hero
Guanxi, Kunci Kesuksesan Bisnis Etnis Tionghoa (Ilustrasi NET| Putu Dyah)

EDITOR : PUTU DYAH

31 Mei 2016, 16:00 WIB

INDONESIA

Ko Tang, nama pangkas rambut di kawasan Glodok, Jakarta Barat. Berdiri, 80 tahun lalu. Tak heran, penampilannya beda dengan barbershop modern. Di masa jayanya, Ko Tang pernah jadi tempat pangkas rambut pilihan para taipan.

Zaman berubah, namun Ko Tang tetap bertahan. Ko Tang bahkan tidak mengubah gaya potongan rambut yang ditawarkan ke pelanggan. Satu lagi yang khas dari kedai pangkas rambut ini dan sulit ditemui di tempat lain, yaitu kili-kili. Ini adalah perawatan telinga khas barbershop Negeri Panda. Dan terbukti, pilihan mempertahankan kili-kili, jitu mendatangkan pelanggan ke Ko Tang.

Bukan cuma Ko Tang, di sudut lain kawasan Glodok, tepatnya di Petak 9 ada toko kue bulan Fay Kie yang usianya sudah 82 tahun. Fay Kie saat ini dipegang Hartono. Tahun 1934, kakek Hartono datang dari Tiongkok dan langsung membuka usaha kue bulan sesampainya di Jakarta. Layaknya usaha lain, Fay Kie pun alami pasang surut. Namun, usaha kue ini berhasil bertahan hingga sekarang.

Nah kalau orang-orang sering bilang etnis Tionghoa jago bisnis, Ko Tang dan Fay Kie jadi buktinya. Dari zaman dulu sampai sekarang, bangsa Cina terkenal dengan kebiasaannya bermigrasi ke berbagai tempat. Nggak heran kalau mudah menemukan China Town di berbagai negara dan benua. Di Indonesia saja, hampir di setiap provinsi ada kampung Cina. Migrasi dan ekspansi menuntut kaum Tionghoa bertahan hidup. Caranya, ya itu, dengan membuka usaha dan terus mengembangkannya. Bukan sekadar buka usaha, ada satu elemen yang jadi pegangan mereka dan bisa kita terapkan, namanya guanxi. 

Secara harfiah, guanxi (baca : guanjee) berarti connections and relationships.

Sosiolog mengaitkan guanxi dengan modal sosial etnis Tionghoa dalam membuka bisnisnya. Jadi modal bisnis bukan cuma uang atau barang, tapi juga guanxi, yaitu membangun jaringan dan koneksi yang baik dengan pihak- pihak yang memiliki keterkaitan bisnis.

Ada beberapa faktor yang biasanya membentuk guanxi. Misalnya kesamaan marga, kesamaan asal daerah, kesamaan sekolah dan hubungan persahabatan.

Bagi sebagian orang, memanfaatkan kesamaan ini untuk membentuk bisnis bisa dianggap bagian dari KKN atau korupsi, kolusi dan nepotisme. Tapi bagi etnis Tionghoa, ini justru jadi pemersatu yang membesarkan bisnis. Jika ada orang dalam guanxi butuh bantuan, maka orang lain dari lingkaran guanxi otomatis akan membantunya. Ada prinsip Cina, “Kalau kamu mencakar punggungku, akan aku cakar punggungmu. Tapi jika kamu membantuku, di masa depan akan kubalas budinya".

Gimana, tertarik menerapkan guanxi di bisnis kalian? 

Reporter: Farabi Ferdiansyah | Azizah Hanum 

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments