hero
Pertemuan Presiden Joko Widodo dan Barack Obama. (setkab.go.id)

Kolom Akhir Pekan

EDITOR : TITO SIANIPAR

18 Juni 2016, 06:30 WIB

AMERIKA SERIKAT

Kita perlu membuka cakrawala terhadap kemungkinan-kemungkinan yang menguntungkan bila Donald Trump menjadi presiden Amerika.

Saya masih menganggap Barack Obama presiden yang sangat cool. Dia bisa terlihat menikmati suasana dan membawa dirinya menjadi terlihat keren. Sulit untuk melupakan cara Obama melekatkan diri dengan Indonesia dari pengalaman masa kecilnya. Dengan dua kata, sate dan bakso.

Coolness terakhir Obama yang mengesankan saya saat dia tampil di The Tonight Show Starring Jimmy Fallon belum lama ini. Obama bersama Fallon melantunkan pencapaian kepemimpinannya selama 7,5 tahun dengan “Slow Jam the News”. Diiringi musik rhythm and blues yang lembut, Obama menyebut tentang penurunan angka pengangguran, legalisasi pernikahan gay, membuka hubungan diplomatik dengan Kuba, dan kesepakatan nuklir dengan Iran. 

Di situ, Obama juga menyatakan dukungan kepada kandidat calon presiden dari Partai Demokrat, Hillary Clinton yang dia percaya bisa meneruskan warisan programnya. Obama juga menyebut acara televisi “Orange is Not The New Black” untuk menyindir Donald Trump yang berkulit oranye. 

Bagian menarik dalam “Slow Jam the News” adalah tentang kesepakatan perdagangan bebas Trans-Pacific Partnership (TPP). Obama mengatakan, “TPP memungkinkan bisnis di Amerika untuk menjual produknya di dalam dan luar negeri. Lebih banyak yang kita jual di luar, makin banyak pula pekerjaan berpenghasilan tinggi di dalam rumah. Sesederhana itu.”

Sejatinya, Obama merespon pernyataan Trump yang ingin mengenyahkan TPP dan menjalankan aturannya sendiri tentang perdagangan luar negeri. Selain menampik Trump, Obama juga memberi pesan bagi calon penerus yang dia dukung Hillary Clinton, yang juga bersikap menolak TPP.

Bagi Trump, TPP adalah bencana dan sama buruknya dengan NAFTA. Menurut dia, iPhone dan semua produk Apple harusnya dibuat di Amerika, bukan Cina. Ia juga mengecam rencana industri mobil memindahkan produksinya dari Detroit ke Meksiko. Bila itu terjadi, ia berencana melarang produk mereka masuk Amerika. Ide Trump itu enak di telinga.

Trump yang sering dianggap lelucon konyol, punya semangat sendiri tentang patriotisme ekonomi. Baginya, TPP bukan ide yang bagus untuk menarik minat pemilih.

Perjanjian TPP diteken di Atlanta, 5 Oktober 2015 oleh 12 negara, yaitu Amerika Serikat, Kanada, Australia, Jepang, Selandia Baru, Meksiko, Cile, Peru, Malaysia, Singapura, Brunei dan Vietnam. Meski bukan inisiator awal, Amerika semangat dengan TPP karena ingin membuat blok perdagangan baru menghadang derasnya ekspor Cina.

Isu TPP sempat panas di Indonesia. Presiden Joko Widodo dalam lawatannya ke Amerika Serikat akhir Oktober 2015, menyatakan Indonesia ingin bergabung dengan TPP. Niat Jokowi menggelikan mengingat proses negosiasi TPP saja sangat alot. Selama tujuh tahun terjadi proses negosiasi sebanyak 19 kali. Obama saja mengaku kaget ketika mendengar Jokowi ingin Indonesia masuk TPP. 

Kesepakatan TPP sangat tertutup, detail perjanjian tidak pernah dibuka ke publik. Bahkan anggota parlemen di negara-negara yang terlibat tidak bisa mengakses dokumen TPP. Sementara sekitar 600 korporasi bisa ikut memberi masukan dalam proses negosiasi.

Bagi Jokowi, Indonesia akan diuntungkan karena penerapan bea masuk nol persen untuk ekspor ke negara anggota TPP. Selama ini, misalnya, ekspor garmen Indonesia ke Amerika dikenakan tarif pajak 15-20 persen. Di sisi lain, isi kesepakatan TPP lainnya adalah mengharamkan keistimewaan bisnis bagi perusahaan milik negara. 

Dalam kunjungan berikutnya ke AS pada Februari 2016, Jokowi menjauhkan wacana TPP. Kata Jokowi, tidak dalam waktu dekat Indonesia ikut TPP. Mungkin tiga atau empat tahun lagi. Itu masih lama. Yang akan terjadi dalam waktu lebih dekat adalah Trump (mungkin) akan menjadi presiden AS.

Trump yang sering dipandang sebagai lelucon konyol, dinilai tak mungkin memenangkan pemilu Amerika bulan November nanti. Tapi ia tinggal satu langkah menjadi presiden. Rivalnya, Hillary menjadi semakin tidak menarik. Tema awal kampanye Hillary untuk menjadi presiden perempuan AS pertama sudah tidak lagi laku. 

Selain itu, Hillary dianggap punya ambisi yang besar tentang perang. Tahun 2002 sebagai anggota senat dia memberi suara mendukung rencana Presiden George W Bush untuk pengerahan kekuatan militer ke Irak. 

BACA JUGA:
Kim Jong Un Dukung Donald Trump Jadi Presiden Amerika
Ketika Kim Jong Un dan Donald Trump Berkoalisi
Dalai Lama Bicara soal Islam

Proses awal pemilu Amerika sempat sangat menarik karena sosok Bernie Sanders. Bernie memiliki kedalaman yang tidak dipunyai Hillary. Ia juga memberi warna ideologi kiri yang selama ini tidak kentara di Amerika. Seorang mantan demonstran dan marxis, betarung untuk kursi presiden. Namun kesempatan Bernie pupus karena dikalahkan Hillary dalam konvensi kandidat capres Partai Demokrat.

Trump tidak bisa dianggap remeh. Tahun 1980, Ronald Reagen dipandang sebelah mata karena anggapan tak mungkin seorang aktor menjadi Presiden AS. Kenyataan bicara lain. Tahun 2001 orang juga menganggap tak mungkin orang dengan level intelektual George W. Bush bisa memenangkan pemilu. Ternyata dia menang. Bahkan dua periode.

Jadi kali ini, bila ada yang menganggap Trump tak bakal memenangkan pemilu, maka harus melihat ulang sejarah pemilu Amerika. Saya lebih antusias melihat Trump daripada Hillary. Saya ingin melihat sejauh apa Trump bisa mewujudkan jargon “Make America Great Again”, yang didaur ulang dari slogan kampanye Ronald Reagan tahun 1980.

Trump berkampanye, lengkap dengan jargonnya. (APTN)

Sebaiknya kita berhenti melihat Trump sebagai monster yang akan menghancurkan apa saja. Pernyataan bombastis yang ia lontarkan sebenarnya hanya penarik perhatian. Trump mengatakan ia akan menutup pintu Amerika bagi imigran muslim. Orang Islam mana yang pengen migrasi ke Amerika? 

Asal tahu saja, tujuan arus migrasi dari negara-negara berpenduduk muslim justru ke Kanada, Jerman, dan negara Eropa lain. Soalnya Amerika tidak punya sistem kesejahteraan sosial yang menarik seperti di Eropa atau Australia.

“Saya pikir Islam membenci kita,” kata Trump. Untuk merespons pernyataan itu, seharusnya kita tidak membenci Trump. Sebab ia sedang melakukan self-fulfilling prophecy. Ia membuat dugaan atau mitos yang kemudian bisa benar terjadi karena terlampau kuat umpan balik terhadap dugaan itu. Watch out!

Meski sering melontarkan pernyataan bernada Islamophobia, Trump tetap menancapkan gurita bisnisnya di negara-negara berpopulasi muslim seperti Indonesia. Trump memang memanggul paradoksnya sendiri. Ia sangat liberal (mendukung pernikahan gay), tapi menjadi capres dari Partai Republik yang disokong kalangan konservatif.

Bagi Indonesia, Trump bisa berguna untuk memperkuat taring menghadapi invasi Cina di Laut Cina Selatan. Platform program Trump untuk menghadapi Cina adalah memperkuat kehadiran militer di Laut Cina Selatan. Hubungan Indonesia dan Cina sendiri sempat tegang sejak insiden penangkapan kapal pencuri ikan Cina oleh armada TNI AL, Maret 2016. 

Trump harus direspon lebih santai. Yakinlah, bila nanti tombol kendali rudal nuklir AS di bawah tangannya, ia tidak akan meratakan dunia. Menjadi pemimpin di negara besar seperti Amerika, Trump tidak akan bisa mengubah frontal situasi dan kebijakan lama, semudah membalikkan telapak tangan. 

Dulu janji kampanye Obama menghentikan mobilisasi tentara Amerika ke Irak. Sampai sekarang keadaan Irak tidak membaik. Bahkan Amerika telah membangun perang baru di Suriah. Namun Obama tetap berhasil membuat dirinya terlihat cool. Kalau Trump, entahlah...

Alfred Pasifico Ginting, jurnalis, kini menetap di Melbourne, Australia.

14

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments