hero
Ilustrasi final NBA 2016. (NET/Robby Eka)

Final NBA 2016

EDITOR : TITO SIANIPAR

3 Juni 2016, 00:15 WIB

AMERIKA SERIKAT

Partai pertama final NBA 2016 digelar Jumat, 3 Juni 2016 pagi waktu Indonesia (atau Kamis malam waktu setempat) di Oracle Arena. Ini merupakan final ulangan tahun lalu antara Golden State Warriors dengan Cleveland Cavaliers. 

Dua nama besar dari masing-masing tim, Stephen Curry dan Lebron James layak jadi magnet partai puncak. Keduanya punya kelebihan sendiri-sendiri, dengan gelar sama-sama peraih Most Valuable Player.

Final ke-6 beruntun untuk Lebron James menjadi pertaruhan untuknya. Sebutan all around player disematkan untuk Lebron yang mahir bermain di semua posisi. Dengan rata-rata 25,3 poin per game, King James masih jadi yang tertinggi di Cavs. Selain poin, peraih 4 kali gelar MVP ini juga memimpin dalam urusan assist dengan rata-rata 6,8.

Diatas kertas James jadi unggulan. Kepemimpinan James di lapangan juga modal utama untuk mengangkat Cavaliers. Membayar kekalahan tahun lalu akan jadi misi punggawa Cavs, apalagi dengan kembalinya Kyrie Irving dan Kevin Love. Dua pemain ini absen saat Cavs derita kekalahan dari Warriors tahun lalu.

Walau kekuatan Cavs kini sudah bisa dibagi, inkonsistensi Kevin Love masih jadi sering jadi halangan. Di playoff, Love rata-mencetak rata 17.3 poin dan 9,6 rebound per game. Dari sisi permainan, pergerakan Love yang kurang fleksibel sering jadi halangan. Fakta tersebut mengharuskan pelatih baru Cavs Tyronn Lue cermat meracik starter-nya.

Permainan agresif bisa jadi kunci untuk membuat pemain Warriors frustasi.  Menilik pada tiga pertandingan awal di final wilayah barat antara Warriors dengan Oklahoma City Thunder, tim juara tersebut seolah tak berkutik ketika percobaan three point Stephen Curry maupun Klay Thompson tak membuahkan hasil.

Cara lain adalah mengorbankan peran Kyrie Irving sebagai pencetak poin demi menjaga Curry. Sepanjang musim ini, Irving jadi tumpuan kedua setelah James, dalam urusan mencetak poin. Ia memiliki rata-rata 24,3 poin per game. 

Sejarahnya, Cavs belum pernah menang dari Warriors di dua pertemuan sebelumnya di babak playoff. Sementara Warriors, yang harus susah payah menembus final, berupaya untuk tidak mengulangi kesalahan saat melawan Thunder. Stephen Curry berhasil menjawab kritik, dengan membawa Warriors menang di final wilayah barat. Ia bangkit hanya beberapa pekan berselang dari pemulihan cedera.

Tim besutan Steve Kerr ini sejatinya memiliki formula tim juara. Seorang mega bintang, tandem mega bintang, dirty player dan penembak tiga angka. Mereka adalah Stephen Curry, Klay Thompson, Andrew Bogut, Harrison Barnes, dan Andre Iguodala. 

Di final tahun lalu Kerr mengorbankan peran pemain center, dengan menarik para pemain untuk membuat Lebron James tak berkutik. Tugas tersebut sukses diemban Iguodala di final tahun lalu yang membawanya raih MVP Finals 2015.

Pertemuan Warriors dengan Cavs di final selama dua musim berturut-turut menjadi yang ke-14 sepanjang sejarah NBA. Mimpi Warriors tak lain mengulang sejarah yang pernah ditorehkan Chicago Bulls tahun 1997dan 1998 yang mengalahkan Utah Jazz di final selama dua musim berturut-turut.

Tapi Cavs juga misi untuk menang, dengan mengulang tujuh tim lain yang berhasil balas dendam dalam pertemuan kedua mereka di final. Patut ditunggu, apakah final kali ini menyamai rekor Michael Jordan dkk. atau membalaskan dendam.

Gieta Mahyarani

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments