hero

EDITOR : OCTOBRYAN

7 November 2016, 18:50 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia, Zainut Tauhid Sa'adi menegaskan pihaknya tidak akan mengubah sikap terkait kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Hal ini menyusul langkah Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri yang datang ke MUI untuk mengklarifikasi dan meminta keterangan dari Ketua MUI Ma'ruf Amin, hari ini.

Suasana kantor MUI saat didatangi penyidik Bareskrim (Istimewa)

"Kami sudah berikan konfirmasi klarifikasi bahwa apa yang dikeluarkan MUI adalah benar adanya," ujarnya, Senin, 7 November 2016.

Zainut menambahkan, pendapat dan sikap keagamaan yang dikeluarkan MUI bersifat lebih tinggi dari fatwa. Hal tersebut, kata Zauhit, dikeluarkan melalui berbagai tahapan yaitu penetapan, penelitian, dan pendalaman dengan melibatkan beberapa komisi yang ada dalam MUI.

"Ketetapan itu disahkan dari tingkatan bawah hingga Ketua MUI," tambahnya.

Zainut melanjutkan, dalam pemeriksaan tadi, penyidik Bareskrim juga menanyakan kemungkinan adanya revisi terhadap sikap keagamaan MUI sebelum diumumkan. "Kemudian ditanyakan apakah ada revisi atau hal yang dibatalkan terhadap poin dan pendapat dan sikap? kami katakan tidak ada," pungkasnya.

BACA JUGA:
Apa Kata MUI Terkait Tafsir Al Maidah Ahok?
Ahok Diperiksa Polisi
Ini Kata Polisi Soal Perkara Ahok dan Buni Yani
Tafsiran Al Maidah Ahok Berbuntut Saling Lapor

Sebelumnya Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan pernyataan agama terkait pelecehan agama yang dilakukan Ahok.

Ada lima sikap keagamaan yang telah diputuskan MUI dalam kajian untuk memutuskan pernyataan terhadap perkataan Ahok soal Al Quran surat Al Maidah ayat 51, yakni:

1. Al Quran surat Al Maidah ayat 51 secara eksplisit berisi larangan menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin.

2. Ulama wajib menyampaikan isi surat Al Maidah ayat 51 kepada umat Islam, bahwa memilih pemimpin Muslim adalah wajib.

3.  Setiap orang Islam wajib meyakini kebenaran isi surat Al Maidah ayat 51 sebagai panduan dalam memilih pimpinan.

4. Menyatakan bahwa kandungan surat Al Maidah ayat 51 yang berisi larangan menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin adalah sebuah kebohongan, hukumnya haram dan termasuk penodaan terhadap Alquran.

5. Menyatakan bohong terhadap ulama yang menyampaikan dalil surat Al Maidah ayat 51 tentang larangan menjadikan non muslim sebagai pemimpin, adalah penghinaan terhadap ulama.

ADI SURYO | ARISTIO RUSMANA

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments