hero
Raja Keraton Agung Sejagat Toto Santosasaat melakukan Kirab Jumenengan di Desa Pogung Jurutengah, Purworejo, Jawa Tengah. (NET/Widodo)

EDITOR : OCTOBRYAN

17 Januari 2020, 15:20 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Keraton Agung Sejagat rupanya tidak main-main dalam membangun kerajaannya. Raja Toto Santosa dan Ratu Fanni Aminadia mempersiapkannya secara detail. Struktur oligarki kerajaan juga dibuat sedemikian rupa, di bawah kepemimpinan mereka ada 13 menteri yang membawahi gubernur, camat, hingga lurah.

Sang Raja menyebut Keraton Agung Sejagat adalah induk dari semua negara di dunia. Bahkan, kekuasaannya tidak terbatas hanya di daerah Purworejo. Toto berani mengatakan bahwa kekuasaan Keraton Agung Sejagat tersebar hingga ke seluruh penjuru dunia. 

Raja Keraton Agung Sejagat Toto Santosa dan Ratu Fanni Aminadia di singgasana keraton. (NET/Widodo) 

Tak hanya itu, keberadaan kerajaan yang memiliki pengikut sebanyak 450 orang itu juga konon telah diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). 

Sang Raja bahkan dengan lantang mendeklarasikan dirinya sebagai juru damai di dunia. Karena pengakuannya itu, Keraton Agung Sejagat menjadi perbincangan di media sosial. Merespons viralnya keberadaan kerajaan tersebut, polisi pun turun tangan untuk mengklarifikasi.

Polisi mengamankan beberapa barang bukti hasil kejahatan Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat. (NET/Widodo)

Tidak butuh waktu lama bagi polisi untuk mencokok Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat. Dalam waktu singkat, polisi juga menetapkan keduanya sebagai tersangka dan menjeratnya dengan Pasal 14 UU RI No 1 Tahun 1946 tentang menyiarkan berita bohong dan menerbitkan keonaran serta Pasal 378 KUHP tentang penipuan. 

"Kami sudah menemukan bukti permulaan yang cukup untuk meningkatkan ke tahap penyidikan kepada tersangka sejak tanggal 14 Januari kemarin," ujar Kapolda Jateng Irjen Rycko Amelza Dahniel melalui keterangan tertulis kepada NET.Z, Rabu (15/1/2020) lalu.

Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel (keempat kiri) menjelaskan tentang kasus Keraton Agung Sejagat di Purworejo dengan dua tersangkanya, Totok Santosa (kelima kiri) dan Fanni Aminadia (ketiga kiri), saat konferensi pers di Mapolda Jateng, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (15/1/2020). Menurut Kapolda Jateng, kedua tersangka memiliki motif untuk menarik dana dari masyarakat dengan menggunakan tipu daya melalui simbol-simbol kerajaan dengan harapan kehidupan akan berubah. (ANTARA FOTO/Immanuel Citra Senjaya)

Namun segala tindak-tanduk Toto sebagai raja rupanya berbanding terbalik dengan kehidupan dia sebenarnya. Toto merupakan warga Kampung Bandan, Jakarta Utara. Ia tercatat tinggal di Jalan Mangga Dua VIII RT 012/RW 005 Kelurahan Ancol, Pademangan, Jakarta Utara.

Untuk mencapai lokasi, NET.Z harus berjuang melewati gang kecil di permukiman padat penduduk. Setibanya di lokasi, bangunan yang pernah dihuni Toto sudah tidak ada. Hangus terbakar setelah diamuk si jago merah pada tahun 2016.

Seorang warga menunjuk bekas rumah kontrakan Toto Santosa di Kampung Bandan, Jakarta Utara. (NET/Andri)

Tempat itu kini berubah lahan kosong dipadati tumbuhan liar. Persis bersebelahan dengan rel kereta antara Stasiun Pademangan dengan Stasiun Kampung Bandan.

"Benar, dia pernah tinggal di sini, Dia ngontrak di bedeng kayu semipermanen," kata Lurah Ancol Rusmin di Kampung Bandan, Ancol, Rabu (15/1/2020) malam. 

Stasiun Kampung Bandan, Jakarta Utara. (NET/Andri)

Sementara itu, Ketua RT 012/RW 005 Kelurahan Ancol Abdul Manaf mengatakan, Toto tinggal di sana sejak 2011.

"Terakhir saya ketemu sama dia tahun 2015. Dia tinggal sendiri di sini. Beberapa kali minta keterangan domisili belum saya kasih untuk urus ganti Kartu Keluarga," ujar Manaf.

Suasana di sekitar bekas rumah kontrakan Raja Keraton Agung Sejagat Toto Santosa. (NET/Andri)

Manaf menjelaskan, selama menjadi warganya, Toto tidak terlalu berinteraksi dengan tetangga lain. Toto hanya pernah bercerita bahwa ia memiliki sebuah usaha di wilayah Angke, Jakarta Barat.

"Orangnya ya gitu, jarang bergaul dengan warga lain," tambahnya

Rumah kontrakan Toto Santosa Raja Keraton Agung Sejagat di Jalan Berjo-Pare, RT 05 RW 04, Desa Sidoluhur, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman ditutup paksa warga. (NET/Sigit)

Setelah kontrakannya terbakar tahun 2016, rupanya Toto hijrah ke Yogyakarta. Di sana, pria 42 tahun tersebut mendirikan organisasi Jogja Development Committe (Jogja DEC).

Organisasi itu memungut uang pendaftaran dan iuran dari warga yang ingin menjadi anggota organisasi dengan biaya sekitar Rp 50 ribu. Jika sudah menjadi anggota, Toto menjanjikan imbalan berupa gaji sebesar US$ 100-200 per bulan yang diambilkan dari simpanan sebuah bank di Swiss.

Lokasi kontrakan sekaligus usaha angkringan milik  Toto Santosa Raja Keraton Agung Sejagat di Jalan Berjo-Pare, RT 05 RW 04, Desa Sidoluhur, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman. (NET/Sigit)

Benar saja, janji dari Totok yang saat itu mengaku sebagai Dewan Wali Amanat Panitia Pembangunan Dunia Wilayah Nusantara Jogja DEC itu tak pernah terwujud hingga satu per satu anggota organisasi itu mundur.

(BACA JUGA: Sejarah Sesat Kerajaan"Kaleng-kaleng" Keraton Agung Sejagat)

Jogja Dec lantas tenggelam dengan sendirinya dan tak terdengar lagi kabarnya sampai belakangan munculnya Keraton Agung Sejagat yang memunculkan nama Toto lagi dengan modus serupa untuk mengelabuhi masyarakat.

ANDRI PRASETYO

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments