hero
(The Business of Fashion)

EDITOR : YAYAN SUPRIYANTO

12 Juni 2018, 12:05 WIB

ARAB SAUDI

Menurut survey Gender Gap, Arab Saudi menduduki peringkat 129 dari 134 negara yang jadi objek survey soal kesetaran gender. Artinya, perbedaan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan memang terlampau jauh. Hal ini dibuktikan adanya berbagai larangan buat perempuan, seperti berikut ini:

1. Dilarang pergi tanpa mahram.

(Brightside)

Cewek pergi sendirian? It’s a big no no. Di Arab Saudi, perempuan yang pergi mesti didampingi mahram, yaitu suami atau kerabat pria. Tanpa persetujuan mahramnya, seorang perempuan enggak bisa bepergian ke luar negeri, melanjutkan studi, menikah atau bahkan menjalani operasi. Di sisi lain, perempuan Arab juga enggak bisa protes ke mahramnya.

2. Enggak ada izin mengemudi.

(Brightside)

Kalau di Indonesia, para perempuan bebas-bebas saja mengambil izin mengemudi. Tapi kalau di Arab Saudi, beda lagi ceritanya. Sejak dulu, perempuan dilarang mengemudi kendaraannya sendiri. Beruntung pada September 2017 lalu, Raja Arab Saudi mengubah peraturan soal ini. Rencananya, mulai bulan Juni 2018, perempuan Arab bisa mendapatkan izin mengemudi. Tapi mereka tetap harus mendapat izin dari mahramnya terlebih dulu.

3. Minim transportasi publik.

(Brightside)

Kalau ke Arab, jangan heran ya melihat banyak perempuan yang berjalan kaki untuk bepergian ke suatu tempat. Di sini, transportasi publik memang jarang tersedia untuk perempuan. Kebanyakan penyedia bus menolak mengangkut perempuan. Jadi mereka hanya bisa naik taksi, naik kereta di gerbong khusus perempuan, naik kendaraan dengan sopir pribadi atau yaa jalan kaki.

4. Memakai baju tertutup.

(Brightside)

Baju abaya hitam dan hijab lebar yang juga berwarna hitam, jadi kostum wajib buat perempuan-perempuan Arab. Bahan pakaiannya pun mesti terbuat dari bahan tebal yang tidak membentuk lekuk tubuh mereka. Tapi peraturan ini berbeda-beda di tiap wilayah. Ada yang lebih leluasa, ada juga yang lebih ketat dengan mengharuskan perempuan untuk memakai niqab yang menutupi wajahnya.

 

5. Kuliah boleh, tapi...

(Brightside)

Tidak ada larangan buat perempuan Arab Saudi yang ingin melanjutkan studi sampai jenjang universitas. Tapi hal ini dianggap tidak terlalu penting. Kebanyakan cewek Arab mengambil studi di bidang pedagogic dan sains. Walaupun pekerjaan mereka kemudian enggak sesuai dengan bidang studi ini. 

Bagi mereka yang ingin melanjutkan studi di luar negeri, tentunya harus mendapat persetujuan mahram. Uniknya, walau dianggap enggak penting, persentase perempuan yang memiliki gelar sarjana lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

6. Sedikit bekerja.

(Brightside)

Setidaknya hanya 17% perempuan Arab yang menjadi wanita karier. Sementara sisanya banyak yang menjadi ibu rumah tangga dan fokus mengurus keluarganya. Sebenarnya tidak ada larangan pekerjaan tertentu bagi para perempuan. Tapi lapangan pekerjaan yang tersedia buat mereka memang tidak terlalu banyak.

Pekerja perempuan juga biasanya lebih sedikit mendapat jaminan kerja seperti asuransi kesehatan, uang bonus dan kompensasi lain.

7. Menikah karena cinta?

(Brightside)

Hubungan keluarga jadi satu hot topic di tengah masyarakat Arab Saudi. Banyak pernikahan yang bukan didasari rasa suka sama suka, melainkan terjadi lewat perjodohan. Yaitu karena perjanjian antara ayah mempelai perempuan dengan pihak calon suami.

Selain itu, tidak ada peraturan tertulis yang mengatur usia minimum untuk menikah. Sehingga banyak perempuan Arab yang menikah di usia muda bahkan sebelum memasuki masa puber. Akibatnya banyak terjadi gangguan kehamilan hingga kasus kematian pada ibu.

8. Pintu masuk pria dan wanita terpisah.

(Brightside)

Kalau ke Arab Saudi, kamu akan melihat pintu masuk yang terpisah antara laki-laki dan perempuan. Hal ini bisa dilihat di pintu rumah yang menyediakan dua pintu masuk. Bahkan, rumah di Arab Saudi terdiri dari bagian luar dan dalam. Tamu hanya bisa masuk di bagian luar rumah dan ditemui oleh pihak laki-laki. 

Jika perempuan ada perlu dengan tamu tersebut, dia tidak bisa menemui langsung. Melainkan diwakili mahram. Selain di rumah, peraturan area laki-laki dan perempuan yang terpisah juga berlaku di tempat umum seperti gerai coffeshop serta restoran. Tapi untuk tempat vital seperti rumah sakit dan bank, aturan pemisahan ini tidak berlaku.

9. Hukuman kalau tidak patuh.

(Brightside)

Dengan segitu banyaknya peraturan, tentu ada konsekuensi bagi mereka yang melanggar. Religious police dapat menghukum perempuan yang ketahuan bersama dengan laki-laki tak dikenal (bukan mahramnya) atau memakai pakaian terlalu tipis dan tidak sesuai syariat.

Hukumannya bisa dipenjara untuk waktu tertentu. Tergantung permintaan dibebaskan dari laki-laki yang jadi mahramnya. Meski terkesan aneh bagi perempuan di negara-negara lain, nyatanya kondisi ini masih dijalani perempuan di Arab Saudi. Bagi mereka hal ini sudah berjalan normal karena berkaitan dengan tradisi serta aturan agama.

BRIGHTSIDE

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments