EDITOR : OCTOBRYAN

29 Juli 2016, 01:55 WIB

KAB. CILACAP, INDONESIA

Setelah jeda selama lebih dari setahun, pemerintah Indonesia kembali melakukan eksekusi mati terhadap narapidana narkoba.

Meski sempat terkendala oleh cuaca buruk namun sebanyak 14 terpidana mati akhirnya dieksekusi di Lapangan Tembak Limus Buntu, Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Jumat, 29 Juli 2016 pukul 00.23. Di antaranya 10 warga negara asing dan 4 warga Indonesia.

Keempat belas terpidana telah dimasukkan ke dalam sel isolasi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Batu di Nusakambangan sejak Selasa, 26 Juli lalu. Kejaksaan Agung juga memberi notifikasi kepada kedutaan besar asing yang warganya akan dieksekusi, 72 jam sebelum pelaksanaan.

Pihak keluarga terpidana dan rohaniawan diberi kesempatan untuk mengunjungi dan mendampingi hari-hari terakhir mereka.

Baca Juga: 
Eksekusi Mati Sebentar Lagi, Begini Persiapan di Nusakambangan
Eksekusi Mati, Amnesty Internasional Kritik Jokowi
Ambulans Bawa Peti Mati ke NusaKambangan
Ramai-ramai Tolak Eksekusi Mati

Ini adalah kali ketiga eksekusi di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Eksekusi pertama dilakukan terhadap 6 terpidana pada 18 Januari 2015 lalu. Sedangkan 8 orang berikutnya dieksekusi pada gelombang kedua, 29 April 2015.

 

Berikut adalah profil singkat dan kasus yang menjerat 14 terpidana mati yang berhasil dihimpun tim Net.Z:

1. Humphrey Jefferson (Warga Negara Nigeria)

Jefferson adalah seorang pemilik restoran. Ia ditangkap pada 2003 di Depok setelah polisi menemukan 1,7 kg heroin di ruangan yang digunakan oleh salah satu mantan karyawannya.

Ia divonis hukuman mati pada 2004 dan dikabarkan menolak untuk meminta grasi kepada Jokowi. Menurutnya, jika meminta grasi, itu berarti ia meminta ampun atas kejahatan yang ia tidak lakukan.

2. Mikae Titus igweh (Warga Negara Nigeria)

Titus bekerja sebagai importir pakaian ketika ia divonis hukuman mati pada 2003 atas kepemilikan 5,8 kg heroin. Ia mengklaim bahwa alat kelaminnya disetrum saat diinvestigasi oleh polisi agar mengaku.

Mahkamah Agung menolak peninjauan kembali (PK) yang ia ajukan. Dua rekan Titus yang lain meninggal dunia saat menjalani hukuman tahanan sehingga tidak bisa menjadi saksi.

3. Ozias Sibanda (Warga Negara Nigeria)

Sibanda ditangkap pada 2001 bersama 3 orang lainnya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta ketika tiba di Jakarta. Ia tertangkap menyelundupi ribuan gram heroin dalam bentuk kapsul.

Sibanda masuk ke Indonesia dengan menggunakan paspor berkewarganegaraan Zimbabwe, namun belakangan mengonfirmasi bahwa ia sebenarnya adalah warga negara Nigeria.

4. Eugene Ape (Warga Negara Nigeria)

Ape ditangkap pada 2003 dan divonis hukuman mati setelah tertangkap membawa 300 gram heroin dalam tas.

Jaksa Penuntut Umum di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada awalnya menuntut Ape hukuman 12 tahun penjara, namun majelis hakim menjatuhkan hukuman mati.

5. Obina Nwajagu (Warga Negara Nigeria)

Nwajagu dijatuhkan hukuman mati setelah ia tertangkap di Hotel ketika sedang membeli 45 kapsul heroin seberat 400 gram dari seorang warga negara Thailand. Setelah dipindahkan ke Nusakambangan, ia ternyata masih mengendalikan peredaran narkoba meski di dalam sel.

Ia ditahan di LP Nusakambangan sejak 2003. Permohonan ampunnya telah ditolak oleh Presiden Jokowi.

6. Okonkwo Nonso Kingsley (Warga Negara Nigeria)

Kingsley ditangkap di Bandara Polonia, Medan, Sumatera Utara, pada 2003 ketika ia mencoba menyelundupkan 1,1 kg heroin. Ia dihukum mati pada 2004.

Heroin tersebut ia simpan dalam kapsul yang ia sudah telan sebelumnya. Petugas bea cukai menemukan barang tersebut ketika mencurigai bentuk perutnya yang terlihat aneh.

Mahkamah Agung menolak PK pada November 2014.

7. Freddy Budiman ( Warga Negara Indonesia)

Freddy diketahui adalah salah satu bandar narkoba terbesar di Indonesia. Ia pertama kali ditangkap pada 2009 atas kepemilikan 500 gram shabu. Ia kemudian divonis 3 tahun dan 4 bulan penjara.

Pada 2011, ia kembali ditangkap atas kepemilikan ratusan gram shabu dan peralatan untuk membuat narkoba, sehingga divonis 18 tahun penjara.

Setahun kemudian, dari balik jeruji penjara, ia tertangkap mengontrol peredaran 1,4 juta pil ekstasi dari China dan divonis hukuman mati. Ia juga ditangkap dalam kasus-kasus yang berbeda dalam kurun waktu 2013-2016 saat mengontrol pengiriman narkoba dari dalam penjara.

8. Merri Utami (Warga Negara Indonesia)

Merri divonis hukuman mati pada 2003 ketika ia tertangkap membawa 1,1 kg heroin saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta dari Taiwan.

Lembaga Komnas Perempuan mengatakan ia merupakan korban perdagangan manusia. Merri pun mengaku ia sempat disiksa oleh polisi saat diinterogasi agar mengaku.

9. Agus Hadi (Warga Negara Indonesia)

Agus Hadi ditangkap bersamaan pada 2006 ketika mencoba menyelundupkan 25.000 pil ekstasi ke Kepulauan Riau dari Malaysia. Dia dihukum mati pada tahun berikutnya dan tidak meminta keringanan hukum atas vonisnya.

10. Pujo Lestari (Warga Negara Indonesia)

Pudjo Lestari merupakan rekan Agus Hadi yang menyelundupkan 25.000 pil ekstasi ke Kepulauan Riau dari Malaysia. Dia dihukum mati pada tahun berikutnya. Keduanya didalangi oleh Suryanto alias Ationg yang juga divonis hukuman mati.

11. Gurdip Singh (Warga Negara India)

Singh ditangkap pada Agustus 2004 di bandara karena perannya sebagai kurir dalam menyelundupkan 300 gram heroin. Ia divonis hukuman mati pada 2005 oleh Pengadilan Negeri Tanggerang, Banten.

12. Zulfiqar Ali (Warga Negara Pakistan)

Kasus Ali dan Gurdip Singh, terpidana mati warga negara India, berkaitan. Singh mengatakan ia mendapat obat-obatan terlarang dari Ali, namun kemudian menyangkalnya. Menurut Singh, ia mengatakan hal tersebut karena dipaksa mengaku.

Namun pengadilan menyatakan ALi bersalah dan menjatuhkan vonis hukuman mati pada Juni 2005.

Ayah 6 orang anak ini ditransfer ke ruang isolasi Lapas Batu, Nusakambangan, dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cilacap. Ia masuk RSUD pada 16 Mei 2016 karena menderita komplikasi hepatitis, bronkitis, dan liver.

13. Seck Osmane (Warga Negara Senegal)

Osmane tertangkap tangan memiliki 2,4 kilogram heroin di sebuah apartemen di Jakarta Selatan. Ia pun divonis hukuman mati oleh hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Juli 2004.

14. Frederick Luttar (Warga Negara Zimbabwe)

Luttar, warga negara Zimbabwe, masuk ke Indonesia dengan menggunakan paspor palsu asal Zimbabwe. Ia ditangkap pada 2006 karena menyelundupkan satu kilogram heroin. Dirinya sempat mengajukan PK namun ditolak.

TIM LIPUTAN NET.Z

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments