EDITOR : OCTOBRYAN

18 Februari 2020, 14:15 WIB

PALU, INDONESIA

Pemerhati sekaligus ahli penanganan satwa liar, Matt Wright menghentikan keterlibatannya dalam upaya penyelamatan buaya berkalung ban di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (18/2/2020).

Pria 39 tahun ini menjelaskan, ia akan kembali ke negara asalnya yaitu Australia. Mark mengaku kehabisan masa izin tinggal di Indonesia.

Ahli penanganan satwa liar asal Australia, Matthew Nicolas Wright (tengah) saat melakukan pencarian terhadap buaya yang terjerat ban sepeda motor di Sungai Palu di Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (13/2/2020). Upaya untuk menangkap dan menyelamatkan buaya liar yang terjerat ban sepeda motor oleh Satgas di bawah kendali BKSDA Sulawesi Tengah bersama dua ahli penanganan satwa liar asal Australia, Matthew Nicolas Wright dan Chris Wilson tersebut belum berhasil. (ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah)

"Kami belum menyerah dan akan kembali lagi beberapa bulan ke depan" ujarnya.

Tidak hanya masalah izin tinggal, Matt rupanya melihat perubahan perilaku yang terjadi pada buaya muara berukuran 4 meter tersebut. 

Upaya Mark Wright menaklukan buaya berkalung ban di Palu, Sulawesi Tengah. (NET/ODI)

Matt khawatir buaya muara terbesar di Sungai Palu itu akan stress dan lebih agresif jika terus diburu. Matt mengakui, selama ikut dalam operasi yang pimpin BKSDA Sulteng, perilaku buaya berkalung ban itu tidak sama dengan buaya-buaya lain di Sungai Palu.

"Yang paling penting adalah memulihkan kembali kondisi buaya, hewan itu menjadi lebih sensitif," jelasnya.

Ahli penanganan satwa liar asal Australia, Matthew Nicolas Wright (kedua kanan) menunjukkan alat harpun yang sempat mengenai buaya yang terjerat ban sepeda motor saat dilakukan upaya penyelamatan di Sungai Palu di Palu, Sulawesi Tengah, Minggu dinihari (16/2/2020).(ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah)

Mengenai kondisi kesehatan buaya yang masih terjerat ban, Matt berkata keadaan itu belum mengganggu kesehatan satwa itu, sehingga petugas penyelamat masih bisa terus mengamati dan membuat strategi penangkapan. 

"Buaya itu sangat sehat. Sementara saya kembali ke Australia untuk meneliti dan mencari strategi yang lebih baik Mei nanti," tukasnya.

Seekor buaya liar berkalung ban bekas berjemur di Sungai Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (15/1/2020). Setelah beberapa waktu tidak terlihat, buaya berkalung ban bekas yang pertama kali terlihat pada 2016 itu kembali muncul dengan ukuran yang makin panjang sekitar empat meter. Hingga kini, belum ada pihak yang berhasil mengeluarkan ban bekas yang  menjerat buaya muara tersebut. (ANTARA FOTO/Basri Marzuki)

Buaya tersebut kerap muncul di Sungai Palu hingga Teluk Palu sejak 2016. Setiap kali muncul, buaya diperkirakan berusia 9 tahun tersebut selalu menarik perhatian warga. Sejak saat itu, beberapa pihak kerap berupaya melakukan misi penyelamatan.

Muhammad Panji alias Panji Petualang hingga non-governmental organization (NGO) asal Australia pernah mencoba membebaskan sang buaya sepanjang 4 meter dari lilitan ban, namun gagal.

RAHMAN ODI

1

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments