Yoseph dan anak didiknya. (NET/Annisa Pratiwi)

EDITOR : YAYAN SUPRIYANTO

17 Januari 2017, 08:45 WIB

KUPANG, INDONESIA

“Kalau untuk perbedaan ini saya tidak melihat, kaum ini adalah kaum Islam. Kalau saya nasrani, karena tujuan membangun pendidikan ini adalah untuk mendidik anak-anak bangsa ini,”

Kalimat itu menjadi pedoman Yoseph Orem Blikololong dalam menjalankan niat mulianya. Memberi pendidikan gratis bagi anak-anak Kupang lewat sekolah gratis yang ia dirikan.

Yoseph Orem Blikololong, pemulung sekaligus pendiri sekolah gratis. (NET/Annisa Pratiwi)

Dalam menerima murid, Yoseph Orem berprinsip semua anak berhak sekolah. Ia tidak ingin terjebak dalam intoleransi berdasarkan agama atau kelas sosial. Semua baginya sama!

Sejak awal mendirikan baik Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Peduli Kasih maupun Sekolah Menengah Pertama (SMP) Surya Mandala, Yosep ingin mendidik anak-anak di lingkungan sekitarnya.

Anak-anak diajarkan sikap toleransi atau menghormati perbedaan di antara mereka sedini mungkin. Misalnya, di sekolah PAUD Peduli Kasih, setiap akan memasuki kelas, murid yang beragama Katholik, Islam ataupun Kristen Protestan diminta berbaris dan berdoa sesuai keyakinan mereka.

Murid Yoseph. (NET/Annisa Pratiwi)

Yosep mendirikan PAUD Peduli Kasih pada 2008. PAUD ini menempati satu ruangan di rumahnya di Kompleks STIBA, Jalan Timor Raya kilometer 6, Kelurahan Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima, Kupang, NTT.

Sementara SMP Surya Mandala Kupang berdiri pada 2012 berada tidak jauh dari rumahnya. Lahan yang digunakan untuk mendirikan sekolah ini bukan milik pribadinya, tetapi menyewa. Beruntung semua sekolah yang didirikan Yoseph mendapat bantuan operasional sekolah atau dana BOS dari pemerintah.

Beban ekonomi yang harus Yoseph tanggung tidak hanya operasional sekolah, tetapi juga harus menghidupi istri dan keenam anak kandungnya. Pekerjaannya sehari-hari sebagai seorang pemulung membuat ia harus pintar memutar uang.

Yoseph sedang mengajar. (NET/Annisa Pratiwi)

Sejauh ini semua terkendali. Tanggung jawabnya kepada keluarga dan anak-anak didiknya terpenuhi dengan baik. Bahkan ia juga saat ini sedang menyelesaikan kuliah hukum di  Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Semua dilakukan karena peduli. Ya, peduli ada bangsanya.

“Karena saya juga masyarakat Indonesia. Ilmu yang ada dalam diri saya, harus saya kasih kepada mereka walaupun itu hanya sedikit,” tutup Yoseph.

Yoseph sedang memulung. (NET/Annisa Pratiwi)

Di sekolah ini tidak hanya pendidikan formal yang diajarkan, tetapi juga pendidikan bermasyarakat. Toleransi beragam salah satunya. Di Kupang, semua agama hidup rukun dalam perbedaan.

Cerita ini berbanding terbalik dengan yang ada sekarang. Banyak yang berselisih karena agama. Bagi Yoseph Tuhan menciptakan perbedaan bukan untuk saling menghakimi. Tetapi agar manusia belajar saling menghargai. Karena semua bersaudara.

LENTERA INDONESIA | DYNAR MANGGIASIH | ANNISA PRATIWI

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments