hero
Mantan Mahapatih Chikmawan Muchsin menceritakan kehidupan di Keraton Agung Sejagat

EDITOR : OCTOBRYAN

20 Januari 2020, 17:00 WIB

KAB. PURWOREJO, INDONESIA

Klaim Kerajaan Agung Sejagat sebagai penerus Kerajaan Majapahit dan membangun Keraton di Desa Pugong Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah membuat publik geger.

Kemunculannya mulai dikenal publik, setelah mereka mengadakan acara Wilujengan dan Kirab Budaya, yang dilaksanakan dari Jumat (10/1) hingga Minggu (12/1) lalu.

Kirab Budaya Keraton Agung Sejagat di Desa Pugong Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. (NET/Widodo) 

Keraton Agung Sejagat dipimpin oleh seseorang dipanggil Sinuwun yang bernama asli Totok Santosa Hadiningrat dan teman wanitanya bergelar Kanjeng Ratu Dyah Gitarja yang memiliki nama asli Fanni Aminadia.

Berdasarkan informasi, pengikut dari Keraton Agung Sejagat ini mencapai sekitar 450 orang. Keberadaan dari keraton tersebut ditandai dengan bangunan semacam pendopo yang belum selesai pembangunannya. Di sebelah utara pendopo, ada sebuah sendang (kolam) yang keberadaannya sangat disakralkan.

Mantan Mahapatih Keraton Agung Sejagat Resi Joyodiningrat atau dikenal dengan nama Chikmawan Muchsin. (NET/Widodo)

Mantan Mahapatih Keraton Agung Sejagat Resi Joyodiningrat atau dikenal dengan nama Chikmawan Muchsin membantah bahwa kerajaan tersebut beraliran sesat. Muchsin mengatakan para pengikut yang bergabung atas dasar sukarela dan tanpa paksaan. 

"Di sini yang kita ubah adalah sifatnya mau berjuang, satu, sukarela, dan tidak dipaksa atau terpaksa, murni dari hati nurani," ujar Muchsin saat ditemui di rumahnya, Minggu (19/1/2020). 

Lencana kepangkatan Keraton Agung Sejagat. (NET/Widodo)

Sebelum diangkat menjadi Mahapatih Kerajaan, Muchsin adalah Sekretaris Desa Pugong. Bergelar Sarjana Hukum, Muchsin merupakan seorang pegawai negeri sipil. 

Namun pada 2017, pria berusia 53 tahun ini tiba-tiba mengundurkan diri karena memilih menjadi abdi di Keraton Agung Sejagat. Muchsin juga merelakan dua hektar tanahnya untuk dijadikan singgasana raja.

Lokasi Keraton Agung Sejagat di Desa Pugong Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah jadi tempat wisata dadakan bagi warga. (NET/Widodo) 

"Kami memperjuangkannya sudah beberapa tahun yang lalu tapi kami baru dikenal masyarakat sekarang. Kiprahnya yang riil itu kurang lebihnya ya satu tahunan," jelas Muchsin.

Kasus ini berawal dari munculnya kerajaan baru di Kabupaten Purworejo. Kerajaan tersebut bernama Keraton Agung Sejagat yang dipimpin Raja bernama Toto Santoso dan Permaisuri Fanni Aminadia. Keduanya diamankan polisi pada Selasa, (14/1/2020) atas dugaan penipuan.

(BACA JUGAKeraton Agung Sejagat Ternyata Buka Cabang di Klaten)

Besaran iuran dari para pengikut Keraton Agung Sejagat bervariasi, mulai Rp3 juta hingga Rp30 juta. Besaran iuran tersebut tergantung posisi yang bakal ditempati di Pemerintahan Keraton Agung Sejagat. Posisi yang dijanjikan meliputi pejabat setingkat menteri, gubernur, sampai lurah.

Pengikut Keraton Agung Sejagat juga dijanjikan bakal menerima gaji bulanan dari kerajaan. Gaji itu disebut bakal diberikan dalam mata uang dolar.

WIDODO SETIAWAN

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments