hero
(REUTERS)

EDITOR : REZA ADITYA

27 November 2016, 00:00 WIB

AMERIKA SERIKAT

Pendukung calon Presiden Amerika Serikat Hillary Clinton mendesak kepada komisi pemilihan umum setempat melakukan penghitungan suara ulang di beberapa negara bagian. Ketua tim kampanye Hillary Clinton, John Podesta, menduga ada kecurangan dalam penghitungan di tiga negara bagian, yaitu Wisconsin, Michigan dan Pennsylvania.

"Bentuk kecurangannya salah satu yang diduga adalah peretasan oleh kelompok tertentu," kata John, Sabtu, 26 November 2016.

Desakan penghitungan suara ulang ini mencuat setelah perolehan suara Hillary semakin meningkat dan dianggap bisa mengalahkan pesaingnya, Donald Trump. Berdasarkan data laporan lembaga survei Cook Political, perolehan suara Hillary sebanyak 64.223.958 suara. Sedangkan Trump hanya mengumpulkan 62.206.395 suara.

John berharap penghitungan suara dilakukan dalam waktu dekat. Sebelum hasil akhir pemilihan Presiden AS diumumkan pada 29 November nanti. John haqul yakin penghitungan suara di tiga negara bagian yang disebutnya itu diretas. Hal itu diperkuat dari hasil analisis pakar informatika dari Universitas Michigan, Alex Halderman.

"Satu-satunya cara untuk mengetahui apakah ada serangan cyber dengan meneliti bukti fisik yang ada," ujar Alex.  Menurut Alex, rendahnya perolehan suara Hillary hanya pada negara bagian yang menggunakan mesin pemungutan suara elektronik. Dan saat ini hanya Wisconsin, Michigan dan Pennsylvania yang masih menggunakan mesin pemungutan suara elektronik.

Berbeda dengan di beberapa negara bagian lain yang mesin pemungutan suaranya menggunakan pemintai optik. Perolehan suara Hillary dianggap hampir seimbang dengan Trump.

Sejumlah aktivis juga mendukung tim kampanye Hillary mendesak komisi pemilihan umum setempat melakukan penghitungan ulang. Mereka yang mendukung kebanyakan menolak dipimpin Trump yang dianggap ambisius dan rasis.

Salah seorang juru bicara Trump, Kellyane Conway menganggap desakan kubu Hillary tak beralasan. Dia menyindir tim kampanye Hillary tidak terima kekalahannya dengan lapang dada.

REUTERS | INDEPENDENT | THE GUARDIAN | TIME

BACA JUGA:
Rusia Dituding Berada di Balik Kemenangan Trump
Trump Pilih Tukang Kritiknya Jadi Duta PBB
Pemerintahan Trump Berpotensi Jadi Otoritarian


 

 

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments