hero

EDITOR : REZA ADITYA

6 April 2017, 11:10 WIB

INDONESIA

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto dan bekas Ketua Fraksi Partai Demokrat Anas Urbaningrum menjadi saksi dalam persidangan kasus korupsi kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) dengan terdakwa Irman dan Sugiharto.

Keduanya dimintai keterangan oleh majelis hakim terhadap proyek negara senilai Rp 5.9 triliun itu. Sebelum persidangan, Anas yang datang lebih dahulu dari Novanto membantah terima duit panas dari kasus itu.

"Daun jambu saja tidak ada, apalagi uang," ujar Anas, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis, 6 April 2017. Anas mengatakan akan membeberkan keterangan yang sebenar-benarnya di dalam persidangan ini.

Bekas Ketua Fraksi Demokrat Anas Urbaningrum. (NET)

Termasuk, pernyataan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat M. Nazaruddin dalam sidang pekan lalu yang menyebut bahwa Anas terima duit korupsi e-KTP untuk pencalonannya sebagai ketua umum Demokrat pada 2010.

"Soal kongres kan sudah ada sidangnya sendiri, satu peristiwa masak ada dua cerita," ujar dia. "Jadi kalau mau jernih, teliti, jeli, sebenarnya bisa dengan mudah bedakan mana karangan mana fakta. Mana kesaksian mana kesurupan."

Anas juga mengaku tidak mengenal Andi Narogong, pengusaha yang perusahaannya merupakan rekanan Kementerian Dalam Negeri dalam proyek e-KTP.

"Saya kenal punya teman bernama Andi, tapi bukan Andi Narogong," ujar dia. "Mudah-mudahan hari ini pertama kali saya bisa bertemu, kalau ada ya, atau suatu hari."

Berbeda dengan Anas, Setya Novanto sesaat sebelum sidang tak banyak berkomentar. Dia hanya tertawa saat ditanya pewarta terkait kesaksiannya kali ini.

Ketua DPR Setya Novanto. (NET)

Novanto juga mengaku membawa bundel dokumen. Namun, dia emoh memberitahu berkas apa yang dibawa dalam persidangan tersebut.

Anas dan Novanto dalam dakwaan dua terdakwa disebut terima duit haram proyek e-KTP.  Novanto disebut dalam dakwaaan Iman dan Sugiharto terima duit senilai Rp 574 miliar.

Sedangkan Anas dalam beleid itu juga disebut terima duit senilai US$ 500 ribu yang diberikan melalui perantara bernama Eva Ompita Soraya. Pemberian itu kelanjutan dari penyerahan yang telah dilakukan pada bulan April 2010 sejumlah US$ 2 juta.

Selain Novanto dan Anas, sidang kali ini juga menghadirkan mantan Ketua DPR Ade Komarudin dan mantan anggota Komisi II DPR Markus Nari.

Mantan Ketua DPR Ade Komarudin. (NET)

 

Ade dalam dakwaan disebut terima duit senilai US$ 100 ribu dalam kasus ini. Peran Ade pada waktu itu menjabat sebagai Sekretaris Fraksi Golkar.

Adapun Markus disebut terima duit sebesar Rp 4 miliar dan US$ 13 ribu. Keduanya saat ditanya membantah terima duit itu dari pengusaha rekanan Kementerian Dalam Negeri dalam proyek e-KTP.

Mantan Anggota Komisi II DPR Markus Hari. (NET)

 

Selain empat orang penggede wakil rakyat itu, sidang kali ini juga menghadirkan Suciati, Anang Sugiana Sudiarhjo, Achmad Fauzi, dan Dudy Susanto.

Anang dan Achmad merupakan perwakilan dari PT Quadra Solutionm, selaku perusahaan konsorsium proyek e-KTP.  Sedangkan Dudy merupakan perwakilan PT Softob Technology Indonesia.

MAYFREE SYARI

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments