Maraknya pemadaman listrik bergilir membuat pasangan adik kakak di Blora, Jawa Tenga menciptakan lampu darurat yang ramah lingkungan. Mereka memanfaatkan fitting lampu yang dimodifikasi sedemikian rupa agar menghasilkan terang lampu yang tidak berbeda seperti menggunakan daya listrik PLN. Lampu La Helist (Lampu Hemat Listrik) yang mudah menyala dan dimatikan sesuai keinginan kita ini diproduksi massal oleh penciptanya dua orang adik dan kakak, Fadhiela Noer Hafiezha dan Chaieydha Noer Hafiezha. 

Lampu ini diklaim mampu menjadi solusi bagi masyarakat dikala terjadi pemadaman listrik atau listrik padam saat ada kerusakan jaringan. "jadi di Blora itu sering mati listrik, nah masyarakat masih sering gunakan lilin, nah lilin itu sendiri berbahaya. Hingga akhirnya kami berinovasi bagaimana kami menciptakan lampu emergency yang aman, dari situ kami menciptakan lampu emergency dari led," ungkap Fadhiela Noer Hafiezha saat di temui awak NET, Suswanto Saputro di kediamannya di Blora, Jawa Tengah, Senin, 10 Desember 2018.

Dua orang adik kakak, Fadhiela Noer Hafiezha dan Chaieydha Noer Hafiezha pencipta lampu darurat ramah lingkungan, La Helist saat diwawancara awak NET di Blora, Jawa Tengah, Senin (10/12). (NET/Suswanto Saputro)

Dari hal tersebutlah ide dasar pembuatan lampu darurat ini muncul yakni dengan memodifikasi fitting lampu dengan berbagai komponen elektro yang dipasang sedemikianrupa sehingga fitting lampu mampu menghidupkan lampu hanya dengan kekuatan batere kancing atau batere jam dinding. "La Helist ini pengembangan dari lampu neon DC," sambung Fadhiela.

Dalam sekali pemakaian batere, La Helist mampu menyala selama 12 jam, namun tidak hanya itu keunggulannya, La Helist ini memiliki desain minimalis yang dilengkapi dengan saklar, dapat dibawa kemana-mana, dapat dihidupkan kapan saja tanpa tergantung aliran listrik PLN, dan lebih aman digunakan dibanding menggunakan lilin yang berpotensi terjadi kebakaran saat ditinggal tidur.

Pengguna La Helist sedang membeli produk lampu darurat ramah lingkungan di workshop La Helist di Blora, Jawa Tengah. (NET/Suswanto Saputro)

Kehadiran La Helist ini disambut baik oleh masyarakat sekitar meski penjualannya masih seputaran Blora saja. "Bagi saya, lampu ini sangat membantu sekali baru tahu kali ini kalau ada lampu kayak gini mas, jadi ini sekaligus beli 2 nanti satu di belakang sama di dapur jadi ada penerangan semua rumahnya. Ini satu 50 ribu beli dua jadi seratus ribu," ujar seorang pembeli lampu La Helist Ahmad Sunar di Blora.

Untuk saat ini, lampu La Helist masih terus dikembangkan oleh duo dara asal Blora, Jawa Tengah ini agar lebih sempurna dan lebih ramah lingkungan. Kedepannya diharapkan, La HElist mampu menjadi salah satu solusi bagi beberapa daerah di Blora pada khususnya dan di beberapa daerah lain di Indonesia pada umumnya yang belum mendapat aliran listrik dari PLN.

SUSWANTO SAPUTRO

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments