hero
Sejumlah mobil dan akses jalan hancur pasca banjir yang merendam kawasan Pondok Gede Permai, Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (2/1/2020). (ANTARA FOTO/Risky Andrianto)

EDITOR : OCTOBRYAN

3 Januari 2020, 13:30 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut hingga Kamis 2 Desember 2020 malam, korban meninggal akibat banjir jabodetabek dan Banten sudah mencapai 43 orang. 

Korban terbanyak berasal dari Kabupaten Bogor yaitu 16 jiwa, Kabupaten Lebak 8 jiwa, Jakarta Timur 7 jiwa, Kota Depok 3 jiwa, Kota Bekasi 3 jiwa, Jakarta Barat 1 jiwa, Jakarta Pusat 1 jiwa, Kota Tanggerang 1 jiwa, Kota Tanggerang Selatan 1 jiwa, dan Kabupaten Bekasi 1 jiwa.

Selain karena terseret arus banjir, sebagian korban meninggal karena tertimbun tanah longsor, tersengat listrik, hingga hipotermia.

Derasnya air yang memasuki permukiman warga memaksa 113.648 kepala keluarga atau 409.840 orang di wilayah Jabodetabek dan Banten mengungsi. 

Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Agus Wibowo mengatakan, banjir yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya terjadi akibat volume hujan yang tinggi. Jebolnya tanggul dan sedimentasi sungai, tambahnya, turut memperparah dampak banjir. 

Rekapitulasi data dampak banjir dan longsor (Sumber BNPB)

"Kami akan terus berupaya melakukan evakuasi dan penanganan pasca banjir," ujarnya melalui keterangan pesan singkat kepada NETZ, Jumat 3 Desember 2019.

Sementara itu, Kepala BNPB Doni Munardo menyerukan kepada para pemimpin daerah untuk bersikap tegas mengutamakan keselamatan warga dengan mendesak mereka untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman, jika perlu. 

Sebaran titik banjir di Jabodetabek dan Banten. (BNPB)

“Sangat diharapkan ketegasan para pemimpin daerah untuk mengingatkan masyarakat. Harta penting, tetapi nyawa lebih penting,” ujar Doni menyikapi masih banyaknya warga yang memilih tinggal dan bertahan di rumah mereka untuk menjaga rumah dan harta benda, dibanding mengungsi, meskipun terendam banjir.

Belajar dari pengalaman di Konawe Utara, Bupati dan Kepala Dinas, Camat serta Kepala Desa memaksa penduduknya untuk evakuasi dan mengungsi sementara sehingga ketika air hujan dan air bah datang, rumah mereka hanyut terbawa arus namun korban tidak ada. 

(BACA JUGADua Sejoli Menikah di Tengah Banjir Ibu Kota)

Doni menghimbau bagi masyarakat yang berada di tempat relatif rendah atau dulu pernah menjadi kasawan penimbunan harus terus diwaspadai karena air akan kembali mencari tempat semula. Untuk yang tinggal dekat daerah aliran sungai diusahakan jangan ada di rumah dan mengikuti arahan tim evakuasi untuk mengungsi di posko yang telah tersedia.

TIM LIPUTAN

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments