hero
Aesnina Azzahra memilah sampah plastik di dekat lingkungan rumahnya. (NET/Mahrus)

EDITOR : OCTOBRYAN

31 Januari 2020, 15:50 WIB

JAWA TIMUR, INDONESIA

Namanya Aesnina Azzahra, ia adalah siswi kelas 7 di SMP Negeri 12 Wringinanom, Gresik, Jawa Timur. Meski baru berusia 12, gadis ini lantang berkirim surat kepada Perdana Menteri Australia Scott Morrison, dan Kanselir Jerman Angela Marker.

Surat itu rupanya berisi protes ekspor sampah plastik yang kerap dilakukan dua negara maju itu ke Indonesia. Kegelisahan gadis yang kerap dipanggil Nina bukan tanpa sebab. Ia menilai, sampah plastik yang terkontaminasi limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) itu membawa dampak kerusakan lingkungan dan kesehatan bagi warga.

Aesnina Azzahra diantara tumpukan sampah plastik. (NET/Mahrus)

"Saya ingin semua sampah plastik yang dibuang disini harus diambil dan diurus negaranya sendiri. Kenapa dibuang ke negara miskin, kok tega," ujar Nina saat ditemui NET.Z di Wringinanom, Gresik, Jawa Timur, Jumat (31/1/2020).

Nina melihat kondisi tumpukan sampah di Desa Bangun, Kecamatan Pungging, Mojokerto, yang berjarak sekitar 15 kilometer dari tempat tinggalnya. Sampah dari negara-negara maju ini diimpor oleh sebuah perusahaan kertas yang memakai sampah-sampah plastik itu untuk membuat pelet yang diekspor ke China.

Aesnina Azzahra memilah sampah plastik di dekat lingkungan rumahnya. (NET/Mahrus)

Sisa sampah plastik yang tidak terpakai kemudian dibuang ulang dan seringkali dijual ke perusahaan tahu untuk menjadi bahan bakar. Tentu saja, sampah plastik yang dibakar sebagai bahan bakar itu merusak lingkungan dan menyebabkan polusi udara yang mengganggu kesehatan.

"Sampahnya ini kan dibuang ke desa kecil, jadi mereka milih-milih mana yang bisa didaur ulang dan mana yang tidak bisa," papar Nina.

Surat Aesnina Azzahra yang dikirimkan ke Perdana Menteri Australia Scott Morrison, Kanselir Jerman Angela Marker, dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (NET/Mahrus) 

Aksi protes Nina terhadap ekspor sampah ini bukan pertama kali dilakukan. Pada Juli 2019, dirinya beserta 50 aktivis lingkungan hidup yang tergabung dalam Ecological Observation and Wetlands Concervation (Ecoton) menggelar aksi protes di Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya.

Dalam aksinya itu mereka membuat replika ikan dengan perut yang terisi oleh beragam jenis sampah. Nina juga mengirim surat protes berbahasa Inggris yang ditujukan ke Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Tumpukan sampah kertas yang diimpor oleh sebuah perusahaan pabrik kertas sebagai bahan baku kertas di Mojokerto, Jawa Timur. (ANTARA/Zabur Karuru)

"Saya juga sudah membikin petisi online, jumlahnya sudah 400 ribu tanda tangan," pungkasnya.

Menurut informasi yang diperoleh, kebanyakan negara maju mengekspor sampah ke negara berkembang untuk didaur ulang. China sebelumnya menerima buangan tersebut dari negara kaya. Namun, sejak Juli 2017, Beijing menerbitkan larangan ekspor.

(BACA JUGA: Jejak Sampah Impor)

Karena itu, Negeri "Kanguru" ataupun negara maju lainnya mengalihkan sampah mereka ke negara Asia Tenggara, seperti Indonesia, Malaysia, dan Filipina.

Pada 2018, Australia mengirim 52.000 ton sampah daur ulang ke Jawa Timur, kenaikan hingga 250 persen dibanding ekspor empat tahun sebelumnya.

MUHAMMAD MAHRUS

1

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments