hero

EDITOR : AULIA RAHMAT

11 Januari 2017, 09:00 WIB

PAKISTAN

Provinsi Punjab di Pakistan, baru saja meluncurkan sebuah aplikasi telepon pintar yang memungkinkan perempuan melapor kekerasan dan pelecehan yang mereka alami kepada polisi.

Langkah ini diambil mengingat tingginya angka kekerasan terhadap wanita di Provinsi yang berbatasan langsung dengan India tersebut. 

Dengan sekali klik, pengguna aplikasi yang merasa tidak aman dapat langsung terhubung dengan polisi. Selanjutnya, petugas akan mendatangi lokasi berdasarkan yang alamat yang tertera pada sistem GPS.

"Meski aplikasi ini dikhususkan bagi kekerasan yang terjadi di jalanan. Tidak menutup kemungkinan orang yang berada di dalam rumah atau berada di bawah tekanan juga menggunakan layanan ini," ujar Fauzia Viqar, Ketua Komisi Perlindungan Perempuan Provinsi Punjab. Lembaga penyokong hak perempuan, yang turut andil atas diluncurkannya aplikasi ini.

Dengan aplikasi ini, pengguna bisa menandai daerah-daerah yang rentan terjadi kekerasan. Aplikasi ini juga menyediakan sambungan gratis dan informasi terkait undang-undang yang melindungi hak-hak perempuan.

Seperti diketahui, survei Thomson Reuters tahun 2011 menempatkan Pakistan sebagai negara ketiga di dunia paling berbahaya bagi perempuan. Kekerasan rumah tangga, diskriminasi ekonomi, dan penyerangan menggunakan air keras adalah sesuatu yang lazim di negeri berpenduduk 200 juta jiwa itu.

Wanita Pakistan rentan mengalami tindak pelecehan. (PIXABAY)

Setiap tahun terdapat sedikitnya 500 perempuan tewas di tangan kerabat mereka sendiri. Alasannya utama perempuan dibunuh adalah dianggap merusak kehormatan keluarga. Penyebabnya antara lain: kawin lari, bergaul dengan laki-laki, dan bertindak dibatas norma-norma yang berlaku.

Berdasarkan studi dari Yayasan Aurat, pada tahun 2013 terdapat 800 kasus kekerasan terhadap perempuan di Punjab. Angka ini adalah 74 persen dari jumlah keseluruhan kekerasan serupa yang terjadi di Pakistan.

Kelompok pembela perempuan menyambut baik peluncuran aplikasi anti kekerasan tersebut. Meski tidak semuanya. Sebagian beranggapan jika perempuan-perempuan yang berada di daerah pelosok sulit untuk mengakses teknologi telepon pintar.

Mereka juga menuntut polisi agar lebih profesional dalam menangani kasus pelecehan terhadap perempuan. Tidak jarang justru polisi itu sendiri yang bertindak sebagai pelaku pelecehan.

"Kami sering mendapat keluhan ihwal perilaku menyimpang para polisi. Mereka perlu diberikan pembelajaran akan pentingnya perlindungan terhadap perempuan," kata Romana Bashir, Ketua Komisi Hak Asasi Punjab.

Tahun lalu Provinsi Punjab, baru saja mengesahkan undang-undang perlindungan terhadap perempuan. Undang-undang itu melindungi perempuan dari kekerasan rumah tangga, psikologis, dan seksual.

Kendati sudah ditetapkan, aturan ini menuai polemik. Ulama konservatif dan para pemuka agama di Pakistan mengecam aturan ini. Aturan ini dianggap bertentangan dengan syariat Islam. Agama paling dominan di Pakistan.

REUTERS | THE GUARDIAN

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% (total_main_comment < 1 ? 'No' : total_main_comment) + (total_main_comment < 2 ? ' Comment':' Comments') %>
<% latestComment.user.name %>
  • reply
  • <% child_comment.user.name %>
    • reply
View <% (latestComment.total_child - 5) == 1 ? "the last one comment" : (latestComment.total_child - 5) + " more comments" %> ...
View More Comments
<% oldestComment.user.name %>
  • reply
  • <% child_comment.user.name %>
    • reply
View <% (oldestComment.total_child - 5) == 1 ? "the last one comment" : (oldestComment.total_child - 5) + " more comments" %> ...