EDITOR : OCTOBRYAN

31 Oktober 2016, 06:30 WIB

BANDUNG, INDONESIA

Senin, 24 Oktober 2016 silam, Kota Bandung menjadi trending topic. Bukan prestasi, bukan pula kreativitas anak mudanya yang biasa menghiasi pemberitaan seputar Bandung. Tapi banjir! 

Kawasan Pasteur, Bandung Barat terendam hingga lebih dari satu meter. Jalan Dr. Djunjunan tak bisa dilewati kendaraan. Akibatnya arus lalu lintas dari dan menuju pintu tol Pasteur tertahan dan macet beberapa kilometer.

Padahal hujan yang mengguyur 'cuma' dua jam lamanya. Tapi itu sudah cukup bagi kawasan Pasteur dan Pagarsih menjadikan Bandung lautan air. "Baru dapat Adipura kok banjir," sindir Wakil Gubernur Deddy Mizwar soal banjir Kota Kembang itu.

Pemerintah Kota Bandung dan petugas kebersihan memang bergerak cepat membersihkan. Tapi itu tak bisa membersihkan jejak Bandung jadi trending topic tadi. Ditambah adanya seorang warga yang meninggal dunia akibat banjir itu.

Kawasan Pasteur Bandung yang digenangi banjir (NET)

 

Kontan hal itu membuat Wali Kota Bandung Ridwan Kamil berang. Bagi Kang Emil --sapaannya, banjir itu adalah aib. Setelah melakukan inspeksi langsung ke lokasi banjir, Emil berkesimpulan sampah yang menyebabkan drainase tersumbat. "Penyebabnya sampah sterofom dan plastik kresek. Makanya kita akan larang penggunaan sterofom," tegasnya.

Pemerintah Bandung memang sudah mengeluarkan surat edaran soal larangan sterofom atau styrofoam ini dan akan berlaku mulai Selasa, 1 November 2016. Surat itu ditujukan kepada seluruh pedagang dan pengusaha ritel Bandung.

Kepala BPLH Kota Bandung Hikmat Ginanjar mengatakan, larangan penggunaan sterofom untuk sementara ditetapkan melalui surat edaran. "Secara berkala kami akan evaluasi efektivitasnya," kata Hikmat kepada NET.Z, Senin, 24 Oktober 2016. "Jika sudah semuanya patuh, baru kami akan mengeluarkan peraturan daerah."

Surat edaran itu mengacu pada Undang-Undang No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Menurut Hikmat, beleid itu belum bisa langsung tertuang dalam peraturan daerah. "Karena perda harus menyeluruh," ujarnya.
 
Meski cuma surat edaran, aturan yang berlaku untuk enam bulan ke depan itu juga mengatur sanksi kepada pedagang dan pengusaha makanan yang bandel tetap menggunakan sterofom. Ada tahapan untuk sanksi ini.

Mobil yang terjebak genangan banjir di Pasteur, Bandung (NET)

 

"Sanksinya mulai dari teguran pertama sampai maksimal tiga kali," ujar dia. "Kalau lebih dari tiga kali tetap bandel, kami terpaksa akan menindak tegas dengan mencabut izin usaha dagangnya."

Sterofom bersama plastik memang menjadi momok bagi setiap kota, termasuk Bandung. Hal itu tergambar dari kiriman plastik dan sterofom ke tempat Pembuangan Sampah Akhir Sari Mukti, Cipatat, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.

Pengelola TPA Sari Mukti Riswanto mengatakan, tiap harinya tempat sampah seluas 25 hektare itu menerima 1200 ton sampah dari Kota Bandung. Didominasi oleh sampah rumah tangga, namun 40 persen atau 480 ton merupakan sampah non-organik. Yakni sampah plastik dan sterofom bekas kemasan makanan dan minuman.
 
Riswanto melanjutkan, pihaknya belum memiliki metode untuk mengolah sampah sterofom. "Kita belum bisa daur ulang. Sampahnya kita timbun," tambahnya.

Sterofom terbuat dari bahan kimia kopolimer styrene. Karena bentuknya yang simpel dan ringan, sterofom kerap dijadikan bungkus makanan. Alasannya karena mampu mempertahankan suhu, mencegah kebocoran, dan mampu mempertahankan bentuk saat dipegang.

Tumpukan sampah sterofom di salah satu drainase Bandung (NET)

 

Bentuknya simpel dan ringan, terutama harganya yang murah menjadikan sterofom pilihan pedagang sebagai pembungkus makanan. Mulai dari restoran cepat saji, pedagang jajanan di pinggir jalan, hingga dalam berbagai acara dan kegiatan.

“Sterofom harganya Rp 300, duit segitu sudah dapat sendok sama piring," kata Kahrudin, 34 tahun, pedagang jajanan khas Bandung, seblak dan lumpia basah di Jalan Tamansari. Sekalinya belanja bahan untuk kemasan, ia mengeluarkan modal sekitar Rp 45 ribu. "Dapatnya banyak."

Fakultas Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung dan Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bandung mencatat penduduk Kota Kembang membuang 27 ton sampah sterofom tiap bulannya. Dari catatan itu, pedagang dan peritel menyumbang 11,9 ton, sementara kalangan rumah tangga menyumbang 9,8 ton.

Sejatinya warga Bandung juga menyadari bahayanya sterofom, selain menjadi penyebab banjir. Menurut Kahrudin, banyak pembelinya enggan menggunakan sterofom karena tahu ada kandungan zat yang berbahaya.

 

Siti, warga Ledeng, juga mendukung kebijakan larangan penggunaan sterofom. Menurutnya, lebih banyak dampak negatif yang ditimbulkan dari produk kemasan makanan berbahan kimia itu.

"Kalau beli makanan pakai sterofom pasti sekali pakai. Saya sih setuju dilarang daripada jadi sampah yang tak terurai," kata perempuan 30 tahun itu. "Kalau hujan, juga bikin mampet (saluran air)."

Tak hanya oleh pedagang dan pembeli jajanan, di TPA Sari Mukti, sterofom juga jadi musuh para pemulung. “Sterofom tidak laku dijual, saya dan pemulung lain tidak pernah ambil," kata Rohana, salah satu pemulung di sana.

Perempuan 50 tahun itu kerap kesal karena sering mendapatkan sterofom daripada plastik maupun kaleng yang punya nilai ekonomis untuk dijual guna didaur ulang. "Penghasilan menjadi tidak menentu. Kebanyakan sterofom," ujarnya.

Rohana kemudian pamit. Sebuah truk Fuso pengangkut sampah baru saja memuntahkan muatannya. Ia melangkah ke titik pembuangan dengan harapan sterofom tak lagi mengambang di antara sampah buruannya.

REZA ADITYA | INDIRA DEWI | DIYAS PRADANA | ANAN SURYA

58

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments