hero

EDITOR : FAJAR ANUGRAH PUTRA

10 Agustus 2016, 07:05 WIB

JEPANG

Jepang sebagai negara maju sedang memiliki masalah. Bom waktu yang berbahaya bagi masa depan bangsa dan negara mereka. Bukan persoalan ekonomi atau pertahanan negara, namun frekuensi dan kebiasaan seks orang Jepang semakin mengkhawatirkan.

Sebuah penelitian baru-baru ini membuktikan kalau generasi muda dan produktif Jepang sudah jarang, bahkan enggan melakukan hubungan intim. Akibatnya, angka kelahiran lebih kecil dibanding jumlah kematian. Ada sekitar satu juta kelahiran berbanding 1,3 juta kematian pada 2014. Bila ini terus berlanjut, Jepang akan memiliki masyarakat kelompok usia tua dan tidak produktif yang lebih gemuk dibanding anak muda produktif di masa depan.

Diprediksi, Jepang ‘hanya’ akan memiliki populasi sebanyak 107 juta penduduk pada 2040 atau lebih sedikit 20 juta orang di angka populasi 2016. Sebagian besar komposisi penduduk di 2040 adalah kakek nenek.

Japan Times mengutip hasil survei Japan Family Planning Association terhadap 1.134 responden pria dan wanita dengan usia 16 tahun sampai 49 tahun. Survei itu menunjukkan data bahwa 49,3 persen responden belum melakukan hubungan seks dalam sebulan terakhir. Rinciannya sebanyak 48,3 persen adalah pria dan 50,1 persen merupakan wanita.

Sebanyak 21,3 persen responden pria yang sudah menikah dan 17,8 persen wanita berumah tangga menyatakan kalau mereka terlalu lelah untuk berhubungan seks karena kesibukan pekerjaan. Sedangkan 23 persen wanita menikah mengatakan kalau berhubungan intim dengan suaminya terlalu merepotkan dan menghabiskan waktu.

Ada 17,9 persen responden pria yang mengaku sudah tidak tertarik lagi berhubungan seks karena sibuk bekerja atau bisnis. Mereka tidak ada waktu dan tenaga ekstra untuk berhubungan intim dengan pasagannya.

Tidak melulu soal seks, generasi muda Jepang juga sudah tidak tertarik berpacaran. Ada 27 persen responden pria dan 23 persen wanita yang tak tertarik pacaran apalagi PDKT. Usia mereka di antara 18 tahun sampai 34 tahun.

Jam kerja yang super sibuk dan tuntutan materi membuat generasi muda Jepang hanya fokus bekerja dan berbisnis mencari uang. Bahkan, para wanita muda di sana sampai enggan menikah apalagi memiliki anak karena ingin memiliki karier yang tinggi.

Jepang menjadi salah satu negara dengan pengakuan keseteraan gender yang rendah. Banyak pekerja wanita yang sulit mencapai high management position meskipun pendidikan dan skill mereka bagus. Saat hamil pun mereka akan diminta berhenti bekerja dan mengasuh anak di rumah, suatu aktivitas kehidupan yang tidak lagi diinginkan generasi muda Jepang.


INDEPENDENT – BUSINESS INSIDER – JAPAN TIMES
 

FAJAR ANUGRAH PUTRA
 

2

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments