hero
Tempe mendoan khas Banyumas. (NET/Bayu)

EDITOR : OCTOBRYAN

26 Februari 2020, 12:30 WIB

KAB. BANYUMAS, INDONESIA

Mendoan identik dengan Purwokerto atau Kabupaten Banyumas secara keseluruhan. Sebab, makanan yang terbuat dari tempe tipis, dengan balutan tepung yang bercampur daun bawang, dan digoreng setengah matang itu, seolah telah menjadi penganan wajib warga di Kota Satria tersebut.

Untuk semakin menguatkan citra tempe mendoan sebagai milik Banyumas, Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyumas, telah mengusulkan mendoan menjadi warisan budaya tak benda pada tahun 2020.

Tempe mendoan khas Banyumas. (NET/Bayu)

"Kami mengusulkan mendoan sebagai warisan budaya tak benda pada tahun ini. Agar, mendoan yang asli Banyumas ini tidak diklaim milik atau berasal dari daerah lain, bahkan diakui oleh negara lain," ujar Kepala Seksi Pengelolaan dan Pelestarian Tradisi, Bidang Kebudayaan Dinporabudpar Kabupaten Banyumas, Mispan, kepada NETZ, Selasa (25/2/20).

Mispan melanjutkan, pengusulan mendoan menjadi warisan budaya tak benda itu, tak lepas dari sejarah panjang kegemaran masyarakat di Banyumas dalam mengenal mendoan itu sendiri. Hampir tak ada satupun literatur mengenai sejarah mendoan. 

Tempe mendoan khas Banyumas. (NET/Bayu)

Tetapi, menurut Mispan, catatan sejarah mendoan terjadi pada zaman Bupati Sujiman Gandasubrata atau Bupati ke 19 Kabupaten Banyumas, yang menjabat pada tahun 1933 hingga 1950 memindahkan pendopo dari wilayah Kecamatan Banyumas ke Purwokerto.

Sebagai rasa syukur, sang bupati memerintahkan warga untuk beristirahat dengan menonton lengger dan menikmati mendoan.

"Pada zaman itupun mendoan sudah menjadi makanan atau camilan yang favorit masyarakat. Artinya peradaban mendoan sudah ada jauh sebelum zaman tersebut. Kami tidak punya data kongkret mana yang tertua atau sejak kapan ada mendoan," ujar Mispan.

Tempe mendoan khas Banyumas sebelum diolah. (NET/Bayu)

Mispan mengatakan, ada sejumlah tahapan yang harus dilalui sebelum mendoan ditetapkan menjadi warisan tak benda oleh Kementerian Pendidikan dan kebudayaan Indonesia. 

Meski demikian, Mispan optimistis makanan "wajib" wong panginyongan itu akan lolos dan diakui menjadi warisan budaya tak benda. Menurut dia, di Kabupaten Banyumas yang memiliki 27 kecamatan dan lebih dari 300 desa, terdapat ribuan pedagang mendoan.

"Cukup berat disana (Penilaian di kementerian). Syarat-syarat yang kami kirim akan diaudit kekurangannya dimana saja," paparnya.

Pengolahan tempe mendoan khas Banyumas menggunakan daun pisang. (NET/Bayu)

Menurut Mispan, mendoan juga menggambarkan karakteristik masyarakat Banyumas. Mendoan yang bertekstur lembek menggambarkan karakteristik orang Banyumas yang fleksibel. Namun, jika marah akan berubah menjadi keras layaknya kripik tempe.

"Ini akan sangat membanggakan jika mendoan yang telah menjadi ikon Banyumas, dijadikan warisan budaya tak benda, dan diakui oleh negara bahkan dunia," kata Mispan.

BAYU NUR SASONGKO

4

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments