Potret perjuangan penambang belerang di tengah keindahan Kawah Ijen. (Foto: indonesia.travel)

Penambang Ijen

EDITOR : DEWI LAILA

28 Mei 2016, 15:16 WIB

JAWA TIMUR, INDONESIA

Kaki Husaeni mantap menapak bebatuan terjal sepanjang 3 kilometer di pinggir Kawah Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur. Tangannya mencengkeram kuat pikulan bambu berisi bongkahan belerang. Jumlahnya bisa mencapai  90 kilogram per hari.

Husaeni, penambang asal Desa Wonosuko. Ia dan para penambang berteman akrab dengan asap belerang. Bagi mereka, bau telur busuk khas belerang tidak lagi menusuk hidung. Mereka juga lupa ancaman racun yang bisa merusak paru- paru. Yang mereka ingat mengambil belerang, untuk ditukar uang. Penambang terus bergerak hingga jarak satu kilometer dari kawah, tepat di zona bahaya. Mereka, tak seharusnya ada di sana.

Konon jika siap meletus, kawah Ijen mendidih. Layaknya wajan berisi adonan kue yang sedang dipanaskan. “Itu sudah harus waspada, jangan terlalu lama di bawah. Ambil- ambil langsung naik,” cerita Husaeni yang mengenal siklus Ijen.

Ijen, gunung aktif setinggi 2368 meter di atas permukaan laut yang menyimpan keindahan Si Api Biru atau ‘Blue Fame’. Fenomena alam yang hanya ada di Islandia dan Kawah Ijen. Eksotisme ini mengundang 15 juta wisatawan per tahun, dari dalam dan luar negeri.

Sementara ada sekitar 350 warga di sekitar Ijen, yang bertaruh nyawa seperti Husaeni. Memikul puluhan kilogram belerang yang hanya dihargai Rp.780 per kilogram. ‘Berani Mati Takut Lapar’, slogan para penambang. Bagi mereka, Ijen bukan sekedar tempat menikmati keindahan. Melainkan tempat berjuang demi terus berlangsungnya kehidupan. 

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments