EDITOR : AULIA RAHMAT

14 November 2016, 06:00 WIB

INDONESIA

“Saya sangat sedih sekali dan ingin menangis mempunyai presiden yang tidak menghargai habaib dan ulama. Ingin saya katakan anjing, tapi tidak boleh. Ingin saya katakan babi, tapi tidak boleh!” seru Ahmad Dhani ketika berorasi pada aksi damai Jumat, 4 November 2016.

Kata-kata itu diucapkan di hadapan puluhan ribu demonstran berjarak 200 meter dari Istana Merdeka. Mereka menuntut Basuki Tjahaja Purnama diadili karena dituduh menista Islam.

Tak lama setelah Dhani unjuk gigi, Kapolda Metro Jaya Irjen M. Iriawan bersama Pangdam Jaya Mayjen Teddy Lhaksamana bergegas menghampiri mobil bak terbuka tempat Dhani berorasi. Iriawan memaksa calon Bupati Kabupaten Bekasi itu diam dan turun dari panggung.

Di penghujung hari, demo berakhir rusuh. Bukan orasi Dhani penyebabnya, melainkan provokasi yang dilakukan oleh 'penyusup' yang memukuli polisi menggunakan kayu dan tongkat.

Aksi Ahmad Dhani baru ramai dibicarakan dua hari setelah peristiwa berlalu. Potongan video berdurasi 1 menit 20 detik membanjiri lini masa akun-akun media sosial.

Akibatnya, ia dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh ormas Laskar Rakyat Jokowi (LRJ) dan Projo dengan tuduhan menghina kepala negara. Karena ini delik aduan, kasus Ahmad Dhani baru akan diproses jika Presiden Joko Widodo membuat laporan.

Ahmad Dhani bukan satu-satunya orang yang berurusan dengan hukum karena media sosial. Sepanjang periode 28 Agustus 2008 hingga 23 Agustus 2016, organisasi nirlaba SAFENET mencatat 200 laporan ke aparat terkait ujaran kebencian di medsos.

Dari angka itu, 28 diantaranya sudah divonis bersalah di pengadilan.

Damar Juniarto, aktivis SAFENET, mengatakan laporan terkait penghinaan di media sosial marak pasca munculnya Surat Edaran Kapolri Jenderal Badrodin Haiti tentang penangan ujaran kebencian.

“Kita sedang memanen apa yang dahulu dikeluarkan oleh Kapolri,” kata Damar kepada NET.Z.

Dengan surat tersebut, polisi berhak menindak langsung pelontar ujaran kebencian melalui orasi, spanduk, ceramah keagamaan, hingga media sosial. Dalam kasus Ahmad Dhani, Polisi menggunakan pasal 207 KUHP tentang penghinaan terhadap penguasa.

Aturan hukum lain yang digunakan untuk menjerat pengumbar kebencian adalah Undang-undang ITE Nomor 11 Tahun 2008. Ini pernah menjerat Florence Sihombing Maret 2015 lalu. Mahasiswi Universitas Gadjah Mada itu meluapkan kemarahan pada akun Path karena ditolak membeli bensin.

Belakangan Flo dilaporkan ke polisi dan berakhir di meja hijau. Perempuan 26 tahun itu terbukti bersalah di pengadilan dan diganjar penjara 2 bulan dan denda sebesar Rp 10 juta.

Undang-undang ITE banyak dikritik dan diajukan untuk direvisi. Aturan itu dianggap terlalu mudah menjerat orang menjadi tersangka. Pasal-pasalnya dianggap absurd karena tidak memberikan definisi yang jelas mengenai pencemaran nama baik dan penghinaan. 

"Itu yang sering disebut dengan pasal karet. Biasa digunakan oleh mereka yang memiliki kuasa terhadap yang lemah," ujar Damar.

Maraknya pengguna medsos yang terperosok ke jurang hukum tidak bisa dilepaskan dari banyaknya informasi yang beredar di internet. Menurut Nukman Lutfie, seorang praktisi media, terdapat 700 ribu orang log in di Facebook setiap 60 detik. 

Dalam tempo yang sama terdapat 2,4 juta orang berselancar di mesin pencari Google. Sialnya, traffic yang besar ini tidak diimbangi dengan kecerdasan masyarakat dalam mengelola emosinya.  “Kemudian menyebarkan konten negatif tanpa tahu apa isi dari konten tersebut,” ujar Nukman.

Ia menilai kejadian serupa dengan pelaporan terhadap Ahmad Dhani akan terus terjadi hingga musim pilgub DKI Jakarta 2017 berakhir. Hal ini disebabkan sebagian warga maya tidak bisa membedakan mana kampanye negatif dan mana kampanye hitam. 

“Jangan emosi, baca dulu isinya dan tunda jempol untuk share. Jangan jadi clicking monkey,” imbau Nukman.

DIYAS PRADANA | ANAN SURYANA | AULIA RAHMAT

Baca Juga:

Lima Cara Agar Tidak Bodoh di Media Sosial

7

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments