hero
Arpah korban penipuan balik nama kepemilikan tanah. (NET/Damar)

EDITOR : OCTOBRYAN

8 April 2020, 19:25 WIB

DEPOK, INDONESIA

Abdul Kodir Jaelani, terdakwa kasus penipuan tanah milik Arpah (69) warga Beji, Depok, Jawa Barat divonis delapan bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Depok, Rabu, (8/4/2020). Putusan hakim ini jauh lebih rendah dari tuntutan jaksa yang sebelumnya menuntut kurungan dua tahun penjara. 

“Menjatuhkan pidana penjara kepada terdakwa selama delapan bulan penjara,” kata Ketua Majelis Hakim, M. Iqbal Hutabarat dalam amar putusan yang dibacakan saat sidang secara teleconference

 Arpah, korban penipuan balik nama kepemilikan tanah. (NET/DAMAR)

Majelis hakim menyepakati bahwa terdakwa telah melanggar Pasal 378 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tentang penipuan terhadap bidang tanah seluas 103 meter persegi yang tidak dijual Arpah, namun diklaim oleh terdakwa.

Dalam putusannya, hakim juga mengembalikan sertifikat tanah yang jadi alat bukti kasus penipuan terhadap Arpah, seorang lansia tunaaksara, kepada terdakwa Abdul Kadir Jailani.

“Perkara kepemilikan sertifikat tanah bertentangan dengan Hukum Acara Perdata dan diselesaikan dalam ranah perdata. Barang bukti tersebut dikembalikan kepada terdakwa (AKJ),” kata Iqbal.

Salinan surat sertifikat tanah milik Arpah. (NET/Damar)

Menanggapi putusan itu, Arpah yang sudah sepuh dan tim kuasa hukumnya menyatakan pikir-pikir, begitu pula dengan jaksa penuntut umum. 

“Apa yang didakwakan oleh JPU (jaksa penuntut umum) menurut kami memang sudah tepat. Tapi putusan hakim menurut kami masih belum memenuhi unsur keadilan untuk ibu Arpah,” kata Daniel, kuasa hukum Arpah.

Meski demikian, Daniel menyesali putusan hakim yang tidak mengembalikan sertifikat tanah itu kepada Arpah. Terkait hal itu, Daniel mengaku pihaknya akan melakukan upaya lain, yakni menempuh gugatan secara perdata. 

Tim kuasa hukum menunjukan lokasi tanah milik Arpah. (NET/Damar)

“Ini ada kontradiktif. Yang satu unsurnya terpenuhi, tapi kok sertifikatnya sebagai alat bukti yang utama tetapi tidak dikembalikan kepada bu Arpah, tapi kepada Abdul Kadir (terdakwa),” timpalnya.

Untuk diketahui, kasus ini bermula ketika wanita 64 tahun itu mengaku ditipu oleh terdakwa pada 2015 lalu. Tahun 2011, ia menjual tanah seluas 196 dari total 299 meter persegi pada Abdul Kodir yang tak lain adalah tetangganya sendiri. 

Kemudian, sisa 103 meter persegi, Arpah mengaku tak menjualnya sama sekali. Lantaran percaya pada pemuda tersebut, nenek Arpah akhirnya menyerahkan seluruh sertifikat tanah yang dimilikinya, termasuk sisa 103 meter persegi luas tanah di dalamnya. 

(BACA JUGA: Jalan Panjang Nenek Buta Huruf Cari Keadilan Usai Ditipu Tetangga)

Ia pikir, Abdul Kodir akan memecah sertifikat itu. Namun, pada suatu hari di tahun 2015, terdakwa mengajak Arpah jalan-jalan. Ternyata mereka berlabuh ke kantor notaris di kawasan Bogor. Lantaran tunaaksara alias buta huruf, Arpah manut saja ketika diminta membubuhkan cap jempol di atas surat, yang rupanya akta jual beli sisa tanah, seluas 103 meter persegi tadi.

Setelah itu, terdakwa kemudian memberi Arpah uang senilai Rp300 ribu untuk jajan, tanpa menebus sepeser pun tanah seluas 103 meter persegi yang ia peroleh dari korbannya.

Kasus ini pun akhirnya terbongkar ketika pihak bank mendatangi Arpah dengan dalil tanah tersebut telah digadaikan. Alhasil, Arpah dan keluarga pun syok lantaran kehilangan hak atas tanah dan bangunan yang ditinggalinya sejak puluhan tahun silam itu.

DAMAR PAMUNGKAS

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments