hero
Misrun saat menunjukan foto sang putri yang meninggal dunia lantaran ditolak empat RS di Kota Tangerang.

EDITOR : OCTOBRYAN

5 September 2016, 22:30 WIB

BANTEN, INDONESIA

Suasana duka menyelimuti kamar kontrakan yang dihuni keluarga pasangan Undang Misrun dan Kokom Komalasari, warga Rt 2 Rw 1, Kampung Pulau Bidadari, Kelurahan Neglasari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang.

Anak kelima mereka bernama Mesya Rahayu meninggal dunia karena terlambat mendapatkan pertolongan pertama akibat infeksi paru-paru yang dideritanya.

Menurut Misrun, peristiwa itu berasal saat anaknya yang baru berusia lima belas bulan itu tiba-tiba muntah dan sesak nafas pada Minggu, 4 September 2016, kemarin.

Mesya Rahayu meninggal dunia karena terlambat mendapatkan pertolongan pertama akibat infeksi paru-paru .

Ia bersama istrinya langsung membawa Mesya ke klinik setempat.  Namun, dokter klinik menyebutkan Mesya terkena diare. Dokter lalu merujuknya ke Rumah Sakit Sitanala untuk segera dirawat.

"Anak saya langsung masuk IGD. Saya ajukan BPJS tapi ditolak karena punya saya BPJS Ketenagakerjaan. Akhirnya saya bayar Rp 370 ribu," ujarnya, Senin, 5 September 2016.

Akan tetapi bayi Mesya hanya dilayani perawatan biasa seperti bantuan oksigen, pemasangan cairan infus, dan obat-obatan. Dari hasil pemeriksaan dokter, Mesya didiagnosa infeksi paru-paru.

"RS Sitanala kemudian memberikan rujukan ke rumah sakit lain karena tidak mempunyai alat untuk menangani anak saya," lirih Misrun yang bekerja sebagai sopir truk sampah di Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Tangerang sebagai Tenaga Harian Lepas (THL) ini.

Tanpa diberi tahun harus ke mana, akhirnya Misrun mencari sendiri rumah sakit untuk merujuk putrinya.

 TPU Selapanjang tempat Mesya Rahayu dimakamkan

Sementara anaknya di IGD, Misrun pun berkeliling dengan mengendarai sepeda motor. Dia sempat mendatangi empat rumah sakit, yakni RSUD Kabupaten Tangerang, RS Sari Asih Karawaci, RS Melati dan RS Ar-Rahman. Namun semua rumah sakit itu menolaknya dengan alasan kamar penuh.

“Saya bawa rujukan, tapi rumah sakit cuma bilang kamar penuh. Mereka tidak menanyakan KTP saya dan kondisi anak saya,” ujarnya.

Karena terlalu lama mendapat pertolongan, kondisi Mesya makin kritis. Nafasnya kian sesak hingga nyawanya tidak tertolong. "Begitu lepas infus, kondisi anak saya langsung drop, kata dokter sakitnya sudah parah," pasrah Kokom.

Meski Jenazah Mesya sudah dimakamkan di tempat pemakaman umum Selapanjang, Tanggerang. Pihak keluarga masih menyayangkan tindakan pihak rumah sakit yang menolak merawat anaknya karena berasal dari warga tidak mampu.

“Jadi pasien biasa aja begini, gimana saya pakai BPJS,” ujarnya. 

Misrun juga mengatakan, meski sudah bekerja hampir 22 tahun di Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Tanggerang namun dia tidak mendapat jaminan kesehatan untuk keluarga. Setiap keluarganya sakit, dia harus membayarnya sendiri.

“Tidak ada bantuan kesehatan, semua pakai biaya sendiri,” pungkasnya. 

DIMAS ARIF SETIAWAN

4

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments