hero
KPK segel ruang kerja Komisioner KPU Wahyu Setiawan. (NET/Radika)

EDITOR : OCTOBRYAN

9 Januari 2020, 21:00 WIB

INDONESIA

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan sebagai tersangka kasus penyuapan terkait proses penetapan pergantian antar waktu Anggota DPR-RI.

"W-S-E kami tetapkan sebagai tersangka bersama tiga orang lainnya," ujar Wakil Ketua KPK Lili Pantauli Siregar di gedung KPK, Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (9/1/2020).

Komisioner KPU Wahyu Setiawan. (KPU.go.id)

Tiga orang yang dimaksud Lili adalah Agustiani Tio Fridelina sebagai orang kepercayaan Wahyu Setiawan dan juga mantan Anggota Badan Pengawas Pemilu, Harun Masiku sebagai calon anggota legislatif (caleg) dari PDIP, dan Saeful sebagai swasta.

"Untuk membantu penetapan Harun sebagai anggota DPR-RI pengganti antar waktu, Wahyu
meminta dana operasional Rp900 juta," tambah Lili.

Lili mengatakan kasus ini bermula ketika salah satu pengurus DPP PDIP memerintahkan advokat bernama Doni mengajukan gugatan uji materi Pasal 54 Peraturan KPU Nomor 3 Tahun 2019 Tentang Pemungutan dan Penghitungan Suara.

Ketua KPU Arief Budiman (kedua kanan) beserta Komisioner Ilham Saputra (kiri), Viryan Azis (ketiga kiri) dan Pramono Ubaid Tanthowi (ketiga kanan) tiba di gedung KPK, Jakarta, Kamis (9/1/2020). Kedatangan Komisioner KPU tersebut untuk menggelar konferensi pers bersama KPK terkait penangkapan Komisioner KPU Wahyu Setiawan dalam kasus dugaan penerimaan suap. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak)

Pengajuan gugatan materi ini terkait dengan meninggalnya Caleg Terpilih dari PDIP atas nama Nazarudin Kiemas pada Maret 2019.

Gugatan ini kemudian dikabulkan Mahkamah Agung pada 19 Juli 2019. MA menetapkan partai adalah penentu suara dan pengganti antar waktu.

Penetapan MA ini kemudian menjadi dasar PDIP berkirim surat kepada KPU untuk menetapkan Harun Masiku sebagai pengganti caleg yang meninggal tersebut.

Petugas keamanan berjalan di samping ruang kerja Komisioner KPU Wahyu Setiawan yang disegel KPK di Jakarta, Kamis (9/1/2020). Penyegelan terhadap ruang kerja Wahyu Setiawan dilakukan setelah KPK menangkap tangan Komisioner KPU tersebut bersama tiga orang lainnya pada Rabu (8/1/2020). (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

Namun, Tanggal 31 Agustus 2019, KPU menggelar rapat pleno dan menetapkan Riezky Aprilia sebagai pengganti Almarhum Nazarudin Kiemas.

Dua pekan kemudian atau tanggal 13 September 2019, PDIP kembali mengajukan permohonan fatwa MA dan pada 23 September mengirimkan surat berisi penetapan caleg.

Saeful menghubungi Agustiani Tio dan melakukan lobi untuk mengabulkan Harun Masiku sebagai PAW.

Petugas keamanan berjalan di samping ruang kerja Komisioner KPU Wahyu Setiawan yang disegel KPK di Jakarta, Kamis (9/1/2020). Penyegelan terhadap ruang kerja Wahyu Setiawan dilakukan setelah KPK menangkap tangan Komisioner KPU tersebut bersama tiga orang lainnya pada Rabu (8/1/2020). (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

Selanjutnya, Agustiani Tio mengirimkan dokumen dan fatwa MA yang didapat dari Saeful, kepada Wahyu Setiawan untuk membantu proses penetapan Harun Masiku. Dan Wahyu Setiawan menyanggupi membantu dengan membalas: "Siap, mainkan!"

Untuk merealisasikan hal tersebut dilakukan dua kali proses pemberian uang pada pertengahan Desember 2019 senilai Rp 400 juta dari salah satu sumber dana (sedang didalami KPK) melalui melalui Agustiani Tio, Doni, dan Saeful dan Wahyu Setiawan menerima uang dari dari Agustiani Tio sebesar Rp 200 juta di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan.

Petugas keamanan menjaga kompleks rumah dinas Komisioner Komisi Pemilihan Umum ( KPU) di Jalan Siaga Raya, Pejaten, Jakarta, Kamis (9/1/2020). Selain menyegel ruang kerja di gedung KPU, KPK juga menyegel rumah dinas komisioner Wahyu Setiawan yang terjaring operasi tangkap tangan yang terletak di kawasan Pejaten tersebut. (ANTARA FOTO/Reno Esnir)

Pemberian uang berlanjut pada akhir Desember 2019 ketika Harun Masiku memberikan uang pada Saeful sebesar Rp 850 juta melalui salah seorang staf di DPP PDIP. Saeful kemudian memberikan Rp 450 juta kepada Agustiani Tio, dimana Rp 400 juta merupakan suap yang ditujukan kepada Wahyu Setiawan.

Pada Selasa, 7 Januari 2020 berdasarkan hasil rapat Pleno, KPU menolak permohonan PDIP untuk menetapkan HAR sebagai PAW dan tetap pada keputusan awal. 

Petugas keamanan menjaga kompleks rumah dinas Komisioner Komisi Pemilihan Umum ( KPU) di Jalan Siaga Raya, Pejaten, Jakarta, Kamis (9/1/2020). Selain menyegel ruang kerja di gedung KPU, KPK juga menyegel rumah dinas komisioner Wahyu Setiawan yang terjaring operasi tangkap tangan yang terletak di kawasan Pejaten tersebut. (ANTARA FOTO/Reno Esnir)

Setelah gagal di Rapat Pleno KPU, Wahyu Setiawan kemudian menghubungi Doni menyampaikan telah menerima uang dan akan mengupayakan kembali agar Harun Masiku menjadi PAW.

Pada Rabu, (8/1/2020), Wahyu Setiawan meminta sebagian uangnya yang dikelola oleh Agustiani Tio. Setelah hal ini terjadi, tim KPK melakukan OTT. Tim menemukan dan mengamankan barang bukti uang Rp 400 juta yang berada di tangan ATF dalam bentuk Dollar Singapura.

TIM LIPUTAN

2

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments