hero
(Pixabay)

EDITOR : YAYAN SUPRIYANTO

24 April 2020, 20:15 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Bulan Ramadan adalah bulan suci bagi para umat Muslim, waktu terbaik untuk mencari ladang ibadah seluas-luasnya. Salat berjamaah, tarawih, itikaf, dan berkumpul bersama sanak saudara menjadi tradisi yang mendarah daging selama Ramadan. Namun, menjelang datangnya bulan suci, COVID-19 datang lebih dahulu mengubah tradisi yang sudah ada sejak berabad-abad silam. 

Penularan COVID-19 yang didasari pada kontak langsung membuat manusia harus menciptakan jarak dengan manusia lainnya untuk memutus rantai penyebarannya. WHO sebagai lembaga kesehatan dunia, memberikan panduan kesehatan selama Ramadan di tengah masa pandemi saat ini. Berikut ini adalah panduan aman melakukan kegiatan sosial dan keagamaan dari WHO:

Pembatasan Pertemuan Keagamaan dan Sosial

WHO secara serius mempertimbangkan untuk membatasi, memodifikasi, menunda, atau bahkan membatalkan kegiatan yang akan mengundang massa pada satu lokasi. Pertemuan sosial dan keagamaan akan diubah ke dalam platform virtual, seperti televisi, radio, atau sosial media. Jika memang mengharuskan untuk mengadakan pertemuan selama Ramadan, maka wajib disertai dengan prosedur pencegahan COVID-19.

Pemerintah sebagai otoritas kesehatan wajib menjadi corong informasi mengenai jarak aman dan tindakan preventif COVID-19 selama kegiatan Ramadan. Selain itu, para pemuka agama juga diharapkan ikut terlibat dalam membunyikan aturan pemerintah.  Kunci dari pembatasan ini adalah komunikasi yang baik kepada masyarakat. Instruksi yang jelas dan mencakup pesan proaktif tentang perilaku sehat selama pandemi.

Imbauan Selalu Menjaga Jarak Fisik

(Pixabay)

Selain membatasi kegiatan, WHO juga menyarankan untuk menjaga jarak fisik kita dengan orang lain minimal satu meter atau physical distancing. Gunakan salam tanpa harus bersentuhan, seperti anggukan atau lambaian tangan. Menghentikan kerumunan selama Ramadan, seperti ke toko, pasar, atau tempat hiburan.

Imbauan Untuk Kelompok Berisiko Tinggi

Orang yang sakit atau memiliki gejala COVID-19 untuk menghadiri kegiatan ibadah. Misalnya lansia atau mereka yang memiliki penyakit bawaan (kardiovaskuler, kanker, diabetes, atau penyakit pernapasan kronis)  untuk menghadiri kegiatan ibadah dengan alasan mereka lebih rentan terpapar COVID-19 dengan risiko kematian.

Tindakan Mitigasi saat Harus Melakukan Pertemuan Fisik

Jika kegiatan ibadah harus dilakukan dalam bangunan indoor pastikan terdapat ventilasi yang memadai. Persingkat dan perkecil lingkungan kegiatan ibadah. Jangan lupa untuk jaga jarak fisik ketika wudhu, salat, dan berdoa.

Budayakan Kebersihan dan Kesehatan

(Pixabay)

Salah satu syarat sahnya salat umat muslim adalah suci dari hadas. Di sisi lain, wudu juga berperan menjaga kebersihan dan kesehatan. Akan tetapi, langkah-langkah berikut juga perlu diperhatikan demi mengurangi dampak penyebaran virus, Sediakan pembersihan tangan berbasis alkohol di area ibadah. Gunakan sajadah pribadi. Bersihkan area untuk ibadah sebelum dan sesudah dilaksanakannya kegiatan dengan disinfektan. Pastikan  area wudhu dan toilet dalam keadaan selalu bersih. Selalu bersihkan benda yang akan sering disentuh orang lain, seperti gagang pintu atau pegangan tangga.

Pertimbangkan Kegiatan Amal Secara Langsung

Zakat dan sedekah adalah amalan wajib yang rutin dilakukan oleh umat muslim, apalagi di bulan suci Ramadan. Namun, tanpa disadari amalan baik ini ternyata memungkinkan untuk dapat berdampak buruk selama masa pandemi. Perpindahan COVID-19 mungkin terjadi ketika sesama umat melakukan kontak, baik pada saat pengumpulan, penyimpanan atau distribusi. Maka dari itu, WHO mengimbau untuk mempertimbangkan menghindari kontak fisik secara langsung. Memberikan bantuan melalui lembaga terpusat menjadi pilihan terbaik untuk mengurangi penyebaran virus di masa pandemi ini.

Jaga Kesehatan Puasa

Sejauh ini, belum ada penelitian yang menghubungkan risiko terjadinya penularan kepada orang yang menjalankan ibadah puasa. Jika seseorang merasa dirinya sehat tentu mereka dapat menjalankan ibadahnya seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, bagi mereka yang menjadi korban COVID-19 sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter mengenai kondisi badan mereka.

Lakukan Aktivitas Fisik

Selama pandemi, kegiatan luar ruangan tentu tidak dianjurkan demi menjaga social distancing. Akan tetapi, bukan berarti meninggalkan kegiatan fisik menjadi kebiasaan yang baik. Melakukan olahraga dalam ruangan ataupun mengikuti kelas olahraga online tentu merupakan kegiatan positif untuk menjaga kebugaran tubuh selama masa pandemi ini. 

Makan Makanan Bernutrisi

(Pixabay)

Mengisi tubuh dengan nutrisi tepat adalah kunci untuk tetap sehat selama Ramadan. Pentingnya menjaga asupan gizi serta cukup minum ketika sahur dan berbuka tentunya menjadi pondasi kuat bagi umat muslim untuk tetap menjalan ibadah puasa selama pandemi.

Jauhi Tembakau

Penggunaan tembakau sebenarnya tidak disarankan dalam kondisi apa pun terlebih di bulan Ramadan yang diselimuti dengan masa pandemi seperti ini. Seorang perokok tentu memiliki risiko untuk mengalami sakit paru-paru. Berdasarkan atas kemungkinan itu, para penikmat tembakau memiliki tingkat kemungkinan tertular COVID-19 lebih tinggi karena virus ini menyerang sistem pernapasan manusia.

Jaga Kesehatan Mental dan Psikologis

Masa pandemi yang kelam ini meyakinkan umat yang beriman untuk lebih dekat dengan Tuhannya. Dengan berdoa, berbagi, dan peduli terhadap sesama, manusia menjadi belajar untuk menjaga kesehatan fisik dan rohani tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk orang lain bahkan untuk dunia menjadikan harapan indahnya bulan Ramadan di masa pandemi seperti ini.

DIPTA ADIWIGUNA 

7

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments