

Boxell menambahkan, tidak ada bukti empiris yang menunjukkan bahwa medsos mempolarisasi pandangan politik para penggunanya. Ia dan timnya menganalisa data terkait perilaku pemilih di AS sejak tahun 1996 hingga 2012. 

Sebagian sampel berusia 18 hingga 39 tahun adalah pengguna internet. Mereka mengaku tidak melihat adanya polarisasi pandangan politik. Setidaknya dalam enam tahun terakhir.

Hasil berbeda justru ditemukan pada mereka yang berusia 65 tahun ke atas. Mereka merasakan adanya pembagian pandangan politik kedalam kelompok-kelompok berbeda. Mayoritas dari mereka adalah penikmat televisi dan radio.

DAILY MAIL | STANDFORD UNIVERSITY

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments