hero
KRI Banjarmasin mengarungi samudera. (NET/Aulia)

Jalesveva Jayamahe

EDITOR : TITO SIANIPAR

10 Juli 2016, 06:30 WIB

CINA

Mengarungi Laut Cina Selatan dengan KRI Banjarmasin 592 adalah kemegahan dan kemewahan. Pada pertengahan 2014 lalu, saya berkesempatan menunggangi kapal perang jenis Landing Platform Docks (LPD) ini. Saya baru bergabung di Tarakan, Kalimantan Utara, sementara KRI Banjarmasin sudah berlayar dari Surabaya, Jawa Timur.

Setelah tujuh hari terapung, Banjarmasin akhirnya tiba di Pelabuhan Qingdao, Cina, pada 20 April 2014. Hari mengharu biru bagi saya, antara senang dan bingung. Senang karena akhirnya bisa memutus kebosanan selama di laut. Bingung karena berpikir kegiatan apa yang bisa saya lakukan ketika 3 hari kapal bersandar. 

Kapal membawa 89 kadet Akademi Angkatan Laut, dalam rangka Kartika Jala Krida, salah satu fase latihan praktik yang wajib dilalui para taruna. Mereka ditempa selama 44 hari di kapal mengarungi lautan. Selain itu, Banjarmasin juga membawa 132 awak untuk misi latihan dan persahabatan, antara lain Multilateral Maritime Exercise dan International Fleet Review di Qingdao.

Setelah berpikir dan diskusi, saya --jurnalis yang hanya berbekal kamera dan security clearance dari TNI Angkatan Laut, mantap untuk tidak “pecicilan” selama berada di Cina. Soalnya saya tidak mengantongi visa. Bukannya penakut, tapi menghindari hukum yang tidak pandang bulu.

Tapi syair lagu Balada Pelaut terngiang terus di telinga. "So balayar sampai so ka ujung dunia. Banya doi baroyal, abis parcuma. Dorang bilang pelaut obral cinta. Dompet so kosong baru inga rumah." Saya merasa saya adalah pelaut. Saya ingin merasakan 'baroyal' dan 'obral cinta'.

Tapi niat itu harus diurungkan. Malam pertama di Cina awak kapal belum diizinkan turun ke daratan. Kesempatan ini digunakan beberapa pejabat TNI Angkatan Laut untuk memberikan pembekalan kepada prajurit. Salah satunya adalah Asisten Perencanaan TNI AL, yang pada saat itu dijabat Laksamana Muda Ade Supandi.

Ade membawa kabar gembira, sejumlah uang akan dibagikan kepada tiap orang. Ia menjelaskan, bahwa uang ini merupakan pemberian Kepala Staf Angkatan Laut yang bisa digunakan oleh prajurit untuk pesiar. Uang dibagikan melalui Palaksa (perwira pelaksana), tapi dirahasiakan berapa jumlahnya. Dalam sekejap aura kebahagian menyelimuti geladak helikopter, tempat pembekalan itu berlangsung.

Maklum gaji TNI terlampau kecil jika dibandingkan besarnya biaya hidup, apalagi untuk pesiar di kota pelabuhan nan metropolis seperti Qingdao. Untuk pangkat mayor dengan masa kerja 20 tahun saja anggota TNI hanya mengantongi Rp 3,8 juta, belum lagi prajurit-prajurit di level bintara dan tamtama. Tentu uang menjadi masalah utama jika ingin menikmati hiburan.

Hari kedua, kabar baik bertiup. Militer Cina mengijinkan kami turun dari kapal. Hal pertama yang kami lakukan di darat adalah mencari makanan. Pasalnya saya bosan dengan menu makan yang itu-itu saja: pagi ikan, siang telur, malam ayam, atau daging sapi. 

Pilihan kami jatuh pada sate domba khas Ningxia, salah satu provinsi di Cina dengan penduduk muslim terbesar. Makanan ini dipilih karena daging domba ramah dengan lidah orang Indonesia dan tidak diragukan kehalalannya.

Selesai berkuliner ria, perjalanan berlanjut mencari oleh-oleh. Bagi pelaut keluarga adalah nomor satu. Lima dari enam orang anggota TNI AL yang saya temani, mencari mainan yang telah dipesan oleh anaknya sebelum berlayar. 

Senja berganti malam ketika kami masih berkutat di salah satu toko yang menjual mainan remote control. Miniatur helikopter yang bisa dikendalikan jarak jauh menjadi mainan yang paling diincar oleh pelaut-pelaut ini. Membelikan mainan yang disuka anak adalah kebahagiaan tersendiri bagi mereka.

Malam kian larut, kami beralih ke May Fourth Square, alun-alun terbesar di Qingdao. Ini adalah meeting point kami dengan WNI yang tinggal disana. WNI di Qingdao kebanyakan adalah mahasiswa. Mereka dengan berbisik-bisik bercerita tentang kehidupan malam di sini. “Wah, akhirnya yang saya nantikan datang,” saya bergumam.

Sejak zaman pendudukan Jerman, masyarakat Qingdao terkenal dengan kehebatannya meracik bir. Kawasan ini juga memiliki berbagai tempat hiburan malam yang meriah. Mereka menawari kami berkunjung ke salah satu klub malam di situ, Qingdao Da Dongfang Night Club. 

Alasan mereka mengajak ke tempat itu karena semua biaya --termasuk minuman dan tiket masuk, bagi para ekspatriat gratis. Tanpa pikir panjang kami mengiyakan ajakan mereka. “Kapan lagi bisa ajojing di luar negeri, gratis pula,” salah satu teman merespon. Kami menikmati malam di klub malam itu.

Untuk tawaran minum gratis, siapa yang menolaknya? Apalagi jika upah hanya cukup untuk makan dan hidup. Entah pelaut, wartawan, public relation, pelayan klub malam, maupun montir pasti akan menerimanya. Intinya sih, tergantung orangnya.

Keesokannya, klub malam yang sama menjadi tujuan kami. Apalagi alasannya jika bukan karena gratis! Berbeda dengan kemarin, malam ini kami berangkat dengan penuh persiapan. Memilah baju yang hendak dipakai, dandan, hingga menyortir barang bawaan. Kami ingin malam ini lebih sempurna.

Taksi yang untuk empat orang dipenuh sesak berlima, mengantarkan kami menuju Donghai Road, tempat Da Dongfang berada. Dengan sok asyik, kami masuk sambil menyapa para pramuria yang sedang berjaga. Kami memesan sejumlah minuman dan mulai berjoget. 

Ketika hendak menambah minuman, bukannya gelas berisi minuman yang mereka sodorkan melainkan tagihan sebesar 1500 Yuan atau setara dengan Rp 3 juta. Beberapa dari kami pucat karena kaget. Harga minuman itu terasa teramat mahal. Tapi kami bersyukur karena tidak sempat memesan minuman lebih banyak. Ternyata apa yang mereka gratiskan adalah strategi pemasaran agar para ekspatriat kembali ke tempat yang sama.

Alhasil kami patungan untuk menutup biaya tagihan. Tidak sesuai harapan, malam itu berakhir kecut. Kami memutuskan untuk kembali ke kapal. Masih dalam formasi yang sama, lima orang dalam satu taksi.

Dari kisah itu, saya tidak menemukan algoritme yang kuat antara pelaut dengan 'baroyal' dan 'obral cinta'. Tidak ada yang royal menghamburkan uang. Juga tidak ada yang mengobral cinta di negeri seberang.

Peluang pelaut untuk menikmati hiburan kian kecil, lantaran masih panjangnya perjalanan. Lepas dari Qingdao, KRI Banjarmasin menyambangi Busan, Sasebo dan Manila sebelum kembali ke Surabaya. Ada dua pilihan bagi kami, membawa uang untuk sanak famili atau menghabiskannya untuk diri sendiri.

AULIA RAHMAT

1

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments