hero
Sejumlah peserta nikah massal melakukan prosesi kirab usai sidang isbat dalam acara "Banyumas Mantu" di Pendopo Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (28/2/2020). Pemkab Banyumas menggelar

EDITOR : OCTOBRYAN

2 Maret 2020, 12:05 WIB

KAB. BANYUMAS, INDONESIA

Jurati (63) dan Santiarjo (65), tidak bisa menyembunyikan semburat senyum bahagia. Pasangan yang sudah dikaruniai dua cucu itu akhirnya resmi menjadi suami istri setelah berumah tangga selama 44 tahun.

Keduanya menikah secara siri pada tahun 1976. Namun, ganjalan karena tak memiliki bukti sah pernikahan, mereka juga sulit untuk mengurus keadministrasian rumah tangga mereka. Seperti sulit untuk membuat akte kelahiran, ataupun kartu keluarga.

Pasangan Santiarjo (65) dan Jurati (63) mengikuti acara nikah massal "Banyumas Mantu" di Pendapa Sipanji, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jumat, (28/2/2020). (NET/Bayu). 

"Perasaan saya sangat senang hari ini. Karena akan dapat pengesahan dan buku nikah. Saya disuruh anak saya, karena akan mengurus akte kelahiran," ujar Jurati, warga Desa Karangtengah, Kecamatan Kembaran itu kepada NETZ.

Rasa bungah juga menaungi pasangan muda asal Kelurahan Bobosan, Kecamatan Purwokerto Barat, Aliya Hanifah (16) dan Bagas Setiawan (17). Mereka menikah di depan seorang kyai, setahun lalu. Meski masih di bawah umur, tetapi waktu itu keduanya telah mendapat restu dari masing-masing orang tua. 

Pasangan Bagas Setiawan (17) dan Aliya Hanifah (16) mengikuti acara nikah massal "Banyumas Mantu" di Pendapa Sipanji, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jumat, (28/2/2020). (NET/Bayu).

"Dulu kami mengurusnya ke kelurahan, hingga kantor urusan agama," ujar Aliya sang mempelai wanita.

Kini, pasangan muda yang telah dikaruniai seorang bayi yang berumur sembilan bulan itu merasa amat bahagia. Pasalnya pernikahan mereka disahkan melalui sidang isbat di muka hakim pengadilan agama. Sehingga, seluruh dokumen-dokumen bukti pernikahan, akan segera dimiliki.

Kegiatan "Banyumas Mantu" yang digelar di Pendapa Sipanji, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jumat, (28/2/2020) itu diikuti sedikitnya 143 pasang pengantin. Pengantin paling muda berusia 19 tahun dan yang paling tua berusia 85 tahun. 

Para peserta nikah massal Banyumas Mantu, di Pendapa Sipanji Kabupaten Banyumas, Jumat (28/2/20). (NET/Bayu).

Layaknya pesta pernikahan pada umumnya, para pasangan pengantin menggunakan pakaian tradisional jawa. Selepas sidang isbat di pendapa, mereka diarak menuju Rita Mall yang berjarak sekitar 100 meter untuk menikmati hiburan.

Bupati Banyumas Achmad Husein mengungkapkan, Banyumas Mantu menjadi bukti bahwa pemerintah hadir dan turut membantu masyarakat dalam masalah keadministrasian kependudukan. 

Dokumen kependudukan sangat vital bagi warga negara, seperti buku nikah, akte kelahiran, atau kartu keluarga. Karena itu akan selalu digunakan untuk mengurus dokumen lain di masa mendatang.

Sejumlah peserta nikah massal melakukan pengurusan akta nikah usai melakukan sidang isbat dalam acara "Banyumas Mantu" di Pendopo Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (28/2/2020). Pemkab Banyumas menggelar acara nikah massal kepada 143 pasangan untuk memberikan kepastian hukum dan administrasi kependudukan, karena berdasar pada data Kemenag Jawa Tengah, baru 50 persen pasangan yang menikah di Kabupaten Banyumas memiliki akta nikah, akibat terkendala akses, biaya dan prosedur yang rumit. (ANTARA FOTO/Idhad Zakaria)

"Perkiraan saya pesertanya 400 sampai 500 pasangan. Jadi masih ada separuh lagi. Jumlah itu, adalah akumulasi dari 20 tahunan yang lalu, dan tidak diopeni (diperhatikan) oleh pemerintah. Dengan program ini, dalam waktu tiga atau empat tahun akan selesai," kata Husein.

Husein menyebut, jika saat ini peserta hanya sebanyak 143 pasangan, karena masih banyak warga atau pasangan yang belum tercatat secara sah pernikahannya masih malu-malu untuk mendaftar. 

Salah satu peserta "Banyumas Mantu" mengikuti sidang isbat pernikahan di Pendapa Sipanji, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jumat, (28/2/2020). (NET/Bayu)

"Potensinya masih banyak, nanti akan bertahap. Kami akan jadikan program tahunan," ujar Husein.

Soal dukumen kependudukan, Wisnu Jatmiko, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Banyumas mengatakan, para pasangan yang turut melaksanakan sidang isbat pernikahan akan langsung mendapatkan buku nikah dan kartu keluarga. 

(BACA JUGAPenuhi Nazar, Maman Bentangkan Karpet Merah lebih dari Satu Kilometer Menuju Pelaminan)

"Mereka itu hanya kawin siri, atau perkawinan yang tidak tercatat. Kemudian apabila mempunyai anak, maka si anak tercatat anak dari ibu," jelas Wisnu.

Namun, setelah perkawinan mereka disahkan melalui putusan pengadilan ini, maka nantinya di dalam akte, status si anak akan menjadi anak dari pasangan ibu dan bapak, dan tercatat di disdukcapil.

BAYU NUR SASONGKO

6

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments