hero
Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran di Cilincing, Jakarta Utara. (NET)

EDITOR : OCTOBRYAN

12 Januari 2017, 20:15 WIB

JAKARTA, INDONESIA

Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia mendatangi Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran di Cilincing, Jakarta Utara.

Ketua Komisi V Fary Jemy Francis mengatakan tujuan kedatangannya untuk mengetahui aktivitas operasional kegiatan sekolah akibat meninggalnya taruna tingkat II Amirulloh Adityas Putra karena dipukuli seniornya.

Karena ini menjadi kasus yang kesekian kali, Fary mendesak Menhub melakukan audit dan pengawasan terhadap semua penyelenggaraan kegiatan sekolah kedinasan di bawah Kementerian Perhubungan. Dia akan menyelidiki untuk mencari tahu pihak yang bertanggung jawab atas sistem tersebut.

Taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran beraktifitas di kampus. (NET)

"Ada beberapa langkah yang akan kita ambil menyikapi kasus kekerasan di sekolah itu, mungkin saja nantinya kampus itu bisa ditutup," ujarnya di Cilincing, Kamis, 12 Januari 2017.

Sempat terjadi perdebatan antara pihak Kemenhub dengan Komisi V DPR saat Fary mempertanyakan sistem tata kelola pendidikan dan peran pengawas sekolah terhadap para taruna. Menurutnya, pemecatan terhadap taruna pelaku kekerasan tidak bisa dijadikan solusi bila sistem pengawasan tidak berjalan.

Lokasi tempat Amirullah dianiaya. (NET/Dede)

"Kekerasan terus terulang dan sudah pernah kami peringati pada 2014 lalu saat ada taruna yang tewas akibat kekerasan," jelasnya. "Beberapa taruna dipecat tapi kekerasan tetap terjadi." 

Anggota DPR dari Partai Gerindra ini mengatakan, saat itu, DPR memanggil pihak STIP dan Kementerian Perhubungan. Hasilnya, disepakati bahwa STIP harus melakukan pembenahan sistem pendidikan dan menghapus tindak kekerasan.

Sejumlah anggota Komisi V DPR kunjungi STIP. (NET)

"Saat itu kesepakatannya, kalau ada tindak kekerasan lagi, sekolah akan ditutup," ucapnya. 

Sementara, pelaksana tugas Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Arifin Soenardjo mengatakan, perguruannya memecat empat dari lima taruna tersangka penganiayaan terhadap Amirullah Adityas Putra. Satu taruna lagi hanya dinonaktifkan dan menanti proses dari kepolisian.

Taruna tingkat II Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Amirullah Adityas Putra tewas dianiaya senior. (NET)

"Hasil dewan kehormatan taruna, empat orang pelaku pemukulan dikeluarkan, nah satu orang lagi belum terbukti memukul," kata Arifin,

Selain empat orang itu, beberapa ketua pengawas jaga taruna juga diberhentikan. Arifin menilai mereka lalai dalam mengawasi tindak kekerasan di kampus berseragam biru laut itu.

BACA JUGA:
Nestapa Taruna Sekolah Pelayaran Terus Berlanjut
STIP Pecat Empat Taruna Penganiaya Amirullah
Teman Kakak Korban STIP Ikut Menganiaya
Tersangka Penganiayaan STIP Kemungkinan Bertambah

Setidaknya sudah terjadi beberapa kali kasus kekerasan di kampus berseragam biru ini.

Pertengahan 2008, Agung Gultom, taruna tingkat pertama STIP tewas ditangan 10 seniornya. Kasus tersebut kemudian ditutupi pihak kampus. Mereka berdalih, korban tewas karena kelelahan saat mengikuti latihan pedang pora. 

Masih di tahun 2008, mahasiswa tingkat dua STIP bernama Jegos juga menjadi korban tindak kekerasan seniornya. Akibat penganiayaan tersebut korban mengalami gegar otak dan dilarikan ke Rumah Sakit Pelabuhan, Jakarta Utara. Menurut tim dokter RS Pelabuhan, Jegos dianiaya menggunakan benda tumpul. 

Tahun 2014, nyawa Dimas Dikita Handoko melayang sia-sia ditangan tiga seniornya. Ia dan enam rekan seangkatannya dianiaya di sebuah rumah kos karena dianggap menghormati senior.

DEDE ROHALI | REYSKA RAMADHANI

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments