hero
Anak orangutan bermain di pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Survival. (BOSF)

EDITOR : OCTOBRYAN

8 April 2020, 18:05 WIB

INDONESIA

Borneo Orangutan Survival Foundantion (BOSF) langsung menutup total dua pusat rehabilitasi orangutan miliknya begitu pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Pilihan lockdown dilakukan untuk mencegah penularan Covid-19 ke dalam pusat rehabilitasi.

CEO BOSF Jamartin Sihite mewanti-wanti petugas yang merawat orangutan agar menjaga lingkungan pusat rehabilitasi sebersih mungkin. Ia juga meminta penyemprotan disinfektan, pembersihan kandang dan areal orangutan semakin rutin dilaksanakan.

Kegiatan yayasan Borneo Orangutan Survival di pusat rehabilitasi. (BOSF)

“Kami adalah pusat rehabilitasi pertama yang mengambil langkah lockdown menghadapi pandemi Covid-19,” ujar Jamartin kepada NET.Z, Rabu (8/4/2020).

Yayasan BOS memiliki dua pusat rehabilitasi dengan total hampir 400 individu orangutan. Pusat rehabilitasi itu terletak di Samboja Lestari, Kalimantan Timur dan Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah.

Untuk sementara, kata Jamartin, ada perubahan pola kerja di pusat rehabilitasi. Tidak ada lagi sistem perputaran petugas. Satu blok orangutan, akan diurus oleh sekelompok petugas secara terus menerus.

Sejumlah pekerja membersihkan kandang orangutan di yayasan Borneo Orangutan Survival. (BOSF)

“Jadi kalau satu blok ada yang terjangkit Covid-19, seluruh pekerja dan orangutan di dalamnya kita isolasi,” katanya.

Dia memastikan, para petugas tetap bekerja tanpa kenal lelah memastikan orangutan tetap sehat dan aman. Meski para petugas ini juga harus menjaga kesehatan, mengurangi pertemuan dengan orang lain, hingga menghindari pusat keramaian.

“Sementara dunia sedang sibuk dengan pandemi Covid-19, kami berharap orang-orang tidak melupakan penderitaan orangutan dan kampanye pelestarian tetap berlanjut.

Kegiatan yayasan Borneo Orangutan Survival di pusat rehabilitasi. (BOSF)

Selama masa isolasi, seluruh pusat rehabilitasi menutup kunjungan dari mana pun. Sebab makin banyak kunjungan, makin rentan pula penularan COVID-19.

“Orangutan memiliki kesamaan DN dengan manusia sebesar 97 persen sehingga rentan terpapar Covid-19. Meski belum ada penelitian ilmiah soal penularan ke orangutan,” tambahnya.

Jamartin mengatakan, tantangan terberat yang dihadapi pusat rehabilitasi orangutan adalah persediaan barang kebutuhan untuk merawat orangutan. Selain harganya mahal, stok di pasaran juga langka.

Kegiatan yayasan Borneo Orangutan Survival di pusat rehabilitasi. (BOSF)

“Dengan stok yang ada di kami saat ini, kami hanya mampu bertahan satu bulan,” ungkap Jamartin.

Selain makanan untuk orangutan, Jamartin mengatakan, Kebutuhan mendesak lainnya adalah disinfektan, sanitizer, masker, sarung tangan, dan lain-lain. Yayasan BOS tengah berusaha keras mencari agar kebutuhan dasar rehabilitasi orangutan bisa segera terpenuhi.

“Sarung tangan yang sehari-hari kami gunakan harganya sudah naik 167 persen dan ketika kami membeli masker bedah untuk dokter hewan harganya naik 7 kali lipat,” keluhnya.

Anak orangutan di pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Survival. (BOSF) 

Pukulan terberat yang diderita Pusat Rehabilitasi Orangutan milik Yayasan BOS adalah kehilangan donatur. Donasi yang biasa rutin mengalir tiba-tiba terhenti akibat pandemi Covid-19.

“Sampai hari ini masih ada yang mau bantu kita, tapi memang beberapa donor kita kehilangan pekerjaan,” kata Jamartin.

Dengan kondisi seperti ini, dalam dua bulan ke depan Yayasan BOS akan kesulitan keuangan merehabilitasi orangutan. Untuk itu, beragam upaya dilakukan agar orangutan di dalam pusat rehabilitasi tetap sehat.

Anak orangutan di pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Survival. (BOSF) 

“Jadi kita berharap semua pihak mau saling bahu membahu jangan cuma mikirin aku dan kau, tapi kita juga harus mikirin orangutan yang ada di pusat rehabilitasi mereka tidak bisa ke mana-mana. Kalau yang di hutan mereka bisa cari makan sendiri,” papar Jamartin.

Orangutan di dalam pusat rehabilitasi sangat bergantung manusia hingga dinyatakan cukup bisa untuk dilepasliarkan ke hutan. Sehingga, jika ada keterlibatan banyak pihak saat pandemi berlangsung, akan cukup sulit bagi orangutan menjalani proses rehabilitasinya.

“Kita berharap pada teman-teman yang lain yang masih punya berkat berlebih atau masih punya berkat di kantongnya, mari donasikan buat orangutan. Jangan cuma buat kita," harapnya.

(BACA JUGA: Modifikasi Motornya Jadi Alat Disinfeksi, Ini Kisah Bripka Afif Cegah COVID-19 di Jakarta)

Jamartin yakin, apapun kondisinya pusat rehabilitasi orangutan akan bisa bertahan di tengah krisis apapun. Badai pandemi Covid-19, sebutnya, akan bisa dilewati dengan kebersamaan semua pihak.

“Dalam kamus Yayasan BOS tidak kata menyerah. Di dalam nama BOSF ada kata survival. Kami yakin bisa bertahan. Karena kita semua adalah orangutan warrior,” pungkasnya.

AWALUDDIN JALIL

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments