hero
Ilustrasi Perceraian. (NET)

EDITOR : OCTOBRYAN

13 Februari 2020, 15:05 WIB

INDONESIA

Perceraian bukan hal baru, seperti halnya pernikahan yang terjadi di setiap saat, begitu pula dengan perpisahan. Menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Pengadilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung, pada tahun 2019 sudah ada 604.997 kasus permohonan perceraian yang telah diterima dari seluruh Indonesia.  

Sesuai data tersebut, terdapat dua jenis kasus perceraian yang dilaporkan pada Pengadilan Agama yaitu Cerai Gugat yang dilaporkan pihak wanita dan Cerai Talak yang dilaporkan oleh pihak pria. 

Data perceraian Badilag Mahkamah Aung tahun 2018.

Dari jumlah permohonan perceraian yang masuk (604.997 kasus), 79 % permohonan telah dikabulkan pengadilan. Berarti, lebih dari 479.618 pasangan menikah telah resmi bercerai selama 2019. 

Mengejutkannya, selama 2019 ini perkara kasus perceraian yang diajukan dari pihak istri (Cerai Gugat) totalnya mencapai 355.842 kasus. Sedangkan kasus perceraian yang diajukan dari pihak suami (Cerai Talak) mencapai 124.776 kasus.

Ilustrasi penyebab perceraian. (Lili Cantabile/pixabay)

Masih sesuai dengan data yang ada di Badan Pengadilan Agama, perkara perceraian tertinggi di seluruh Indonesia berada di Surabaya yang mencapai 136.261 kasus. Kota selanjutnya ialah Bandung sebanyak 133.981 kasus, dan yang ketiga adalah Semarang yang mencapai 112.399 kasus.

Direktur Pembinaan Tenaga Teknis Peradilan Agama Mahkamah Agung Candra Boy Seroza mengatakan penyebab tingginya angka perceraian di Indonesia adalah masalah ekonomi.

Ilustrasi perceraian

Ketidakmampuan suami dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga menjadi masalah yang cukup besar pada banyak kasus perceraian. Pada akhirnya, pihak istri pun lebih banyak yang mengambil pilihan bercerai ketika dihadapkan pada masalah tersebut.

"Di Surabaya dan Bandung cerai karena masalah ekonomi mencapai 39.988 perkara, selanjutnya adalah Semarang," ujar Chandra kepada NET.Z, Rabu (12/2/2020).

Ilustrasi Perceraian

Candra menjelaskan, tidak hanya masalah ekonomi, pihaknya juga mendata bahwa pertengkaran dan perselisihan dalam rumah tangga juga menjadi pemicu kedua retaknya bahtera rumah tangga. 

"Selanjutnya diikuti perzinaan, mabuk, meninggalkan salah satu pihak, dihukum penjara, kekerasan dalam rumah tangga," jelasnya.

(BACA JUGAMilenial Banyak Bercerai)

Candra juga menyinggung masalah poligami yang terjadi dalam urusan rumah tangga. Meski menjadi polemik di masyarakat, Mahkamah Agung mengurus ribuan berkas poligami setiap tahunnya.

"Poligami untuk tahun 2019 itu sebanyak 1132 perkara. Pada tahun 2018 ada sisa 151 perkara. Jadi total yang harus di selesaikan tahun 2019 ini ada 1283 perkara," paparnya.

ANDRE SAPUTRA

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments