hero
Pengunjung melihat Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) jenis Medium Altitude Long Endurance (MALE) saat pengenalan perdana di hanggar PT Dirgantara Indonesia (Persero), Bandung, Jawa Barat, Senin (30/12/201

EDITOR : OCTOBRYAN

15 Januari 2020, 15:05 WIB

INDONESIA

Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) atau drone buatan PT Dirgantara Indonesia siap mengudara. Rencananya, purnarupa drone yang dinamakan Elang Hitam itu akan uji terbang pada awal 2020.

Berjenis Medium Altitude Long Endurance (MALE), drone tersebut akan dioperasikan oleh TNI khususnya TNI Angkatan Udara. Drone ini rencananya akan dipersenjatai rudal dan mampu terbang selama 24 jam nonstop dengan ketinggian jelajah hingga 23.000 kaki.

Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) jenis Medium Altitude Long Endurance (MALE) diperlihatkan saat pengenalan perdana di hanggar PT Dirgantara Indonesia (Persero), Bandung, Jawa Barat, Senin (30/12/2019). Prototipe Puna Male pertama ini mampu terbang selama 24-30 jam  yang diperuntukan mengawasi wilayah NKRI dari ancaman daerah perbatasan, terorisme, penyelundupan, pembajakan serta pencurian sumber daya alam. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Dikutip dari BPPT, pemerintah melalui Balitbang Kementerian Pertahanan sejak 2015 dengan melibatkan TNI, Ditjen Pothan Kemhan, BPPT, ITB, dan PT Dirgantara Indonesia telah melakukan inisiasi pengembangan drone tersebut.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) ikut bergabung pada tahun 2019. Setelahnya tahap manufacturing drone yang diawali oleh proses design structure, perhitungan finite element method, pembuatan gambar 3D, dan detail gambar 2D yang dikerjakan oleh engineer BPPT dan disupervisi oleh PT Dirgantara Indonesia.

Petugas memeriksa Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) jenis Medium Altitude Long Endurance (MALE) sebelum diperlihatkan untuk pengenalan perdana di PT Dirgantara Indonesia (Persero), Bandung, Jawa Barat, Senin (30/12/2019). Prototipe Puna Male pertama ini mampu terbang selama 24-30 jam yang diperuntukan mengawasi wilayah NKRI dari ancaman daerah perbatasan, terorisme, penyelundupan, pembajakan serta pencurian sumber daya alam. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Pada tahun yang sama, BPPT juga telah melakukan pengadaan Flight Control System yang diproduksi di Spanyol untuk disematkan dan diintegrasikan dalam sistem penerbangan Elang Hitam nantinya.

"Pengintegrasian sistem senjata pada prototype PUNA MALE ini juga akan dilakukan mulai tahun 2020 dan diharapkan pula mendapatkan sertifikasi tipe produk militer pada tahun 2023,"ujar Kepala BPPT Hammam Riza.

Petugas memeriksa Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) jenis Medium Altitude Long Endurance (MALE) sebelum diperlihatkan untuk pengenalan perdana di hanggar PT Dirgantara Indonesia (Persero), Bandung, Jawa Barat, Senin (30/12/2019). Prototipe Puna Male pertama ini mampu terbang selama 24-30 jam yang diperuntukan mengawasi wilayah NKRI dari ancaman daerah perbatasan, terorisme, penyelundupan, pembajakan serta pencurian sumber daya alam. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Mirip dengan drone canggih buatan dunia, Elang Hitam didesain secanggih mungkin untuk bisa membantu mengawasi keamanan dari udara. Oleh karena itu, Elang Hitam bisa take off dan landing dengan landasan hanya sekitar 700 meter.

Drone ini memiliki kemampuan terbang hingga ketinggian 23.000 kaki dengan kecepatan maksimum 235 kilometer per jam dan lama terbang sekitar 30 jam.

Pengunjung melihat Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) jenis Medium Altitude Long Endurance (MALE) saat pengenalan perdana di hanggar PT Dirgantara Indonesia (Persero), Bandung, Jawa Barat, Senin (30/12/2019). Prototipe Puna Male pertama ini mampu terbang selama 24-30 jam yang diperuntukan mengawasi wilayah NKRI dari ancaman daerah perbatasan, terorisme, penyelundupan, pembajakan serta pencurian sumber daya alam. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Memiliki panjang 8,3 meter dan bentang sayap 16 meter, Elang Hitam dibuat sesuai dengan tugasnya, yakni membantu memantau keamanan dari udara.

Pesawat nirawak ini diharapkan dapat membantu menjaga kedaulatan NKRI dari udara. Mengingat kebutuhan pengawasan di udara terus bertambah seiring dengan meningkatnya ancaman daerah perbatasan, terorisme, penyelundupan, pembajakan, serta pencurian sumber daya alam seperti ilegal logging dan ilegal fishing.

(BACA JUGA: Drone SAR Pertama di Dunia Diuji Coba di Inggris)

Kehadiran Elang Hitam juga untuk mendukung kemandirian alat utama sistem pertahanan dalam negeri. berdasarkan kajian awal BPPT, sebanyak 33 unit drone akan ditempatkan di 11 pangkalan, atau tiga unit per pangkalan.

TIM LIPUTAN

1

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments