Untuk pertama kalinya Film Lab Internasional diadakan, dan ini merupakan yang terbesar se-Asia. Melalui CINEMAWITHOUTWALL yang telah diselenggarakan sejak 5-11 Agustus 2019, 50 sineas muda dari 7 negara berkumpul untuk membuat belasan film pendek di 5 desa yang ada di Bali selama seminggu.

Para sineas muda yang berasal dari Indonesia, Malaysia, Myanmar, Korea Selatan, Taiwan, Makau, dan Serbia itu berkumpul untuk berkolaborasi dan belajar bersama warga lokal di Bali. Sehingga mereka bisa saling berinteraksi dan mendapatkan inspirasi guna menghasilkan film pendek, dengan tema ‘Lokal Sebagai Bentuk Kemewahan Baru’.

Seremoni pembukaan CINEMAWITHOUTWALL, Desa Sangeh, Bali, Senin (5/8/2019). (ISTIMEWA)

Bayangkan saja, hanya butuh 1 minggu, para sineas muda tersebut yang dibagi menjadi kelompok berhasil membuat  12 karya film pendek. Dengan judul; ‘Arsa Bhuwana’, ‘Modal’, ‘Galang’, ‘How to Act Like a Hooman’, ‘Rahajeng Memargi’, ‘Satua Toya’, ‘Nyangih’, ‘Pianak Adiri’, ‘A Voice of Silence’, ‘Yesterday You Told Me About The Blue Blue Sky’, ‘Sangkala, dan ‘Sesal’.

50 sineas muda dari 7 negara berkumpul untuk membuat belasan film pendek di 5 desa yang ada di Bali selama seminggu, Bali. (ISTIMEWA)

Setelah seluruh film dibuat, kemudian ditayangkan lewat konsep bioskop alam atau layar tancap di Taman Mumbul, Sangeh, yang dihadiri pula oleh 300 warga lokal. Yang mayoritas belum pernah ke bioskop, serta turis internasional dalam balutan pesta rakyat.

Tak sampai di situ, film-film tersebut juga dibawa berkeliling ke desa-desa lainnya. Serta masuk ke universitas, sekolah, dan area publik, seperti hotel, restoran, dan coworking space, selama satu tahun.

Pemutaran film karya peserta CINEMAWITHOUTWALL, Bali, Sabtu (10/8/2019). (ISTIMEWA)

Inisiator gerakan ini, Caecilia Sherina, yang sekaligus adalah sineas muda Indonesia berprestasi, baik tingkat nasional dan internasional mengatakan, bahwa film itu cakupannya luas. Dapat mengangkat beragam isu dan membuat yang kompleks sekalipun akan menjadi ringan. Sehingga dapat diterima dan dipahami oleh masyarakat luas.

Proses syuting film yang melibatkan masyarakat lokal di desa setempat, Bali. (ISTIMEWA)

Caecilia juga mengatakan bahwa film itu dapat menjembatani perbedaan. “Film tidak peduli kasta, ras, maupun agama, dan memiliki kekuatan untuk menyatukan hati semua orang  lewat pikiran serta emosi,” terang Caecilia.

Kegiatan yang dinaungi Parama Anak Bangsa, yayasan yang mendukung anak bangsa Indonesia untuk berani menjadi agen perubahan dunia ini dibuka secara gratis lewat pendaftaran dari universitas dan publik. Melibatkan 5 desa di Bali dengan berbagai budaya dan karakteristik berbeda. Mulai dari Desa Sangeh, Mangesta, Pelaga, Candikuning, dan Jungutan. Yang semuanya berlokasi di 3 kabupaten. Yakni Badung, Tabanan, dan Karangasem.

TIM LIPUTAN

2

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments