hero
Warga memotret batu prasasti di sanggar cabang Keraton Agung Sejagad, Desa Brajan, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Jumat (17/1/2020). Polda Jawa Tengah menemukan cabang Keraton Agung Sejagad Purworejo

EDITOR : OCTOBRYAN

20 Januari 2020, 13:30 WIB

KAB. KLATEN, INDONESIA

Terbongkarnya kasus dugaan penipuan pada kasus berdirinya Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah ternyata merembet ke wilayah lain yakni Kabupaten Klaten. Keberadaan Keraton ditandai dengan adanya batu prasasti.

Batu asli dari Gunung Merapi lengkap dengan ukiran naga ini diresmikan langsung oleh Sinuhun Keraton Agung Sejagat Toto Santoso, Oktober 2019 silam. 

sejumlah warga melihat Batu Prasasti peninggalan Keraton Agung Sejagat di  Dusun Saren, Desa Brajan, Kecamatan Prambanan, Jawa Tengah. (NET/Prasetyowati)

Batu berukir ini berada di pekarangan belakang rumah sekaligus sanggar seni bernama Awan Mukti milik pasangan suami-istri Sudiyo (52) dan Sri Agung (50) di Dusun Saren, Desa Brajan, Kecamatan Prambanan. Tepat di belakangnya terdapat sebuah kolam yang dikenal dengan sebutan Sendang Panguripan Jagat.

"Sebenarnya kenapa kita mau ada prasasti ini, karena desa Brajan ini kan desa wisata. Intinya kami akan jadikan destinasi untuk mengembangkan Brajan ini sendiri," kilahnya.

Sendang Panguripani Jagad di Keraton Agung Sejagat cabang Klaten. (NET/Prasetyowati)

Kepada NET.Z, Sri Agung mengaku dirinya telah ditunjuk Toto Santosa sebagai punggawa dalam keraton. Usahanya tidak sia-sia, sebanyak 28 warga menjadi pengikut keraton. 

"Gimana ya, dibilang cabang bukan kantor. Katanya konon di Prambanan itu ada kerajaan, dengan adanya prasasti ini tandanya kejayaan Majapahit yang dulu pernah jaya itu akan muncul kembali," ujar wanita yang juga berprofesi sebagai Guru Taman Kanak-kanak ini, Jumat, 17 Januari 2020.

Sisa dupa terlihat di pinggir Sendang Panguripani Jagad Keraton Agung Sejagat di di  Dusun Saren, Desa Brajan, Kecamatan Prambanan, Jawa Tengah. (NET/Prasetyowati)

Usaha perekrutan ini mulai dilakukan sejak Desember 2017. Tidak warga Desa Brajan, Sri juga mengajak warga dari desa lain untuk pun ada yang bergabung dengan kegiatan keraton tersebut. 

Seperti biasa, Sri memungut biaya administrasi hingga pembuatan kartu identitas Keraton Agung Sejagat sebesar Rp20 ribu hingga Rp25 ribu.

Pengikut Keraton Agung Sejagat di Purworejo bersiap unutk memulai kirab. (NET/Widodo)

Mereka yang diajak untuk bergabung juga diminta membayar untuk keperluan seragam sebesar Rp2 juta per orang. Lantas ada iuran dibayarkan setiap bulan dengan nominal beragam. Iuran itu dikenal dengan sebutan dana kemanusiaan. 

Dijanjikan dalam lima tahun ke depan, mereka akan mendapatkan gaji dolar hingga miliaran rupiah dari Swiss. "Mungkin kata orang kami korban ya, tapi kalo korban saya kehilangan uang, tapi saya kan dapat sesuatu," ujarnya.

Raja Keraton Agung Sejagat Toto Santosa dan Ratu Fanni Aminadia di singgasana keraton. (NET/Widodo) 

Saat menyusuri sanggar yang digunakan kegiatan Keraton Agung Sejagat Cabang Klaten itu tampak sejumlah gazebo bambu dengan beberapa hiasan lukisan. 

Meskipun pekarangan Sri cukup luas, tidak banyak warga yang mengetahui aktivitas di dalamnya. Yang diketahui warga, pernah ada kirab dan acara kumpul-kumpul beberapa kali. 

Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel (keempat kiri) menjelaskan tentang kasus Keraton Agung Sejagat di Purworejo dengan dua tersangkanya, Totok Santosa (kelima kiri) dan Fanni Aminadia (ketiga kiri), saat konferensi pers di Mapolda Jateng, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (15/1/2020). Menurut Kapolda Jateng, kedua tersangka memiliki motif untuk menarik dana dari masyarakat dengan menggunakan tipu daya melalui simbol-simbol kerajaan dengan harapan kehidupan akan berubah. (ANTARA FOTO/Immanuel Citra Senjaya)

Saptono, Kepala Desa Brajan, Kecamatan Prambanan mengatakan, di rumah Sri Agung pernah ada kirab seperti di Purworejo.

Peserta kirab berseragam dan keliling kampung membawa obor pada tengah malam. ”Membawa obor tapi tidak ada yang pakai kuda. Hanya jalan kaki,” katanya, akhir pekan lalu. 

(BACA JUGAFantasi Warga Pinggir Rel Jadi Raja Keraton Agung Sejagat)

Peserta kirab jumlahnya ratusan orang dan kebanyakan bukan warga dusunnya. Selain kirab, kegiatan di rumah Sri Agung hanya pertemuan, menyanyi, dan seperti upacara.

"Aktivitas sehari-hari gak ada apa-apa. tiap minggu ada anak tingkat PAUD dan TK banyak disitu kegiatan. Bahkan dari desa luar ke situ maunya main sama anaknya belajar," tukas Saptono.

PRASETYOWATI

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments