hero

EDITOR : AULIA RAHMAT

28 Maret 2017, 20:00 WIB

AMERIKA SERIKAT

Siapa yang tidak mengenal Lembah Silicon di California, Amerika Serikat, rumah bagi hampir seluruh perusahaan teknologi papan atas yang memproduksi hampir semua teknologi dan gawai yang kita gunakan sehari-hari. 

Siapa yang menyangka jika terdapat sebuah sekolah di jantung Silicon Valley yang melarang penggunaan teknologi. Namanya Waldorf School.

Sekolah di Los Altos, California ini adalah satu dari 160 sekolah Waldorf yang tersebar di Amerika Serikat. Adam Alter, penulis buku "Iresistible" yang meneliti kecanduan manusia pada media sosial mengatakan, sekolah itu melarang penggunaan segala bentuk gawai.

"Semua siswanya terlihat senang menghabiskan waktu untuk berinteraksi satu sama lain, mereka sering menghabiskan waktu di luar," kata profesor yang mengajar di New York University itu, seperti dilansir Busines Insider. 

Adam mengatakan, 75 persen siswa Waldorf adalah anak-anak dari orang-orang penting di Silicon Valley. Orang-orang yang setiap hari memproduksi teknologi justru menyekolahkan anaknya di tempat yang tidak ada teknologinya sama sekali,"ujar Adam.

Waldorf School, sekolah moderen di Los Altos, California yang menolak penggunaan teknologi dalam sistem belajar mengajarnya. (GOOGLE)

Waldorf School masih memegang teguh sistem pendidikan yang umurnya sudah lebih dari satu abad itu. Mereka mengembangkan kurikulum berdasarakan pemikiran filsuf Austria, Rudolf Steiner. Disiplin ilmu yang menekankan aktivitas tangan dan ekspresi kreatif. Steiner meyakini bahwa imajinasi, kejujuran, dan tanggung jawab adalah urat nadi dari pendidikan. 

Meski konvensional, Waldorf School mematok biaya tinggi bagi orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya. Biaya pendidikan taman kanak-kanak hingga SMP dibanderol sebesar US$ 17.750 atau sekitar Rp 236 juta. Khusus pendidikan SMA biaya dipatok sebesar US$ 24.400 atau sekitar Rp 324 juta.

Dengan biaya sebesar itu, sebagian besar siswa Waldorf adalah anak-anak petinggi perusahaan teknologi Silicon Valley. Seperti penanggung jawab teknologi situs perdagangan terbesar di dunia eBay, hingga perusahaan teknologi raksasa Google, Apple, Yahoo, dan Hewlett-Packard. 

Dengan biaya pendidikan selangit tidak berarti fasilitas pendidikan di sekolah ini penuh dengan kecanggihan. Waldorf School tidak menyediakan sebuah komputerpun bagi siswanya. 

Siswa juga dilarang untuk membawa gawai seperti pemutar musik, tablet, dan telepon pintar ke sekolah. Dikutip dari Daily Mail, guru-guru di sini akan cemberut begitu mengetahui siswa mereka mengerjakan tugas dari sekolah menggunakan mesin pencarian.

Waldorf School masih setia menggunakan pensil, pulpen, kertas, dan pisau penyerut. Ruang kelasnya terlihat klasik dengan papan tulis hitam, kapur, rak berisi kumpulan buku ensiklopedia, dan meja belajar. 

Pendidikan bergaya konvensional tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi para orang tua. Alan Eagle, seorang Eksekutif Google salah satunya. Pria berusia 50 tahun itu menyekolahkan dua putranya di Waldorf School.

"Saya termasuk yang menolak bantuan teknologi untuk belajar bahasa di sekolah," kata dia pada New York Times. "Sungguh konyol orang yang percaya aplikasi di iPad bisa membantu anaknya belajar membaca atau berhitung." 

Alan sehari-hari tidak pernah lepas dari iPad dan smartphone untuk bekerja. Tapi dia mengaku, anak perempuanya yang masih duduk di kelas 5 hingga kini tidak bisa menggunakan mesin pencari Google. Alan membatasi penggunaan gawai pada anaknya atas permintaan dari sekolahnya. 

Alan percaya, akan tiba waktu yang tepat untuk mengenalkan anak-anaknya dengan dunia digital. Namun tidak sekarang. 

"Kalau saya bekerja di Miramax dan memproduksi film bagus dengan kategori R, saya tidak ingin anak-anak saya melihat film itu sebelum usianya 17 tahun," kata dia. 

Siswa baru boleh mengenal gawai pada kelas delapan. (NYT)

Bersentuhan setiap hari dengan teknologi canggih membuat Alan percaya: anaknya akan mudah menggunakan teknologi dan gawai pada waktu yang tepat.

"Sangat mudah, seperti belajar menggosok gigi," kata dia. "Google dan semua pengembang membuat teknologi agar bisa digunakan dengan mudah. Tidak ada alasan bagi anak-anak untuk tidak bisa mempelajarinya saat mereka sudah cukup umur." 

Aktivitas Andi, putri Alan Eagle di sekolahnya misalnya. Ia sedang belajar merajut dengan bantuan benang dan jarum sulam. Ini adalah aktivitas yang bisa membantu mengembangkan kemampuan menyelesaikan masalah, melihat pola, matematika, hingga mengasah kemampuan koordinasi. Di akhir semester, Andi ditargetkan membuat kaos kaki. 

Guru Andi, Cathy Waheed, seorang insinyur komputer, punya cara mengajar yang unik. Tahun lalu misalnya, dia mengajarkan konsep pecahan dengan makanan, dengan memotong apel dan kue-kue untuk membantu siswanya memahami pecahan seperempat, setengah, hingga seperenambelas. 

"Selama tiga minggu, kami makan dengan pecahan," kata dia pada New York Times. "Ketika saya berhasil membuat potongan kue untuk dibagikan sama besar pada semua orang, ini adalah bentuk perhatian mereka bukan?"   

THE NEW YORK TIMES | THE DAILY MAIL

7

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments