hero
Umat Islam melaksanakan Salat Zuhur berjamaah di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (20/3/2020). Masjid Istiqlal tidak menggelar Salat Jumat sesuai kebijakan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Pemerintah Pu

EDITOR : OCTOBRYAN

20 Maret 2020, 15:10 WIB

INDONESIA

Masjid Istiqlal Jakarta memutuskan meniadakan salat Jumat berjamaah selama dua minggu mulai (20/3/2020) sampai (27/3/2020). Hal itu diambil setelah ada imbauan dari Presiden Joko Widodo untuk mencegah penyebaran pandemi virus Corona.
  
Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar mengatakan, keputusan tersebut juga diambil setelah pihaknya melakukan komunikasi dengan imam-imam besar dari sejumlah negara Islam.

Umat Islam berdoa bersama seusai melaksanakan Salat Zuhur berjamaah di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (20/3/2020). Masjid Istiqlal tidak menggelar Salat Jumat  sesuai kebijakan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Pemerintah Pusat dan daerah untuk mengurangi penyebaran COVID-19, namun menggelar Salat Zuhur berjamaah. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak)

"Setelah berkomunikasi dengan imam-imam besar sejumlah negara Islam, yang juga melakukan hal yang sama, barulah kami menetapkan mulai hari ini hingga Jumat mendatang Masjid Istiqlal tidak kita gunakan untuk shalat Jumat," kata Nasaruddin saat jumpa pers di Graha BNPB, Jakarta, Jumat (20/3/2020).

Nasaruddin menjelaskan, Jumat merupakan hari yang mulia bagi umat Islam dan dianjurkan untuk banyak beribadah pada hari tersebut. Namun agama menganjurkan orang-orang beriman untuk melakukan ikhtiar. Berbicara mengenai takdir, maka juga harus berbicara tentang ikhtiar yang dilakukan.

Petugas memeriksa suhu tubuh warga sebelum mengikuti shalat berjamaah di Masjid Nurussalam, Depok, Jawa Barat, Jumat (20/03/2020). Pemeriksaan suhu tubuh tersebut sebagai salah satu upaya antisipasi penyebaran virus COVID-19 dalam pelaksanaan shalat berjamaah. (ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha)

"Tidak bisa juga kita berbicara tentang ikhtiar, tanpa mengembalikan kepada Yang Maha Kuasa atau takdir," tuturnya.

Nasaruddin juga mengapresiasi keputusan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang penyelenggaraan ibadah dalam situasi pandemi COVID-19 yang dinilai sudah tepat.

Petugas Satpol PP Kota Pekanbaru berjaga di depan pintu masuk Masjid Agung Ar-Rahman yang ditutup sementara, di Pekanbaru, Riau, Jumat (20/3/2020). Penyelenggaraan ibadah Salat Jumat ditiadakan sementara di Masjid ini guna mengantisipasi dan meminimalisir terjadinya penyebaran virus Corona (COVID-19). (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)

"Tidak ada cara lain kecuali mengikuti ulama dan umara kita. Tidak mungkin kedua institusi ini memberikan fatwa yang tidak sejalan dengan kenyataan di masyarakat," katanya.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengeluarkan keputusan agar masjid-masjid di seluruh wilayah Ibu Kota tidak mengadakan sholat Jumat berjamaah untuk mencegah penularan virus corona penyebab COVID-19. Keputusan tersebut merupakan kesepakatan antara Gubernur Anies Baswedan bersama tokoh lintas agama dan budayawan Jakarta, Kamis (19/3).

(BACA JUGA: Bima Arya Positif Corona!)

Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Niam Sholeh dalam jumpa pers di Graha BNPB, Kamis (19/3), juga menyatakan MUI telah mengeluarkan fatwa tentang penyelenggaraan ibadah dalam situasi pandemi COVID-19 yang terdiri atas sembilan butir, salah satunya tidak boleh menyelenggarakan shalat Jumat dan aktivitas ibadah yang melibatkan banyak orang bila kondisi penyebaran COVID-19 tidak terkendali di suatu wilayah.

Dewan Masjid Indonesia juga telah mengeluarkan edaran serupa, termasuk meniadakan shalat lima waktu dan tarawih saat Ramadhan tetapi dilaksanakan di rumah masing-masing. 

TIM LIPUTAN

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments