EDITOR : TITO SIANIPAR

16 Juni 2016, 06:30 WIB

INDONESIA

Hasto Kristiyanto setia berdiri menunggu di depan pintu masuk. Satu demi satu tamu yang datang disambutnya. Berturut dari Ketua Partai Golkar Setya Novanto, Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti, Ketua Partai NasDem Surya Paloh bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan seterusnya hingga Presiden Joko Widodo bersama Ibu Negara Iriana Jokowi.

Tetapi sejatinya Hasto bukanlah tuan rumah. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan ini hanya bertindak sebagai penyambut tamu bagi sang sahibul bait Megawati Soekarnoputri. Hampir semua petinggi republik dan elit politik hadir di rumah di Jalan Teuku Umar Nomor 27A, Menteng, Jakarta Pusat pada Rabu, 8 Juni 2016 malam, pekan lalu itu.

Mereka berkumpul di kediaman Mega untuk agenda yang sama. "Hari ini keluarga besar memperingati wafatnya Pak Taufiq tahun ketiga," kata Achmad Basarah, politisi PDI Perjuangan yang juga ketua panitia haul, di tempat acara.

Taufiq Kiemas, suami Megawati, meninggal 8 Juni 2013 ketika berusia 70 tahun akibat serangan jantung. Pria kelahiran Jakarta, 31 Desember 1942 itu menjabat sebagai Ketua MPR. Bersama Megawati, Taufiq memiliki keturunan Puan Maharani yang kini menjabat Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Presiden Joko Widodo di acara Haul ke-3 Taufiq Kiemas, 8 Juni 2016. (NET)

Beberapa petinggi lainnya yang hadir adalah Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, Ketua Mahkamah Konstitusi Arief Hidayat, Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat, serta Kepala BIN Sutiyoso.

Tak ketinggalan kalangan elit dan politisi. Yakni Ketua PB Nahdlatul Ulama Said Aqil Siroj, Ketua PP Muhammadyah Haedar Nashir, Ketua DPR Ade Komarudin, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Ketua PKB Muhaimin Iskandar, dan Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham. Termasuk Wakil Kapolri Komisaris Jenderal Budi Gunawan dan Kepala BNN Komisaris Jenderal Budi Waseso.

Pengamat politik LIPI Siti Zuhro menilai wajar kehadiran para elit dan petinggi negara di acara tersebut. "Ini adalah bentuk pengakuan atas peran almarhum dalam perpolitikan Indonesia selama ini," kata Siti soal sosok Taufiq, kepada NET Z. "Beliau adalah sosok yang bisa diterima semua kalangan."

Surya Paloh dan Wakil Presiden Jusuf Kalla di Teuku Umar. (NET)

Meski beragenda acara sosial keagamaan --juga diisi dengan buka puasa bersama, tetap saja unsur politis dalam kegiatan itu tak terhindarkan. Presiden Jokowi misalnya. Dalam pidatonya sempat menyinggung soal rencana perombakan kabinet. "Saya jadi ingat reshuffle kalau begini," kata Jokowi, seperti ditirukan Ruhut Sitompul kepada NET Z.

Ruhut yang juga hadir di sana, menceritakan bahwa kelakar Jokowi itu terkait sambutan Siroj yang juga menyinggung soal keberadaan menteri-menteri dari NU di Kabinet Kerja. "Tapi siapa yang di-reshuffle jangan kau tanya aku. Hanya Pak Jokowi dan Tuhan yang tahu," ujarnya terbahak.

Tak hanya soal reshuffle, berbagai agenda politik bisa menyelubungi 'pertemuan tingkat tinggi' semacam itu. Kehadiran sejumlah tokoh mengundang tanya publik soal berbagai isu. Misalnya saja pemilihan Gubernur DKI Jakarta yang masih belum jelas apakah Ahok akan tetap berpasangan dengan Djarot. Juga soal calon Kepala Polri pengganti Jenderal Badrodin Haiti yang dua diantaranya hadir di rumah Mega.

Peran sentral Teuku Umar sejatinya sudah meninggalkan jejak yang tak sedikit dalam menentukan arah kebijakan maupun pengkongsian politik di negeri ini. Tercatat beberapa kali elit dan pejabat negara harus 'berkonsultasi' dengan Teuku Umar.

Sebut saja ketika awal penyusunan Kabinet Kerja pada Oktober 2014. Ketika itu deputi tim transisi Rini Sumarno dan Andi Widjajanto hadir ke Teuku Umar. Perihal restu Mega untuk anggota kabinet ini bahkan disebut sebagai salah satu alasan penundaan pengumuman kabinet.

Setelah itu, beberapa kekuatan politik di luar PDI Perjuangan juga 'sowan' ke Teuku Umar. Ketua Umum PKPI Sutiyoso pada 13 Januari 2015, hingga rombongan besar Partai Golkar yang dipimpin Agung Laksono pada 16 Maret 2015. Ketika itu internal Golkar sedang berseteru perihal kepemimpinan dan dukungan ke pemerintah.

Agung Laksono di rumah Megawati, 16 Maret 2015. (NET)

Hadir menemani Agung antara lain Zainuddin Amali, Priyo Budi Santoso, Agus Gumiwang Kartasasmita, Yorrys Raweyai, Leo Nababan, dan Agun Gunandjar Sudarsa. Hal yang sama berulang ketika Ketua Partai Hanura Wiranto, Ketua PPP Muhammad Romahurmuziy dan ketua PKB Muhaimin Iskandar pada 3 November 2015.

“Ini pertemuan rutin yang dilakukan oleh para ketua umum partai politik yang mendukung Jokowi-JK yang membahas dinamika politik Indonesia saat ini," kata Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto ketika itu. Isu reshuffle kabinet berhembus kencang yang membuat anggota Koalisi Indonesia Hebat berkumpul di Teuku Umar.

Peran sentral Teuku Umar dalam perpolitikan tanah air tak mungkin dipungkiri. Apalagi terkait posisi Megawati sebagai ketua umum partai pemenang pemilu, yang juga sempat menyentil Presiden Jokowi soal ‘petugas partai’. Pengaruh Mega, yang juga mantan Presiden Indonesia, masih dirasa signifikan dalam perpolitikan.

“PDI Perjuangan mau tidak mau harus diperhitungkan dalam khasanah perpolitikan tanah air,” ujar Zuhro. "Pertama PDIP adalah partai pemenang pemilu tahun 2014. Kedua saat ini PDIP merupakan partai pemerintah berada dalam lingkar kekuasaan. Selain itu dalam pilkada yang dilakukan di berbagai daerah banyak dimenangkan oleh kader-kader PDIP," tambah peraih gelar Ph.D Ilmu Politik dari Curtin University, Perth, Australia ini.

Lingkar kekuasaan ini jugalah yang membuat sejumlah pembantu Presiden merasa perlu bertamu ke Mega. “Ini pertemuan sahabat lama, kami banyak nostalgia. Kami juga bahas perkembangan situasi,” kata Menteri Koordinator Maritim Rizal Ramli ketika berkunjung ke Teuku Umar pada 9 September 2015 lalu.

Rizal Ramli saat ke Teuku Umar, 9 September 2015. (NET)

Pembahasan politik dengan segala perkongsiannya di Teuku Umar ini lah yang juga menjadi sorotan cahaya kamera ketika Haul Taufiq Kiemas itu. Urusan pemilihan Gubernur Jakarta 2017 mendatang, mencuat dari dalam rumah yang masuk dalam konsesi cagar budaya itu. Pasalnya PDI Perjuangan punya 28 kursi DPRD DKI Jakarta yang berarti punya tiket prerogatif mengajukan calon.

Diundang dan datangnya Ahok ke acara itu layak dibaca sebagai restu Mega buat mantan Bupati Belitung Timur itu. Sejumlah pertanda juga mengarah pada hal itu. "Bu Mega sangat memperhatikan Ahok. Saya melihat chemistry dari pertemuan mereka. Gesture-nya menunjukkan Bu Mega sangat memperhatikan Ahok," ujar Ruhut.

Ahok sendiri tidak berani mengatakan tidak kepada Mega, meski punya Teman Ahok yang sudah mengumpulkan KTP dan melampaui kebutuhan jalur non partai. Seusai acara haul, kepada awak media yang menunggu, ia berujar, "Ini temannya Jokowi, orangnya Bu Mega," kata Ahok menepuk dada sendiri.

TITO SIANIPAR | DEDE ROHALI | TRIO SATRIA

 

 

2

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments