EDITOR : TITO SIANIPAR

21 Agustus 2016, 02:00 WIB

SURIAH

Sekilas tak ada yang berbeda dari anak-anak di video itu. Mereka ceria. Belajar di sekolah. Menggambar, menulis, bernyanyi, dan bermain dengan sesama temannya. Tapi di balik keceriaan itu, tersimpan tragedi yang tak terperi. Tragedi akibat perang berkepanjangan di Suriah sejak 2011.

Mereka adalah anak-anak yang selamat dari kekerasan dan konflik kekuasaan di Suriah. Anak-anak ini menjadi korban dari sesuatu yang mereka tidak mengerti. Mereka kehilangan segalanya. Rumah, saudara, bahkan orang tuanya. Mereka menjadi yatim piatu dan sebatang kara akibat perang.

Anak-anak Suriah itu kini hidup di tempat penampungan yang ada di Gazikent, Gaziantep, Turki. Kota ini terletak 43 kilometer di utara Suriah, dan 90 kilometer dari Aleppo, Suriah. Karena banyaknya pengungsi asal Suriah di sana, penduduk menamainya sebagai Syrian District, atau distrik orang-orang Suriah. 

Terdapat setidaknya 20 sekolah khusus yang dibangun untuk menampung anak-anak pengungsi Suriah. Sekolah-sekolah ini dibangun pemerintah Turki dan lembaga swadaya masyarakat lainnya guna memberi modal pendidikan bagi mereka. Setiap sekolah rata-rata menampung 200 anak Suriah.

Jumlah itu masih belum seberapa dibanding angka total anak-anak korban perang Suriah yang kehilangan masa anak-anaknya. Data UNICEF --badan PBB yang mengurusi anak-anak, terdapat 8,4 juta anak yang terdampak perang. Dari angka itu, 2,6 juta tak dapat melanjutkan pendidikannya. Dan 2,5 juta lainnya terdampar sebagai pengungsi.

Reporter NET Ferabi Ferdiansyah dan Suwardi Rosadi mengunjungi salah satu sekolah anak pengungsi di Gaziantep medio 2015 lalu; Future Road Private School. Terdapat 256 anak yatim piatu asal Suriah yang bersekolah tanpa dipungut biaya di sana. "Kurikulum kami adalah kurikulum Suriah," kata Muna Haj, Kepala Sekolah Future Road.

Meski berkurikulum Suriah, terdapat beberapa modifikasi yang dilakukan sekolah. Misalnya pelajaran bahasa yang ditambah. Yakni Arab, Inggris, Prancis, dan Turki. "Agar anak-anak berkomunikasi dengan mudah di Turki," kata Muna.

Modifikasi pengajaran yang paling penting adalah diutamakannya materi pemulihan trauma. Di kelas seni misalnya. Anak-anak dibiarkan berimajinasi menurut apa yang ada di kepala mereka. Sebagian anak menggambarkan hal-hal yang menyenangkan. Tapi masih ada yang menggambar tank yang menembak.

Tragedi yang dialami masih melekat di dalam benak mereka. "Mereka masih menyimpan memori tentang yang mereka lihat dan rasakan," kata Sahaf, guru seni di sekolah itu. Anak-anak ini seakan tak putus dirundung tragedi.

Yahya adalah salah satunya. Di balik hobi menggambar bocah 10 tahun itu, dia menyimpan trauma yang dalam. Pasalnya ia menyaksikan sendiri kakaknya tewas kena bom. Tak hanya sampai di situ. Dua bulan kemudian dia juga kehilangan ibunya.

Menurut Sahaf, hal-hal seperti inilah yang harus dihapuskan dari si anak. Caranya: dengan membuat suasana belajar menyenangkan, dan metode belajar sambil praktik. "Sehingga tidak ada lagi anak-anak yang merenung," ujar Sahaf. 

Untuk mengobati trauma perang, selain menyediakan menyediakan konselor atau psikiater, sekolah juga menerapkan pendidikan karakter yang mengutamakan optimisme. Anak-anak didiajari bahwa mereka punya masa depan yang baik. Bahwa kelak kondisi tanah kelahiran mereka juga akan menjadi lebih baik dari saat mereka dipaksa mengungsi.

Menurut Muna, di atas semua itu, yang tak kalah penting untuk diterapkan sekolah adalah menjaga agar anak-anak tetap bahagia. Kelas-kelas seperti musik, seni, dan olah raga di luar ruangan menjadi yang utama. "Kami ingin anak-anak merasa senang," ujar Muna.

Susah untuk mengatakan kondisi anak-anak ini sekarang lebih baik dari teman-teman mereka yang masih ada di Suriah. Apa yang terjadi pada Omran Daqneesh, 18 Agustus 2016 lalu, menceritakan banyak. Betapa menderitanya anak-anak Suriah. Betapa teror kekerasan, bahkan berupa bom sekalipun, adalah bagian dari keseharian mereka.

Apakah anak-anak di Gazikent yang kehilangan orang tuanya lebih beruntung kondisinya daripada Omran? Yang pasti, tidak ada yang lebih beruntung dari sebuah perang, selain si pemilik pabrik senjata. 

TITO SIANIPAR

BACA JUGA:
Omran, Bocah Suriah yang Disorot Dunia
Banyak Anak Suriah yang Bernasib Seperti Omran Daqneesh
Kisah Fotografer di Balik Jepretan Omran Bocah Aleppo

2

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments