hero
Komisioner KPU Wahyu Setiawan (kedua kiri) mengenakan rompi tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (10/1/2020) dini hari. (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

EDITOR : REZA PAHLEVI

10 Januari 2020, 13:17 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Komisioner KPU RI Wahyu Setiawan yang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus suap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), harus menghadapi kasus pidananya seorang diri. Pihak KPU RI memastikan tidak akan memberikan bantuan hukum kepada Wahyu.

Menurut Ketua KPU RI Arief Budiman, kasus yang menjerat Wahyu adalah urusan pribadi dan tidak berhubungan dengan kerja atau kebijakan KPU. Namun sebaliknya, jika berhubungan dengan kebijakan yang KPU keluarkan dan dipersoalkan. Maka akan diberikan bantuan hukum.

“Kasus ini kan bukan karena KPU memerintahkan. Dia melakukan sesuatu tapi ini dilakukan sendiri. (KPU) Tidak bisa berikan bantuan hukum,” ujar Arief saat ditemui di KPK, Kamis 10 Januari 2020.

Dua Ruangan Komisioner KPU Disegel

Sementara itu,  pascaoperasi tangkap tangan, KPK telah menyegel ruang kerja Wahyu di Gedung sementara KPU RI, Jalan Imam Bonjol, Menteng,  Jakarta Pusat.  Selain itu. Ruang kerja Wahyu di rumah dinasnya di Jalan Siaga Raya, Pejaten, Jakartas Selatan, turut ditempel stiker dalam pengawasan KPK.

Petugas keamanan berjalan di samping ruang kerja Komisioner KPU Wahyu Setiawan yang disegel KPK di Jakarta, Kamis (9/1/2020). Penyegelan terhadap ruang kerja Wahyu Setiawan dilakukan setelah KPK menangkap tangan Komisioner KPU tersebut bersama tiga orang lainnya pada Rabu (8/1/2020). (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

Penyegalan dilakukan KPK untuk menjaga dan mengamankan barang bukti agar tidak terjadi perubahan. Meski begitu, saat penyegelan petugas belum membawa barang atau dokumen yang dibutuhkan.

“Mereka (KPK) menyampaikan, nanti kalau lanjut ketahap penyidikan, kalau memang dibutuhkan dokumen dokumen, baru mereka akan melakukan pengambilan dokumen atau penyimpanan dokumen ke tempat sebagaimana yang diterangkan oleh Wahyu,” jelas Arief.

KPK telah menetapkan Wahyu Setiawan sebagai tersangka kasus penyuapan terkait proses penetapan pergantian antar waktu (PAW) Anggota DPR-RI periode 2019-2024. Selain Wahyu, turut ditetapkan tersangka terhadap tiga orang lainnya, yakni Agustiani Tio Fridelina sebagai orang kepercayaan Wahyu Setiawan, dan mantan Anggota Badan Pengawas Pemilu. Kemudian, Harun Masiku sebagai calon anggota legislatif (caleg) dari PDIP, dan Saeful sebagai swasta.

Wahyu diduga menerima Rp 600 juta dari permintaan Rp 900 juta untuk membantu penetapan Harun sebagai anggota DPR-RI melalui mekanisme PAW. Pemberian uang suap dilakukan dalam dua kali proses.

Pertama pada pertengahan Desember 2019, sebanyak Rp 400 juta melalui Agustiani Tio, Doni, dan Saeful. Dari penyerahan itu, Wahyu menerima Rp 200 juta yang diberikan Agustiani Tia disalah satu pusat perbelanjan di Jakarta Selatan.

Kemudian akhir Desember 2019, Harun memberikan uang Rp 850 juta ke Saeful lewat salah satu staf DPP PDIP. Uang tersebut turut dibagi ke Doni sebanyak Rp 150 juta dan Agustiani sejumlah  Rp 450 juta.

Dari 450 juta Rupiah yang diterima Agustiani, 400 juta rupiah merupakan suap ditujukan ke Wahyu Setiawan. Pada Selasa 08 Januari 2020, Wahyu disebut akan meminta uang tersebut. Namun keduanya, dicokok KPK dalam operasi tangkap tangan.

RADIKA KURNIAWAN SUBEKTI

1

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments